Tanah Gerak Ancam Sungai Bodor, Begini Langkah Pencegahan BPBD Nganjuk
Fenomena alam ini berpotensi memicu tanah longsor dan kerusuhan, yang membahayakan keselamatan warga serta infrastruktur di sekitarnya.
NGANJUK, SJP - Ancaman tanah gerak kembali menghantui warga di sekitar bantaran Sungai Bodor, di Dusun Kedung Bajul, Desa Gemenggeng, Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk. Fenomena alam ini berpotensi memicu tanah longsor dan kerusuhan, yang membahayakan keselamatan warga serta infrastruktur di sekitarnya.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nganjuk, Sutomo, telah mengambil langkah-langkah pencegahan yang proaktif untuk mitigasi risiko. Berkoordinasi dengan instansi terkait dan pemerintah desa setempat, BPBD Nganjuk mengidentifikasi area yang paling rawan dan menyusun rencana aksi.
Langkah pertama yang dilakukan adalah mengidentifikasi area yang paling rawan terkena dampak tanah gerak. Berdasarkan pantauan lapangan dan data historis, BPBD Nganjuk telah memetakan beberapa titik kritis yang memerlukan penanganan segera.
BPBD Nganjuk juga telah memasang alat pemantau tanah gerak dan early warning system (EWS) di titik-titik rawan tersebut. Alat ini akan mendeteksi pergeseran tanah sekecil apa pun dan memberikan peringatan dini kepada warga sehingga mereka memiliki cukup waktu untuk evakuasi jika terjadi longsor.
“Kondisi sempadan Sungai Bodor memang memerlukan penanganan segera karena retakannya cukup panjang, mencapai 50 meter di satu titik. Kami terus berkoordinasi dengan pihak desa dan provinsi untuk pengadaan material darurat seperti sandbag dan sesek guna menahan laju penggerusan tanah,” ujar Sutomo, Sabtu (28/3/3026).
Peristiwa ini dipicu oleh tingginya intensitas curah hujan di wilayah hulu Kecamatan Loceret dan Ngetos sejak 21 Maret 2026, yang menyebabkan debit air Sungai Bodor meningkat tajam dan menggerus dinding sungai.
Dua titik krusial teridentifikasi mengalami retakan tanah diantaranya titik 1 dengan kerusakan sepanjang ±12 meter, lebar kira-kira 2 meter, tinggi sekira 6 meter; dan Titik 2 dengan panjang mencapai kurang lebih 50 meter, lebar kira-kira 2 meter, dan tinggi sekira 6 meter.
“Kami minta warga tetap waspada dan melaporkan segera jika melihat retakan baru, terutama saat hujan deras melanda wilayah hulu. Keselamatan warga adalah prioritas utama kami,” tuturnya.
Retakan tersebut dinilai membahayakan akses transportasi warga karena letaknya sangat dekat dengan jalan desa. Jika debit air kembali naik, penggerusan dikhawatirkan akan meluas dan memutus akses jalan tersebut.
Tim BPBD Kabupaten Nganjuk bekerja sama dengan BPBD Provinsi Jawa Timur (AGISENA), pemerintah desa, dan unsur DPRD yang turun ke lapangan untuk koordinasi. Fokus utama saat ini adalah mitigasi struktur guna mencegah longsor susulan.
“Kebutuhan mendesak meliputi pemasangan sesek (anyaman bambu) dan sandbag (kantong pasir) sebagai tanggul darurat untuk memperkuat dinding sempadan yang retak,” ungkapnya.
Sutomo menegaskan bahwa pihaknya memprioritaskan keamanan warga dan fasilitas umum di sekitar bantaran sungai.
BPBD memastikan akan terus memonitor situasi secara berkala dan memberikan informasi lanjutan kepada masyarakat agar siap menghadapi kemungkinan kondisi yang memburuk. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

