Dindik Jatim Gaungkan ZePlass, Kota Batu Siap Adaptasi ke Sekolah
Program Zeplass yang berasal dari tingkat provinsi dan kesiapan adaptasi di daerah merupakan salah satu upaya penguatan budaya pengurangan plastik melalui sekolah dan dimaksudkan untuk menjadi gerakan kolektif yang berdampak luas terhadap lingkungan.
KOTA BATU, SJP — Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur terus menggaungkan program ZePlass (Zero Plastik Sekali Pakai) sebagai bagian dari penguatan budaya peduli lingkungan di lingkungan pendidikan. Program ini mendorong siswa dan guru meninggalkan plastik sekali pakai melalui kebiasaan sederhana seperti membawa tumbler dan kotak makan sendiri.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Aries Agung Paewai pada Rabu (10/2/2026) menegaskan, gerakan tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan langkah konkret membangun kesadaran lingkungan sejak dini melalui ekosistem sekolah.
“Program ZePlass ini bukan sekadar seremoni, tetapi langkah nyata membangun budaya peduli lingkungan di sekolah. Melalui kebiasaan sederhana seperti membawa tumbler dan tempat makan sendiri, kita menanamkan kesadaran kepada guru dan peserta didik untuk mengurangi sampah plastik sekali pakai,” ujarnya.
Menurutnya, sekolah merupakan titik strategis perubahan budaya masyarakat. Jika praktik ramah lingkungan menjadi kebiasaan di ruang belajar, dampaknya dapat meluas hingga ke keluarga dan lingkungan sekitar.
Gaung program tersebut mendapat respons positif dari Pemerintah Kota Batu. Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto menyatakan dukungan penuh terhadap inisiatif yang diusung Pemprov Jatim tersebut.
“Saya sangat mengapresiasi langkah Dinas Pendidikan Pemprov Jatim. Sekolah adalah laboratorium peradaban. Jika kita ingin mengubah budaya bangsa, kita harus memulainya dari bangku sekolah,” kata Heli.
Ia menilai ZePlass tidak hanya soal pengurangan plastik, tetapi juga pembentukan karakter siswa melalui tanggung jawab, disiplin, dan empati terhadap lingkungan.
“Program ini bukan hanya soal melarang plastik, tetapi membangun karakter. Jika ekosistem pendidikan bergerak serentak, dampaknya terhadap pengurangan sampah plastik di Jawa Timur akan sangat signifikan,” lanjutnya.
Sebagai kota wisata yang bergantung pada kelestarian alam, Kota Batu melihat program ini relevan untuk diadaptasi. Edukasi zero plastik di sekolah dinilai dapat menjadi fondasi gerakan Batu Zero Waste sekaligus membentuk siswa sebagai duta lingkungan.
Pemkot Batu juga akan langkah implementasi teknis, di antaranya penunjukan duta ZePlass dari kalangan siswa serta kegiatan audit sampah melalui gerakan pemilahan rutin di sekolah.
Selain itu, pemerintah daerah juga akan menempuh mekanisme legalitas melalui kajian penerbitan Surat Edaran Wali Kota atau SK Dinas Pendidikan sebagai payung hukum pelaksanaan program.
Koordinasi dengan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur juga akan dilakukan untuk memastikan sinkronisasi kebijakan, sekaligus pemetaan kesiapan sekolah mulai jenjang PAUD hingga SMP.
Dari sisi waktu pelaksanaan, Pemkot Batu menyiapkan tahapan bertahap mulai sosialisasi kepada sekolah dan pengelola kantin, persiapan sarana pendukung seperti titik pengisian air minum, hingga peluncuran implementasi pada awal semester mendatang. Evaluasi lapangan direncanakan dilakukan tiga bulan setelah program berjalan.
“Lebih baik memulai dengan langkah kecil yang konsisten daripada rencana besar yang berhenti di atas kertas. Kami ingin di tahun ajaran baru nanti, pemandangan botol plastik di tempat sampah sekolah sudah berkurang drastis,” tandasnya. (*)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

