Dugaan Keracunan MBG Siswa SMK Sore Tulungagung, SPPG Moyoketen 1 Minta Maaf

Sebagai bentuk tanggung jawab, SPPG Moyoketen 1 tetap melakukan evaluasi internal secara menyeluruh tanpa menunggu hasil uji laboratorium. Pengetatan pengawasan operasional dapur dan perbaikan tata kelola menjadi langkah awal yang telah diterapkan.

23 Jan 2026 - 22:04
Dugaan Keracunan MBG Siswa SMK Sore Tulungagung, SPPG Moyoketen 1 Minta Maaf
Kepala SPPG Moyoketen 1, Arinia (kiri) saat menyampaikan klarifikasi. (Beny/SJP)

TULUNGAGUNG, SJP - Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Moyoketen 1 menyampaikan klarifikasi resmi terkait insiden gangguan kesehatan yang dialami sejumlah siswa SMK Sore Tulungagung, yang diduga berkaitan dengan konsumsi Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kepala SPPG Moyoketen 1, Arinia, menyampaikan keprihatinan mendalam sekaligus permohonan maaf atas kejadian tersebut. Ia menegaskan bahwa kesehatan dan keselamatan penerima manfaat MBG merupakan prioritas utama pihaknya.

“Kami sangat prihatin dan memohon maaf atas peristiwa yang seharusnya tidak terjadi ini. Anak-anak sampai harus mengalami gangguan kesehatan, dan itu menjadi perhatian serius bagi kami,” ujar Arinia, Jumat (23/1/2026).

Arinia menjelaskan, hingga saat ini penyebab pasti gangguan kesehatan tersebut masih dalam proses penyelidikan. Sampel makanan MBG telah diamankan dan dibawa oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung untuk dilakukan uji laboratorium di Surabaya.

“Saat ini hasil uji laboratorium belum keluar. Kami menghormati proses yang sedang berjalan dan menunggu hasil resmi dari Dinas Kesehatan,” jelasnya.

Ia menegaskan, sebelum adanya hasil uji laboratorium, belum dapat disimpulkan bahwa sumber gangguan kesehatan berasal dari makanan MBG. Menurutnya, terdapat kemungkinan faktor lain di lingkungan sekolah, termasuk konsumsi makanan atau jajanan dari luar program MBG.

SPPG Moyoketen 1 juga menegaskan bahwa seluruh proses pengolahan dan pendistribusian makanan MBG telah dilaksanakan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) Badan Gizi Nasional (BGN), mulai dari penerimaan bahan baku, penyimpanan, pengolahan, pemorsian, pengemasan, hingga pendistribusian ke sekolah.

“Seluruh tahapan sudah mengikuti SOP yang ditetapkan BGN dan diawasi oleh tenaga ahli gizi, juru masak berpengalaman, kepala dapur, serta relawan yang telah dibekali pelatihan,” katanya.

Meski demikian, sebagai bentuk tanggung jawab, SPPG Moyoketen 1 tetap melakukan evaluasi internal secara menyeluruh tanpa menunggu hasil uji laboratorium. Pengetatan pengawasan operasional dapur dan perbaikan tata kelola menjadi langkah awal yang telah diterapkan.

“Kami melakukan evaluasi dan pengetatan pengawasan seluruh aktivitas dapur agar benar-benar sesuai SOP,” ujar Arinia.

Sebagai bentuk empati terhadap para korban, pihak SPPG mengaku telah mengunjungi siswa yang terdampak di Puskesmas, serta terus berkoordinasi dengan pihak sekolah, Dinas Kesehatan, dan aparat terkait, dalam proses pengambilan sampel dan investigasi.

Namun demikian, pihak SPPG menyayangkan tidak tersedianya sampel muntahan siswa saat penanganan awal. Padahal sampel tersebut dianggap merupakan bukti penting untuk menelusuri sumber bakteri atau kemungkinan kandungan kimia penyebab gangguan kesehatan.

"Yang kami sayangkan yaitu kami tidak menyimpan hasil muntahan dari siswa yang diduga mengalami keracunan itu, karena sesungguhnya ya memang itu yang harusnya diuji lab karena yang lebih akurat hasilnya hasil muntahan itu,” jelas Arinia.

Sebagai langkah lanjutan, operasional SPPG Moyoketen 1 untuk sementara waktu dihentikan hingga hasil uji laboratorium keluar dan menunggu keputusan resmi dari Badan Gizi Nasional.

Arinia juga menambahkan bahwa SPPG Moyoketen 1 melibatkan 47 relawan selain tenaga profesional. Keberlangsungan operasional tidak hanya berkaitan dengan layanan gizi, tetapi juga berdampak pada keberlanjutan kerja para relawan yang selama ini terlibat aktif dalam program sosial tersebut.

"Kami berharap untuk seluruh pihak tidak memberikan asumsi-asumsi liar terkait adanya insiden ini. Jadi kita tetap menunggu hasil laboratorium yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan," harap Arinia.

Program MBG yang dikelola SPPG Moyoketen 1 sendiri melayani sejumlah satuan pendidikan, di antaranya SMP MIA, Posyandu Desa Gedangsewu, kecamatan Boyolangu, dan SMK Sore Tulungagung. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow