Berkah Bunga di Ambang Ramadan bagi Warga Probolinggo
Menjelang Ramadaan 1477 H, TPU Ungup-Ungup Tisnonegaran mulai dipenuhi aroma harum bunga mawar dan melati. Bukan sekadar tradisi ziarah, momen ini juga menjadi ladang rezeki bagi para pedagang bunga dadakan seperti Ibu Tinasum dan Ibu Siti Kholifah.
PROBOLINGGO, SJP - Menjelang tibanya bulan suci Ramadan 1477 Hijriah, suasana di area pemakaman mulai menunjukkan peningkatan aktivitas. Fenomena munculnya pedagang bunga dadakan menjadi pemandangan rutin tahunan, salah satunya terlihat di Pemakaman Ungup-Ungup, Kelurahan Tisnonegaran.
Para pedagang ini mulai menggelar lapaknya sejak tiga hari sebelum masuknya bulan puasa untuk melayani para peziarah yang datang mendoakan keluarga mereka.
Sistem penjualannya cukup sederhana dan terjangkau. Bunga-bunga tersebut biasanya dikemas dalam paket praktis, di mana satu paket berisi tiga kantong plastik bunga dijual dengan harga Rp10.000.
Dalam sehari, para pedagang rata-rata mampu menjual antara 20 hingga 30 paket. Konsumen utamanya adalah warga sekitar pemakaman yang memilih kepraktisan daripada harus menempuh perjalanan jauh untuk membeli bunga di pasar.
Tinasum (50), seorang pedagang asal Desa Kareng Kidul, Kecamatan Wonomerto, Kabupaten Probolinggo mengakui adanya peningkatan pendapatan dari usaha musiman ini. Dengan menjual sekitar 20 kantong plastik per hari, ia bisa mengantongi omzet hingga Rp200.000.
Strateginya adalah mengambil pasokan dari tengkulak seharga Rp20.000 per kilogram guna memastikan bunga yang dijual tetap segar namun harga beli tetap rendah.
"Setiap tahun sebelum puasa, dan sebelum dan sesudah Hari Raya Idulfitri saya selalu jualan bunga pemakaman ini, alhamdulillah hasilnya bisa buat tambah-tambah," ujar Tinasum.
"Selama 3 hari berjualan, paling ramai ya hari Selasa, namun hari ini masih belum bisa diprediksi, karena hari ini hari terakhir sebelum besok berpuasa." imbuhnya.
Kisah serupa datang dari Siti Kholifah (59), warga Jalan Letjen Sutoyo yang sehari-hari bekerja sebagai tukang pijat. Baginya, momen menjelang Ramadaan dan Lebaran adalah kesempatan emas untuk beralih profesi sejenak demi menambah pundi-pundi rupiah.
"Kalau tidak berjualan bunga ya saya tukang pijat, alhamdulillah setiap tahun berjualan bunga ada tambahan penghasilan dalam 3 hari terakhir," tutur Siti.
Bagi para pedagang ini, tradisi ziarah kubur bukan sekadar ritual keagamaan bagi masyarakat, melainkan juga berkah ekonomi yang memberikan napas tambahan bagi kebutuhan rumah tangga mereka di ambang bulan suci. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

