Urai Kemacetan di Wonokromo, Pemkot Surabaya Tutup 'Pasar Maling' dan Perlebar Jalan hingga 5 Meter

Selain penertiban, Pemkot Surabaya juga melakukan pengaspalan sekaligus pelebaran jalan. Ruas sepanjang kurang lebih 500 meter itu diperlebar hingga sekitar 4–5 meter untuk meningkatkan kapasitas kendaraan yang melintas.

23 Apr 2026 - 20:15
Urai Kemacetan di Wonokromo, Pemkot Surabaya Tutup 'Pasar Maling' dan Perlebar Jalan hingga 5 Meter
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi meninjau pelebaran Jalan Wonokromo Surabaya (Dok. Pemkot Surabaya for SJP)

SURABAYA, SJP — Aktivitas “pasar maling” di kawasan Jalan Stasiun Wonokromo resmi ditutup dan direlokasi. Langkah itu menjadi bagian dari penataan ulang kawasan oleh Pemerintah Kota Surabaya untuk mengurai kemacetan yang selama ini menjadi keluhan utama warga, khususnya di sekitar Stasiun Wonokromo dan depan Darmo Trade Center.

Sebelum penataan dilakukan, kawasan tersebut dikenal sebagai salah satu titik macet kronis di Surabaya. Jalan yang seharusnya menjadi jalur utama justru menyempit karena dipenuhi pedagang kaki lima yang berjualan sejak sore hingga malam hari. 

Aktivitas pasar tumpah di badan jalan, ditambah parkir liar dan bongkar muat barang, terlebih saat ada penjemputan penumpang kereta api di Stasiun Wonokromo membuat arus kendaraan kerap tersendat, terutama saat jam pulang kerja. 

Antrean kemacetan kendaraan tidak jarang kerap mengular hingga ke arah Jagir dan simpang Wonokromo, diperparah dengan adanya perlintasan kereta api yang kerap menutup akses secara tiba-tiba.

Melihat kondisi tersebut, sebelumnya Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi sempat turun langsung melakukan inspeksi mendadak pada Selasa (21/4/2026). Dalam peninjauan itu, ia memastikan penanganan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari penertiban aktivitas liar hingga perbaikan fisik jalan.

Usai melakukan peninjauan, penataan dimulai dengan relokasi pedagang pasar tumpah yang selama ini menempati badan jalan. Para pedagang dipindahkan ke lokasi yang telah disiapkan, seperti sentra wisata kuliner dan fasilitas resmi milik pemerintah kota. Dengan demikian, ruas jalan yang sebelumnya terpakai untuk aktivitas jual beli kini dikembalikan ke fungsi utamanya sebagai jalur lalu lintas.

"Pedagang sudah kita relokasi ke tempat-tempat yang disiapkan. Jadi, jalan ini tidak lagi dipakai untuk aktivitas yang mengganggu lalu lintas," ujar Eri, Kamis (23/4/2026).

Selain penertiban, Pemkot Surabaya juga melakukan pengaspalan sekaligus pelebaran jalan. Ruas sepanjang kurang lebih 500 meter itu diperlebar hingga sekitar 4–5 meter untuk meningkatkan kapasitas kendaraan yang melintas. Upaya ini diharapkan mampu mengurangi kepadatan yang selama ini terjadi akibat penyempitan jalur.

"Jalan ini akan kita aspal agar jalurnya lebih lebar, sehingga bisa mengurai kemacetan dari arah Jagir maupun arah Novotel," katanya.

Tak hanya perbaikan fisik, rekayasa lalu lintas juga menjadi fokus penanganan. Pemkot berkoordinasi dengan pihak perkeretaapian untuk mengatur ulang waktu lampu lalu lintas di perlintasan sekitar stasiun. Selama ini, lampu merah kerap menyala setelah palang pintu kereta tertutup, sehingga antrean kendaraan sudah terlanjur panjang.

"Ke depan akan kita atur satu menit sebelum kereta lewat sudah lampu merah," ujarnya Eri.

Penataan kawasan juga mencakup aspek keselamatan warga. Area punden atau makam di sekitar rel kereta akan dilengkapi akses khusus dan pagar pembatas agar warga yang berziarah tidak lagi melintasi jalur rel secara langsung. Selain itu, masyarakat diimbau untuk tidak memarkirkan kendaraan di badan jalan, melainkan menggunakan area parkir resmi yang telah disediakan.

"Tapi tetap ini jalannya nggak boleh dibuat parkir," tegasnya.

Penataan tersebut sekaligus menjadi upaya mengembalikan fungsi ruang kota yang selama ini dinilai melenceng. Jalan yang sebelumnya digunakan untuk aktivitas di luar peruntukannya, seperti berdagang dan parkir liar, kini dikembalikan sebagai infrastruktur publik yang mendukung mobilitas warga.

Dengan kombinasi relokasi pedagang, pelebaran jalan, serta rekayasa lalu lintas, Pemkot Surabaya berharap kemacetan kronis di kawasan Wonokromo dapat terurai secara bertahap dan tidak kembali terulang di masa mendatang. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow