Fasilitas Perlintasan KA Jambean Rampung, BTP Surabaya Minta Warga Tetap Waspada

Anggota DPRD Jawa Timur, Khusnul Arif, menegaskan pentingnya mengedepankan keselamatan saat melintas di perlintasan sebidang.

26 May 2026 - 08:37
Fasilitas Perlintasan KA Jambean Rampung, BTP Surabaya Minta Warga Tetap Waspada
Anggota DPRD Jawa Timur Khusnul Arif saat memakaikan rompi keselamatan ke penjaga perlintasan sebidang (Foto : Putra/SJP)

KEDIRI, SJP — Keselamatan saat melintasi perlintasan sebidang kereta api tidak hanya membutuhkan kerja sama berbagai pihak, tetapi juga kesadaran dan kewaspadaan dari para pengguna jalan. Selama ini, PT KAI terus menggaungkan imbauan "Berteman" (Berhenti, tengok kanan-kiri, aman, baru jalan) sebagai upaya menekan angka kecelakaan, khususnya di perlintasan tidak terjaga.

Anggota DPRD Jawa Timur, Khusnul Arif, menegaskan pentingnya mengedepankan keselamatan saat melintas di perlintasan sebidang. Tokoh yang akrab disapa Mas Pipin ini menambahkan, berhenti sejenak tidak akan mengganggu rencana perjalanan. Justru, langkah sederhana tersebut dapat mencegah risiko kecelakaan.

"Masyarakat pengguna jalan wajib mengedepankan keselamatan. (Himbauan Berteman KAI) Ini harus tertanam kepada seluruh masyarakat pengguna jalan, khususnya yang melintasi perlintasan sebidang. Karena berhenti satu menit bisa menyelamatkan nyawa," ujar Anggota DPRD Jawa Timur, Khusnul Arif, saat ditemui di pos penjagaan perlintasan sebidang wilayah Desa Jambean, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri, Senin (25/05/2026).

Terkait keberadaan pos penjagaan di perlintasan sebidang, khususnya di wilayah perdesaan yang cenderung sepi, Wakil Ketua Komisi D DPRD Jawa Timur itu mendorong adanya kolaborasi antara pemerintah daerah, pemerintah desa, pihak swasta, dan masyarakat.

"Penjaga atau relawan ada biaya operasional yang harus dikeluarkan oleh pemerintah daerah kabupaten. Nah, tidak mudah, karena ini bicara, tidak hanya bicara honor, tapi juga segala sesuatu yang melekat pada personel. Pemerintah desa ini bisa bekerjasama, berkolaborasi dengan perusahaan swasta di sekitaran lokasi. Untuk menyalurkan CSR-nya dalam bentuk support, honorarium bagi relawan," jelasnya.

Mas Pipin juga menyebut, idealnya satu pos penjagaan diisi oleh tiga syaf (shift), masing-masing selama delapan jam dengan tiga petugas. Dari skema tersebut, dua syaf dapat diakomodasi oleh pemerintah daerah, sementara satu syaf lainnya bisa didukung melalui kolaborasi dengan perusahaan di sekitar lokasi.

"Bisa dari perusahaan swasta yang ada di sekitaran lokasi untuk menyalurkan CSR-nya. Ini akan ringan. Karena kalau semuanya di handle oleh pemerintah daerah, dengan pertambahan titik pasti ada anggaran yang perlu melalui proses yang cukup panjang," ungkapnya.

Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah membangun pos penjagaan perlintasan sebidang di Desa Jambean, Kabupaten Kediri. Sebelumnya, fasilitas serupa juga telah dibangun di Desa Seketi dan Nyawangan.

Pemprov Jatim mengalokasikan anggaran sekitar Rp400 juta untuk setiap Jalan Perlintasan Langsung (JPL). Anggaran tersebut mencakup pembangunan fisik palang pintu, mesin penggerak otomatis, bangunan pos penjagaan, instalasi listrik, hingga penyediaan akses air bersih bagi petugas di lapangan.

"Upaya mitigasi pencegahan supaya masyarakat terhindar dari kecelakaan ini sangat dibutuhkan. Kami hadir tahun ini, alhamdulillah, bisa direalisasikan di Desa Jambean," ujar Kepala Bidang Perkeretaapian dan Jaringan Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur, Joko Pitoyo.

Sementara itu, Kepala Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Kelas I Surabaya (DJKA Jawa Timur), Denny Michels Adlan, kembali menekankan pentingnya kesadaran pengguna jalan dalam menjaga keselamatan.

"Walaupun alat sudah ada, ataupun juga mungkin beroperasi dengan baik, tapi kami mengharapkan masyarakat pun juga taat terhadap aturan, rambu, dan juga kesadaran untuk melihat tengok kanan-kiri sebelum dia melintas. Memastikan, double protection," tegasnya.

Menurutnya, keselamatan tidak hanya berkaitan dengan diri sendiri, tetapi juga menyangkut banyak pihak, termasuk penumpang kereta api dan kelancaran perjalanan kereta.

"Menjaga keselamatan dari yang melintas, kemudian menjaga keselamatan dari kereta apinya itu sendiri juga karena membawa penumpang, terus untuk memastikan perjalanan kereta api itu tidak terganggu," pungkasnya. (*) 

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow