111 Tahun Kota Malang, Sebuah Kejayaan dari Era Kolonial

Kota Malang memiliki sejarah panjang yang terpotong-potong. Kejayaan di era kolonial tersisa sampai hari ini.

27 Apr 2025 - 17:05
111 Tahun Kota Malang, Sebuah Kejayaan dari Era Kolonial
Reza Hudiyanto bersama Agung Buana mempresentasikan sejarah Kota Malang di era kolonial. (Foto: Izzul/SJP)

Kota Malang, SJP - Reza Hudiyanto, seorang ahli sejarah kota mengatakan, "Berbicara sejarah kota adalah berbicara planet yang lain".

Ahli sejarah kota ini, banyak meneliti tentang Kota Malang di masa lalu, utamanya di bawah kuasa kolonial.

111 tahun lalu, menurutnya, Malang punya citra penampakan yang jauh berbeda dengan hari ini. 

Sisa-sisa peninggalan itu dapat dilihat dari bentuk bangunan, catatan tertulis, lukisan atau foto, dan folklore di masyarakat.

Namun disayangkan, kata Reza, sejarah yang panjang ini terputus-putus.

"Malang itu punya sejarah yang panjang, tapi tidak kontiniu, ada missing link, ada rantai yang terputus," ujar Reza saat mempresentasikan penelitiannya tentang Kota Malang, Minggu (27/4/2025) di gedung Gramedia Jalan Basuki Rahmat.

Bentuk Kota Malang di era kolonial, berawal dari era perkebunan di tahun 1830-1920. Reza bercerita, setelah diberlakukannya tanam paksa, wilayah Kota Malang menjadi salah satu sentra perkebunan.

"Ada sekitar tujuh puluh investor di Malang ini yang mendirikan pabrik perkebunan," jelas Reza.

Di tahun 1882, Kota Malang secara eksis telah ada, di mana saat itu Kota Malang menjadi distrik tersendiri. Dalam sistem pemerintahan Kolonial Belanda, distrik membawahi beberapa Ondedistrik.

Reza mengungkap, titik awal didirikannya Kota Malang didasarkan pada dokumen di mana Kota Malang berubah bentuk menjadi Gemeente pada tahun 1914.

Gemeente sendiri merupakan kota yang memiliki pemerintahannya sendiri, atau setara dengan kota madya.

"Nah, jadi seratus sebelas ini dari gemeente 1914, tapi sudah eksis sebelum itu, 1882," kata Reza, yang saat itu didampingi oleh seorang pemerhati, Agung Buana.

Pada saat berbentuk gemeente ini, Kota Malang mendirikan balai kota yang diresmikan pada tahun 1929. Arsiteknya adalah H.F. Horn dengan mengusung "Voor de burgers van Malang" yang berarti "untuk warga Malang".

"Meskipun arsiteknya orang Belanda, kalau kita perhatikan atap tumpang di balai kota itu diserap dari gaya bangunan lokal," jelas Reza.

Dibentuknya Kota Malang sebagai gemeente, menandai wajah baru Kota Malang. Kota Malang mengalami proses modernisasi besar-besaran di tahun 1920-1930.

"Komersialisasi di era itu meluas, mencangkup segala bidang, tidak di perkebunan saja," kata Reza.

Komersialisasi tersebut mencangkup adanya transaksi di bidang keuangan dan jasa. Kantor-kantor penyedia jasa banyak berdiri, begitu pula industri di bidang hiburan.

Pembangunan tata kota di Kota Malang saat itu, didasarkan pada rancangan Eropa. Peningkatan jumlah penduduk memengaruhi pembangunan infrastuktur dan tipe moda transportasi.

Meski demikian, jelas Reza, pembangunan Kota Malang bukanlah pembangunan sosial, melainkan pembangunan yang berbasis kapitalis.

"Mereka membangun itu bukan untuk masyarakat, tapi untuk mereka sendiri," jelas Reza.

Bentuk perumahan masyarakat, dibuat kampung dengan gang-gang yang memiliki jalan dan selokan.

Lingkungan perumahan ini, didasarkan untuk mempermudah akses pemadam kebakaran dan menghindari penyebaran wabah.

"Perbaikan kampung ini juga fungsi keamanan. Mungkin biar mudah ngejar copet," kata Reza dengan tertawa.

Masa kejayaan pemerintah Kolonial Belanda berakhir ketika kependudukan Jepang. Dan setelah era ini, adalah masa awal sejarah Kota Malang di era kemerdekaan. (*)

Editor: Rizqi Ardian 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow