Soroti Ancaman Mikroplastik, Stimbara UISI Gresik Gelar Seminar 'Plastic-Free Future'
Diskusi interaktif dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang digelar Stimbara UISI mempertemukan tiga perspektif sekaligus, yakni dari keterwakilan akademisi, aktivis lingkungan, hingga pembuat kebijakan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Gresik.
GRESIK, SJP - Menyoroti ancaman nyata polusi plastik, UKM Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI) Gresik Stimbara menggelar seminar bertajuk "Plastic-Free Future: Dampak Mikroplastik pada Ekosistem dan Risiko Kesehatan", Jumat (12/6/2026).
Diskusi interaktif dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini mempertemukan tiga perspektif sekaligus, yakni dari keterwakilan akademisi, aktivis lingkungan, hingga pembuat kebijakan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Gresik.
"Karena masalah ini sudah banyak dibahas, namun belum mendapatkan solusi yang bisa diberikan kepada masyarakat luas. Maka dari itu kita mengusung tema ini agar bisa menyadarkan kepada masyarakat luas bahwa mikroplastik itu perlu ditanggulangi bersama," kata Ketua pelaksana seminar, Hilda Uchtruja Jasmin, saat menggelar seminar dan diskusi di Aula Gedung B UISI Gresik.
Jasmin mengatakan, melalui seminar Stimbara ini dapat meningkatkan kesadaran untuk mengurangi atau mencegah ancaman mikroplastik.
Stimbara UISI menghadirkan pemateri Sofi Azilan Aini, salah satu perwakilan aktivis dari Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON), yang kerab melakukan penelitian mikroplastik.
Pemateri dari kalangan akademisi yakni Wahyu Kamal Setiawan, Dosen Kampus UISI Gresik. Serta Nurul Fadillah perwakilan DLH Pemkab Gresik sebagai pemateri paparan pemangku kebijakan pengelolaan sampah.
"Jadi kita menghadirkan tiga sudut pandang yang berbeda supaya kita bisa mendapatkan solusi yang terbaik," jelasnya.
Salah satu pemateri aktivis ECOTON Sofi Azilan Aini, mengungkap penyebaran sampah plastik tidak terlepas dari gaya hidup konsumtif masyarakat sehari-hari.
Sampah plastik yang tidak dikelola dengan baik seperti dibuang sembarang tempat hingga dibakar bisa mencemari mikroplastik.
"Mikroplastik bisa ditemukan melalui makanan, air minum dalam kemasan (AMDK), hingga paparan kulit skinkare," ungkap dia.
Dari sisi akademisi, cemaran mikroplastik ini tidak bisa terlepas dari produksi plastik dari sumbernya, yakni skala industri. Ekosistem yang sudah terbentuk, bahwa plastik tersebut menjadi produk kemasan para pedagang dengan harga yang paling murah dan praktis.
"Masyarakat yang sebagian menjadikan plastik sebagai kebutuhan ekonomi. Misalnya pedagang yang sangat mengandalkan plastik karena harganya kemasan yang lebih murah," papar dia.
Sementara itu, perwakilan DLH Gresik, Nurul Fadillah, menyebut produksi sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Ngipik mencapai 450 ton per hari.
Sedangkan sampah plastik menduduki dominasi terbesar kedua sebanyak 11,58 persen di TPA, setelah sisa makanan 55,29 persen.
"Pemkab Gresik telah mengeluarkan aturan melalui Perda, Perbup, atau surat edaran terkait pembatasan sampah plastik. Salah satunya tidak diperbolehkan pemakaian kemasan kantong kresek di supermarket," pungkasnya. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

