Sempat Dipuji Wali Kota Saat Deklarasi Jogo Suroboyo, Warga Wonokromo Ternyata Cegah Polsek Dibakar Perusuh

Warga Joyoboyo, Wonokromo SS, dan Darmokali serentak menyerang dari tiga arah, menggagalkan upaya perusuh membakar Polsek Wonokromo saat kerusuhan akhir Agustus 2025.

10 Sep 2025 - 21:14
Sempat Dipuji Wali Kota Saat Deklarasi Jogo Suroboyo, Warga Wonokromo Ternyata Cegah Polsek Dibakar Perusuh
Demonstrasi besar-besaran yang sempat terjadi pada akhir Agustus 2025 berujung kerusuhan pada malam hari (Ryan/SJP)

SURABAYA, SJP - Kerusuhan yang pecah pada akhir Agustus 2025 masih menyisakan cerita panjang bagi warga Surabaya. Hari itu, Jumat (29/9/2025), sebuah aksi demonstrasi serentak nasional berlangsung, namun di beberapa daerah, aksi tersebut berujung ricuh, termasuk di Kota Pahlawan.

Massa yang semula terdiri dari mahasiswa dengan almamater dan kelompok masyarakat sipil kota yang menyuarakan aspirasi tentang solidaritas Ojol dan tuntutan reformasi Polri, perlahan berubah menjadi kelompok perusuh jelang malam hari. 

Tidak hanya melakukan provokasi kepada masyarakat, kelompok tersebut juga sempat melakukan perusakan fasilitas publik hingga pembakaran. Bahkan salah satu cagar budaya ikonik di Surabaya yakni Gedung Negara Grahadi juga ikut terbakar.

Selain di kawasan tengah kota, salah satu titik paling rawan kala itu adalah di daerah Wonokromo, khususnya di area dekar Polsek Wonokromo dan kawasan Terminal Intermoda Joyoboyo (TIJ).

Di situ, sejumlah kelompok perusuh dikabarkan hendak melakukan aksi pembakaran gedung layanan masyarakat, terutama ke gedung Mapolsek Wonokromo. Namun rencana itu urung terjadi karena warga sekitar memilih tak tinggal diam.

Apresiasi dari Balik Deklarasi

Sebelumnya, dalam Deklarasi Jogo Suroboyo di Tugu Pahlawan pada 4 September 2025 lalu, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi secara terbuka menyampaikan rasa terima kasih kepada warga Wonokromo dan Bubutan. 

"Saya matur nuwun untuk warga Wonokromo yang kemarin ketika terjadi anarkistis, mereka mempertahankan Wonokromo dengan perjuangan yang luar biasa," ujar Eri pada (4/9/2025) lalu.

Baginya, aksi sigap mereka di tengah kerusuhan adalah bukti bahwa Surabaya masih punya daya tahan dari akar rumput.

Apresiasi itu juga sampai ke telinga Camat Wonokromo, Maria Agustim Yuristina. Ia membenarkan bahwa warganya memang turun langsung menghadang perusuh. 

"Alhamdulillah beliaunya Bapak Wali dan banyak lagi dari teman-teman kepolisian mengapresiasi warga kami," ucap Maria, Rabu (10/9/2025).

Tiga Kampung Bergerak dari Tiga Sisi

Maria menjelaskan bahwa saat kerusuhan pecah, situasi di Wonokromo memanas setelah Pos Polisi Pelayanan Lalu Lintas di Taman Bungkul, Wonokromo, Surabaya, dirusak dan dibakar. Peristiwa itulah yang kemudian memicu kemarahan warga sekitar.

"Berawal dari pengerusakan pos polisi itulah yang di KBS, warga keluar semua," jelasnya.

Warga dari Joyoboyo, Wonokromo SS, dan Darmokali kemudian bergerak serentak. Mereka melancarkan perlawanan dari tiga arah berbeda: sisi timur, barat, dan selatan. Posisi itu berdekatan dengan Jembatan Sawunggaling, Polsek Wonokromo, dan kawasan TIJ.

"Jadi memang warga tersebut betul-betul melakukan upaya, bahkan perjuangan untuk melawan perusuh yang kebetulan lewat di wilayah kami. Di situ warga melakukan perlawanan karena ada upaya dari pihak perusuh untuk melakukan penerusakan di kantor Polsek Wonokromo," tutur Maria.

Polsek Selamat, Warga Menang

Berkat aksi kompak warga, kantor Polsek Wonokromo selamat dari upaya pembakaran. Tidak ada fasilitas utama yang rusak, kecuali pos polisi yang lebih dulu jadi sasaran.

"Beliau-beliau warga Joyoboyo, Wonokromo SS, dan Darmokali itu secara bersamaan melakukan penyerangan dari tiga sisi wilayah yang berbeda. Polsek aman semua," tegas Camat Wonokromo itu.

Bagi Maria, perlawanan itu bukan sekadar keberanian spontan. Ia melihatnya sebagai bukti nyata solidaritas warga yang tak ingin kampungnya dikuasai perusuh. Dan pengakuan dari Wali Kota, menurutnya, adalah bentuk penghargaan atas keberanian warganya.

Cerita itu menjadi bagian penting dalam rangkaian Deklarasi Jogo Suroboyo. Bukan hanya ikrar di atas kertas, melainkan bukti di lapangan bahwa warga mampu berdiri menjaga kampungnya dan jaga warga lainnya. (*)

Editor: Rizqi Ardian 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow