Waspadai Perubahan Warna Ingus, Bisa Jadi Tanda Awal Masalah Kesehatan
Perubahan warna dan jumlah ingus bisa menjadi tanda awal adanya infeksi, alergi, atau penyakit serius seperti Parkinson dan Alzheimer. Warna ingus mencerminkan kondisi tubuh dan sebaiknya tidak diabaikan.
SUARAJATIMPOST.COM - Perubahan warna lendir hidung atau ingus sering kali dianggap hal sepele. Padahal, kondisi ini dapat memberikan petunjuk penting mengenai status kesehatan seseorang.
Warna ingus dapat menjadi indikator adanya infeksi, reaksi alergi, hingga gangguan kesehatan yang lebih kompleks seperti penyakit neurodegeneratif.
Secara alami, tubuh memproduksi sekitar 100 mililiter lendir hidung setiap hari. Sebagian besar dari lendir ini langsung mengalir ke tenggorokan tanpa disadari. Namun, jika warna atau jumlahnya berubah drastis, kondisi tersebut sebaiknya tidak diabaikan.
Menurut Dr. Raj Sindwani, dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan dari Cleveland Clinic, perubahan warna ingus dapat menunjukkan bahwa tubuh sedang merespons ancaman tertentu.
Dalam kondisi normal, lendir hidung berwarna bening. Warna ini menunjukkan bahwa saluran pernapasan berfungsi dengan baik. Namun, perubahan warna tertentu bisa menunjukkan adanya gangguan. Berikut beberapa arti warna ingus yang perlu diperhatikan:
Putih atau kekuningan muda: Mengindikasikan tubuh sedang mulai melawan infeksi virus seperti flu atau pilek.
Kuning kehijauan: Dapat menjadi tanda adanya infeksi bakteri atau peradangan pada sinus (sinusitis).
Merah muda atau merah: Biasanya disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah kecil di dalam hidung, akibat gesekan atau tiupan yang terlalu kuat.
Cokelat: Dapat terjadi akibat paparan asap rokok, debu, atau polusi udara.
Hitam: Jarang terjadi, namun bisa menjadi gejala infeksi jamur serius yang memerlukan perhatian medis segera.
Selain warna, jumlah lendir yang berlebihan juga bisa mengindikasikan adanya gangguan kesehatan. Produksi ingus yang meningkat secara signifikan bisa berkaitan dengan reaksi alergi, infeksi, atau bahkan gejala awal penyakit neurologis seperti Parkinson.
Dalam beberapa penelitian, lendir dari hidung diketahui dapat mengandung jejak protein tertentu yang berkaitan dengan kondisi seperti Alzheimer.
Salah satu penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam Journal of Allergy and Clinical Immunology pada Juli 2025 mengungkapkan bahwa perokok berat yang memiliki kadar protein IL-26 tinggi dalam ingusnya, berisiko lebih besar terkena penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
Meski belum digunakan secara luas sebagai alat diagnosis medis, pengamatan terhadap warna dan jumlah lendir hidung dinilai dapat menjadi metode awal untuk mengenali potensi gangguan kesehatan.
Oleh karena itu, apabila terdapat perubahan warna yang mencolok atau peningkatan produksi ingus disertai gejala lain seperti demam, sesak napas, atau nyeri kepala, sangat disarankan untuk segera berkonsultasi. (**)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

