Debut Manis Lotus Art Courses di FLOW 2025, Puluhan Karya Lolos Dalam Pameran Internasional di Jerman
Puluhan karya siswa Lotus Art Courses menembus pameran bergengsi FLOW 2025 di Jerman, menegaskan kualitas seniman muda Indonesia yang mampu bersaing di panggung seni internasional.
SURABAYA, SJP — Anak-anak didik Lotus Art Courses (LAC) kembali menorehkan prestasi di tingkat internasional. Kali ini melalui ajang 58th Internationaler Zeichenwettbewerb FLOW 2025, sebuah kompetisi seni gambar bergengsi di Jerman.
Dalam ajang tersebut, puluhan karya siswa LAC berhasil lolos dalam seleksi dan dipamerkan bersama ratusan karya dari berbagai negara. Sebuah kebanggaan tersendiri, terlebih karena prestasi tersebut diraih pada tahun pertama LAC ikut serta dalam kompetisi tersebut.
FLOW, Ajang Bergengsi dari Negeri Seribu Kastil
FLOW merupakan kompetisi seni gambar yang sudah berlangsung selama 58 tahun dan dikenal sebagai salah satu ajang paling prestisius di Jerman. Setiap tahun, ribuan karya anak dan remaja dari seluruh dunia dikirimkan, namun hanya sekitar seperempat yang berhasil lolos untuk dipamerkan.
Tingkat seleksinya yang ketat membuat ajang itu menjadi tolok ukur kualitas karya seni muda internasional.
Dengan reputasi panjang dan konsistensinya, lolosnya karya-karya siswa LAC ke dalam pameran FLOW tahun 2025 menjadi capaian penting yang semakin mengukuhkan posisi LAC di kancah kompetisi global.A
Dukungan dan Harapan dari Lotus Art Courses
Dalam acara awarding yang berlangsung di Wisma Jerman, Rabu (10/12/2025), Founder LAC I Putu Mahendra menyampaikan rasa syukur sekaligus kebanggaannya. Ia menjelaskan bahwa tahun ini adalah partisipasi perdana mereka dalam FLOW, namun langsung membuahkan hasil positif.
"Syukur ada siswa yang berhasil lolos pameran, meskipun belum dapat juara utama. Tapi ini sudah sebuah pencapaian yang harus dibanggakan," ujar Putu, Rabu (10/12/2025).
Putu menjelaskan bahwa ajang FLOW 2025 menerima 1.539 karya dari 22 negara, dengan hanya 716 karya terbaik yang dipamerkan dan mendapatkan penghargaan. LAC sendiri mengirim sekitar 50–60 karya, dan sekitar 20 diantaranya berhasil lolos seleksi.
Meski belum meraih gelar juara, menurut Putu, hasil itu sudah membuktikan bahwa kualitas karya siswa LAC diakui secara internasional. Sebagai informasi, penghargaan tersebut telah berhasil diraih oleh:
- Akira F. Adialmira
- Nasha A. Sujarwo
- Kaylee E. Gunawan
- Raisya Kayla Wijaya
- Freya M. Wijaya
- Nadine Zeta Azahra
- Zhenaya Ai Mono
- Micha Savero S
- Anggita Rastriary D.N
- Jennifer M. Sianto
- Gwen Leticia W
- Jordan Sun
- J.K. Gesang Prasetia
- Joyce Zerlina
- M. Hayuning Arumdani
- Aizcha A. Jovita
- Agista T. Sarasvati
- Benediktus Reynard Chandra
- Ameera Cremelicia K
- Fabian M. Aklafi
- Gempita R.Ramadhani
- Sheena Guntoro
"Ini penting bagi mereka, perjalanan mereka, proses motivasi mereka untuk berkarya ke depannya," tambahnya.
Putu juga mengapresiasi Wisma Jerman yang bersedia menjadi lokasi awarding. Ia berharap tahun depan LAC bisa kembali meraih hasil positif, mengingat mereka rutin mengikuti kompetisi internasional sejak 2020.
Wisma Jerman sebagai Mitra dan Ruang Apresiasi
Direktur Utama Wisma Jerman, Mike Neuber, turut memberikan apresiasi atas prestasi para siswa. Ia menilai kegiatan LAC tidak hanya meningkatkan kemampuan seni, tetapi juga membuka kesempatan bagi anak-anak untuk tampil di panggung internasional.
"Menurut kami luar biasa yang dilakukan oleh Lotus Art, memberikan kesempatan untuk anak-anak berkarya bahkan sampai ke Jerman," kata Mike.
Meski sebelumnya belum banyak mengenal FLOW, Mike kemudian mengetahui bahwa ajang ini termasuk yang paling penting di bidang seni gambar di Jerman. Ia menyebutkan bahwa keberhasilan lolos pameran di kompetisi dengan ribuan peserta merupakan bukti kualitas.
"Sekitar dua ribuan anak kirim karya, dan hanya enam ratus yang ditampilkan. Itu bukti kualitas gambar yang dikirim oleh anak-anak Lotus Art," ujarnya.
Wisma Jerman sendiri terlibat sebagai tempat penyerahan piagam, melanjutkan kerja sama dan hubungan baik dengan LAC yang sebelumnya telah mengadakan berbagai kegiatan seni bersama.
Color Theory dari Anggita dan Ruang Mimpi bagi Sheena
Salah satu peserta, Anggita Rastriary D.N. (16), mengaku senang karena karya pertamanya di FLOW langsung lolos pameran. Ia menggambarkan suasana santai seorang anak yang duduk di teras dan menikmati angin dari kipas.
"Walau belum dapat juara, tapi masuk pameran. Untuk karya saya di FLOW ini lebih detail, karena saya pakai lighting sama color theory juga," ucap anak kelas 1 SMK itu.
Peserta lain, Sheena Guntoro, mengikuti FLOW untuk pertama kalinya dan langsung lolos pameran. Karena Sheena memiliki gangguan perkembangan bahasa dan merupakan penyandang tuli, proses berkaryanya didampingi ibunya yang membantu menggali ide dan konsep karya.
"Saya beranikan dia ikut, dan puji Tuhan langsung terpilih," ujar sang ibu dari anak usia 12 tahun itu.
Karya Sheena menggambarkan perjalanan dirinya dari kecil hingga dewasa, sebuah visualisasi mimpi-mimpinya. Bagi keluarganya, seni bukan hanya karya estetis, tetapi juga sarana terapi yang membantu Sheena berkembang secara kognitif dan emosional.
"Seni itu terapi buat dia, membuatnya lebih berani dan lebih kuat," tutur ibunya.
Prestasi siswa-siswa LAC di ajang FLOW tahun ini kembali menunjukkan bahwa kreativitas anak-anak Indonesia mampu bersaing di panggung global.
Dengan konsistensi mengikuti kompetisi internasional dan pendampingan yang kuat, potensi para siswa muda ini semakin terbuka untuk melangkah lebih jauh lagi di dunia seni rupa. (***)
Editor: Syaiful Aries
What's Your Reaction?

