Cari Keadilan, Orang Tua Korban Peluru Nyasar di Gresik Wadul ke Dewan

Peluru nyasar tiba-tiba mengenai tangan kiri anak korban hingga dilarikan ke Unit Kesehatan Siswa (UKS) sekolah. Setelah dilakukan pemeriksaan dokter, peluru menembus dan meremukkan tulang punggung tangan kiri Darrell sehingga harus dipasang pen.

06 Apr 2026 - 16:32
Cari Keadilan, Orang Tua Korban Peluru Nyasar di Gresik Wadul ke Dewan
Foto: Orangtua korban yang terkena peluru nyasar di Gresik. (Foto: Anis/SJP)

GRESIK, SJP — Dua siswa SMPN 33 Gresik diduga menjadi korban peluru nyasar di lingkungan sekolah. Tak terima dengan insiden tersebut, salah satu orang tua siswa, Dewi Murniati, mendatangi Kantor DPRD Gresik untuk menuntut keadilan dan pertanggungjawaban pada Senin (6/4/2026).

"Saya warga Gresik, terus kejadian ini ada di sekolahan makanya saya sebenarnya dari kemarin-kemarin itu sudah menunggu bagaimana peran dari pihak sekolah terus Dinas Pendidikan. Karena saya tunggu belum ada perannya, makanya saya mengadukan ini kepada dewan (DPRD)," kata Dewi, salah satu orang tua korban yang terkena peluru nyasar mengadu di Kantor DPRD Gresik.

Dewi mengatakan, kronologi kejadian dugaan peluru nyasar yang dialami anaknya Darrell Fausta Hamdani (14) dan temannya, Renheart (14), saat mengikuti kegiatan sosialisasi di musala sekolah tanggal 17 Desember 2025 pagi.

Ia menyebut, peluru nyasar tiba-tiba mengenai tangan kiri anak korban hingga dilarikan ke Unit Kesehatan Siswa (UKS) sekolah. Setelah dilakukan pemeriksaan dokter, peluru menembus dan meremukkan tulang punggung tangan kiri Darrell sehingga harus dipasang pen.

Sementara peluru lain mengenai punggung kanan bawah Renheart, namun hanya bersarang di lapisan lemak. Dewi dan pihak sekolah menduga peluru tersebut berasal dari lapangan tembak kesatuan yang berjarak sekitar 2,5 kilometer dari kawasan sekolah korban. 

"Awalnya mereka tidak mengakui, enggak mungkin karena radiusnya cukup jauh. Namun ketika ditunjukkan hasil rontgen tersebut, nampak di situ memang benar ada peluru tajam yang nancap di punggung dan tangan anak saya," jelasnya. 

Menurut Dewi, pihak kesatuan sudah mengkonfirmasi dan bertanggungjawab terhadap korban. Namun ia mengaku, pertanggungjawaban kesatuan hanya membiayai perawatan di awal. Sedangkan biaya kontrol selanjutnya ditanggung secara pribadi. 

"Memang mereka sudah membiayai perawatan dalam rumah sakit Rp32 juta, sama kontrol satu kali. Padahal kontrol anak saya itu enam kali. Otomatis lima kali (biaya) saya tanggung sendiri. Plus pemeriksaan psikologi forensik itu saya tanggung sendiri, sama dua kali terapi itu saya tanggung sendiri," tambahnya. 

Ia meminta keadilan dan pertanggungjawaban atas dugaan peluru nyasar ini dengan menanggung penuh biaya pengobatan fisik dan psikis korban sampai sembuh, hingga tali asih akibat dampak cacat terkena peluru yang akan ditanggung seumur hidup. 

Sementara itu, Ketua DPRD Gresik, Muhammad Syahrul Munir, mengaku akan menyiapkan surat untuk disampaikan ke pihak kesatuan, terutama dalam hal keselamatan di lingkungan lapangan tembak. Pihaknya juga meminta agar segera dilakukan upaya mediasi yang konkret antara kedua belah pihak agar kasus ini segera selesai. 

"Kami tidak menginginkan terutama anak-anak didik kami, warga Gresik yang radiusnya sangat berdekatan dengan lapangan tembak. Ini kami tidak menginginkan mereka menjadi korban selanjutnya," pungkasnya. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow