Setia di Ujung Jalan Terjal: Kisah Penjaga Sekolah, 21 Tahun Mengabdi di Pelosok Bondowoso
Kisah Suraja menggambarkan perjuangan tenaga pendidikan di pelosok Bondowoso. Dari guru hingga penjaga sekolah, ia tetap setia mengabdi meski menghadapi jalan terjal dan fasilitas minim.
BONDOWOSO, SJP – Pagi di pelosok Desa Banyuwulu, Kecamatan Wringin, tak pernah benar-benar mudah. Jalan berbatu, tanjakan curam, dan medan licin saat hujan menjadi bagian dari keseharian. Namun bagi Surajak (56), semua itu bukan penghalang. Selama lebih dari dua dekade, ia setia menapaki rute yang sama demi satu tujuan, menjaga denyut pendidikan di SDN Banyuwulu 4.
Setiap hari, Surajak membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk sampai ke sekolah. Perjalanan itu ia jalani sejak 2005, tahun pertama ketika dirinya mengabdikan diri di wilayah terpencil tersebut.
“Sudah biasa. Sudah keras di sini,” ujarnya pelan, menggambarkan bagaimana medan ekstrem itu kini menjadi bagian dari hidupnya, Sabtu (25/4/2026) saat dikonfirmasi di halaman SDN Banyuwulu 4 yang berlatar belakang ruang kelas yang runtuh akibat bencana angin puting beliung, 9 tahun silam.
Di masa lalu, Surajak bukan sekadar penjaga sekolah. Ia pernah berdiri di depan kelas sebagai guru, mendidik anak-anak desa yang tumbuh di tengah keterbatasan. Namun seiring usia, kondisi fisiknya tak lagi memungkinkan. Kini, ia tetap bertahan dan tak patah arang mengabdi sebagai penjaga sekolah berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu.
Baginya, Banyuwulu bukan sekadar tempat bertugas, melainkan rumah kedua. Ia menemukan makna dalam kesederhanaan dan penghormatan yang tulus dari masyarakat. Surajak bercerita tentang makna seorang guru bagi warga di pelosok, yang tetap menjadi panutan dan dihormati.
“Di sini beda dengan di bawah (kota). Masyarakat sangat menghormati guru. Murid-murid, bahkan yang sudah punya anak dan cucu, masih ingat dan menyapa,” kata pria berkacamata yang karib dengan blangkon dan ramah dengan anak-anak ini.
Namun pengabdian panjang itu tak lepas dari tantangan. Infrastruktur menjadi persoalan utama yang tak kunjung usai. Jalan menuju sekolah, kata Suraja, “tidak bisa diajak kompromi.” Saat musim hujan tiba, motor sering tak mampu menanjak. Tak jarang ia harus mendorong kendaraan bersama rekannya demi sampai ke tujuan.
“Harus berangkat lebih pagi, kadang didorong,” tutur warga Desa Sumbercanting Kecamatan Wringin ini, menceritakan pengalaman dan kesehariannya mengabdi selama 21 tahun di sekolah dasar yang saat ini hanya memiliki 94 siswa.
Kondisi sekolah pun jauh dari ideal. Beberapa ruang kelas mengalami kerusakan parah. Ada bangunan yang sejak 2017 tak lagi layak digunakan karena diterpa angin dan hujan. Temboknya hancur, dan saat cuaca buruk, air serta angin bebas masuk ke dalam ruangan.
“Dulu sempat dipakai belajar, sekarang tidak bisa,” katanya sembari menunjukkan bangunan berkontruksi atap baja ringan yang gentingnya sudah tak tertata rapi, tanpa dinding dan hanya menyisakan lantai plester yang bercampur abu dan tanah.
Sekelumit dirinya bercerita tentang kondisi siswa SDN Banyuwulu 4 yang begitu antusias menerima Makan Bergizi Gratis (MBG). Surajak menyaksikan langsung dampaknya bagi anak-anak. Banyak siswa yang sebelumnya datang ke sekolah tanpa sarapan karena orang tua mereka sudah berangkat ke ladang sejak pagi. Kini, mereka bisa belajar dengan perut kenyang.
“Anak-anak jadi tenang, sudah makan. Mainnya juga enak,” ujarnya menceritakan perasaan siswa saat menerima MBG yang tak hanya mereka nikmati sendiri di sekolah, tapi dibawa pulang untuk dimakan bersama keluarga di rumah.
Di usia 56 tahun, ketika banyak orang memilih beristirahat, Surajak justru tetap setia menjalani rutinitasnya. Jalan terjal, hujan, dan keterbatasan tak membuatnya berpaling. Ia mungkin tak lagi berdiri di depan kelas, tetapi dedikasinya tetap menjadi fondasi bagi pendidikan di Banyuwulu.
Di ujung jalan berbatu itu, Surajak adalah bukti bahwa pengabdian tak selalu hadir dalam sorotan. Kadang, ia tumbuh diam-diam dalam langkah kaki yang setia, dalam perjalanan satu jam setiap pagi, dan dalam keyakinan bahwa pendidikan, sekecil apa pun upayanya, tetap layak diperjuangkan. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

