Ekonomi Dunia Tak Normal, Pakar UK Petra Sebut Emas Jadi Cermin Kecemasan Global

Dunia memasuki fase ekonomi “tidak normal”, harga emas melonjak bukan karena pasar sehat, melainkan karena investor kehilangan kepercayaan dan mencari perlindungan di tengah ketidakpastian global.

04 Feb 2026 - 20:39
Ekonomi Dunia Tak Normal, Pakar UK Petra Sebut Emas Jadi Cermin Kecemasan Global
Dr. Dra. Nanik Linawati, MM., pakar ekonomi UK Petra Surabaya (Dok. UK Petra for SJP)

SURABAYA, SJP – Harga emas yang terus merangkak naik hingga menembus Rp 3,1 juta per gram bukan sekadar kabar soal logam mulia. Di balik kilau emas, tersimpan potret dunia yang sedang bergerak dalam fase ekonomi “tidak normal”, sebuah kondisi ketika hukum pasar tak lagi berjalan sebagaimana mestinya.

Fenomena itu disoroti Pakar Ekonomi Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya, Nanik Linawati, Menurutnya, lonjakan harga emas sepanjang 2025 hingga awal 2026 tidak bisa dibaca sebagai fluktuasi biasa, melainkan sinyal kuat kegelisahan global. 

Investor, kata Nanik, tengah kehilangan pegangan di tengah ekonomi yang makin abstrak dan penuh ketidakpastian. Dalam kondisi normal, harga emas bergerak mengikuti keseimbangan permintaan dan penawaran. Namun saat ini, pola tersebut mulai bergeser.

Dilatarbelakangi oleh kondisi itulah mengapa Nanik menyebut dunia sedang berada dalam fase ekonomi yang “tidak normal” atau "tidak lazim", dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik, kebijakan tarif tinggi antarnegara, serta tensi politik global yang kian memanas.

"Dunia sedang berada dalam kondisi ekonomi yang tidak normal. Ketika ketidakpastian mendominasi, harga emas tidak lagi bergerak dengan pola yang biasa kita kenal," ucap Nanik, Rabu (4/2/2026).

Ia menjelaskan, dalam jangka pendek harga emas memang berpotensi mengalami koreksi. Penurunan ini dipicu aksi ambil untung sebagian investor seiring inflasi yang mulai terkendali dan sentimen pasar yang tampak membaik. Namun koreksi tersebut tidak mengubah arah besar pergerakan emas.

"Dalam jangka pendek, penurunan itu wajar karena ada profit taking. Tapi untuk jangka panjang, kecenderungannya tetap naik," katanya.

Menurut dosen Program Finance and Investment SBM UK Petra itu, ketegangan politik global, perlambatan ekonomi dunia, hingga persoalan demografi internasional menjadi fondasi kuat yang menjaga emas tetap diminati. Di tengah ketidakpastian tersebut, emas tampil sebagai aset yang tak bisa diciptakan atau dimanipulasi oleh kebijakan apa pun.

"Emas itu langka. Ia tidak bisa muncul secara tiba-tiba. Berbeda dengan saham atau kripto yang suplainya bisa diatur atau diciptakan," ujar Nanik.

Kelangkaan alami emas, yang terikat pada hukum alam dan proses eksplorasi panjang, menjadikannya tempat berlindung saat instrumen investasi lain kehilangan arah. Namun, Nanik mengingatkan, meroketnya harga emas justru harus dibaca sebagai tanda bahaya.

"Kenaikan harga emas yang tidak wajar ini adalah sinyal merah. Ini bukan lagi soal permintaan perhiasan, tapi krisis kepercayaan investor yang mulai meninggalkan aset produktif demi menyelamatkan kekayaan," tegasnya.

Ia menilai, selama ego kekuasaan, konflik geopolitik, dan pergeseran aliansi global terus berlangsung, emas akan terus menjadi sandaran utama modal dunia, sekaligus cermin rapuhnya fondasi ekonomi global.

Nanik menyebut kondisi ekonomi saat ini sebagai “benang kusut” yang sulit diurai. Meski emas menjadi pelindung nilai di tengah badai, ia menekankan bahwa ketenangan dan kebijaksanaan investor tetap menjadi kunci menjaga kewajaran harga dan stabilitas nilai kekayaan.

"Di dunia yang semakin tidak menentu, emas memang jadi sandaran nyata. Tapi stabilitas sejati ada pada manusia yang mampu bertindak tenang dan bijak," pungkasnya. (*)

Editor: Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow