Dampak Sosial Penutupan Galian Batu Cadas oleh Polres Bondowoso, Warga Menganggur dan Tak Bisa Makan
Warga Desa Wringin dan Banyuputih kini tak lagi bekerja dan tak punya penghasilan. Bahkan, ada satu keluarga yang rela tak makan karena tak punya uang untuk beli beras.
BONDOWOSO, SJP - Warga Desa Wringin dan Banyuputih Kecamatan Wringin Kabupaten Bondowoso, dalam sepekan ini, akhirnya menganggur dan tidak bisa mencari nafkah.
Pasalnya, warga yang berprofesi sebagai penambang batu cadas di lokasi setempat, tidak bisa bekerja, karena lokasi tempat mereka bekerja ditutup oleh Polres Bondowoso.
Padahal, mereka menggantungkan hidupnya dari hasil menambang batu cadas. Meski harganya hanya Rp 10 ribu per biji dengan ukuran 20 cm x 40 cm, penghasilan mereka sehari bisa untuk makan dan keperluan sehari - hari.
Kini mereka menganggur selama sepekan ini. Bahkan, untuk makan saja mereka harus berhutang dan diberi oleh salah seorang tokoh masyarakat setempat.
Tak hanya itu, mirisnya banyak anak - anak yang tidak disekolahkan oleh orang tuanya, karena sudah tidak memiliki biaya.
Aktivitas menambang batu cadas ini, ternyata sudah dilakukan sejak puluhan tahun lalu. Bahkan, menjadi mata pencaharian turun temurun warga setempat, saat musim tembakau sudah lewat.
Bahkan, pada Senin (13/1/2025) seratusan warga dari Desa Wringin dan Banyuputih, sempat turun ke jalan dan mengadu ke Balai Desa Wringin. Hal itu dilakukan, karena warga sudah lama menganggur dan ingin galian batu dibuka kembali.
Jadi Tumpuan Warga
Galian batu cadas di Desa Banyuputih dan Wringin ternyata sudah menjadi pekerjaan warga sejak puluhan tahun lalu. Bahkan, di satu RT saja, ada 26 orang yang menggantungkan hidupnya dari batu cadas ini.
Seperti yang dikatakan oleh Masduki, warga Desa Banyuputih, Kecamatan Wringin, warga ada yang menjadi tukang gali batu dan tukang angkut. Kalau keseluruhan yang bekerja dari dua desa, jumlahnya capai seratusan orang.
“Upah kuli angkit batu cadas itu, satuannya sebesar Rp 1.500. Kalau orang yang gali, itu dibayar per batunya Rp 10 ribu," ungkapnya saat ditemui di kediamannya, pada Selasa (14/1/2025) sore.
Namun, semenjak aktivitas penggalian batu cadas ditutup oleh Polres Bondowoso, warga di dua desa kini kebingungan. Pasalnya, saat ini warga hanya bisa menggantungkan hidupnya dari hasil gali batu cadas.
“Banyak warga yang juga punya tanggungan hutang di Bank Mekar, BTPN, hingga BRI. Kalau sebelum ditutup, setiap minggu kami sudah digaji, terus diberi makan oleh pemilik galian batu cadas," ceritanya.
Menceritakan kejadian pada Senin (13/1/2025) malam, Masduki mengungkap jika malam itu, seratusan warga berkumpul bukan untuk melakukan aksi demo. Namun, meminta kejelasan kepada pemerintah desa, agar mereka bisa bekerja lagi.
“Kalau musim tembakau, kami bisa kerja ke ladang. Tapi, di musim seperti ini, menggali batu cadas adalah harapan kami satu-satunya untuk bertahan hidup,” ungkap Masduki dengan mata berkaca-kaca.
Menganggur, Warga Dua Hari Tidak Masak Nasi
Sejak sepekan tak mendapatkan pemasukan untuk kebutuhan sehari-hari, Gita Astutik (28) warga Desa Wringin, yang memiliki empat orang anak, isteri dari pekerja angkut batu cadas, terpaksa tidak bisa menyekolahkan 2 anaknya.
Sudah 3 hari lamanya buah hati ibu muda ini tidak bersekolah, karena tidak memiliki uang saku untuk anaknya yang masih duduk di bangku kelas 2 dan kelas 6 sekolah dasar.
Setiap hari, kedua anaknya ini sudah dipaksa untuk masuk sekolah. Namun, karena tidak diberi uang saku, kedua anaknya enggan bersekolah dan memilih berdiam diri di rumah berlantai semen dan berdinding anyaman bambu.
“Sangunya Rp 10 ribu setiap hari. Kami tidak punya uang, meskipun disuruh sekolah ya tidak mau, karena tak diberi uang saku,” cerita Gita yang tak mampu berjalan karena kedua kakinya patah gegara terjatuh.
Sembari menggendong anaknya yang masih berusia 1,5 tahun, Gita yang dulunya kuli angkut batu cadas ini bercerita jika suaminya tak lagi bekerja sebagai kuli angkut batu cadas, karena aktivitas galian batu di desanya ditutup oleh polisi.
“Sudah tidak punya penghasilan tetap. Jadi kerjanya serabutan dan menjadi tulang punggung keluarga kami bertujuh di rumah ini,” paparnya sembari menahan tangis dengan sesekali memandang langit-langit rumahnya yang hampir roboh.
Mirisnya, selama dua hari ini, mereka tidak memasak nasi karena tidak punya uang untuk membeli beras. Untuk makan sehari-hari, mereka sekeluarga dibantu oleh tetangganya.
“Sudah tidak ada uang untuk beli beras, jadi kami tidak memasak,” ucapnya sembari mengusap air matanya dan menahan isak tangis, bersila duduk di ruang tamu yang beralasan tikar tipis dengan lantai semen penuh tambalan.
Perlu Solusi dari Semua Pihak
Menanggapi nasib para pekerja galian batu cadas tersebut, Kepala Desa Banyuputih, Ahmad Syahid mengatakan, pihaknya memang mendapatkan keluhan penutupan lahan ini dari warganya.
Karena itu bukan menjadi kewenangannya. Dirinya sendiri bahkan takut membuat kebijakan tanpa ada musyawarah dari semua tokoh-tokoh di sekitar.
"Saya katakan kepada warga, agar sabar menunggu prosesnya. Dalam waktu dekat, kami akan berkoordinasi dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, Forkopimca, agar bisa berkoordinasi terkait mata pencaharian warga,” ucapnya.
Sedangkan, penutupan galian batu cadas yang diketahui milih Budiono atau yang akrab dipanggil Haji Yon itu dilakukan sudah sepekan yang lalu. Hal itu dibenarkan oleh Kasi Humas Polres Bondowoso, Ipda Bobby Siswanto.
“Memang benar sudah ditutup oleh Polres,” tukasnya. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

