Sastra Saraswati Sewana Yatra 2026 di Candi Tegowangi, Bukti Nyata Pluralisme di Kediri

Kegiatan ini merupakan perjalanan budaya dan spiritual yang menghubungkan lima titik suci di Jawa sebagai perwujudan pasabhan atau pertemuan kebudayaan Jawa–Bali.

16 Jul 2026 - 15:40
Sastra Saraswati Sewana Yatra 2026 di Candi Tegowangi, Bukti Nyata Pluralisme di Kediri
Sastra Saraswati Sewana Yatra 2026 yang digelar di pelataran Candi Tegowangi, Kabupaten Kediri. (Foto : Istimewa)
Sastra Saraswati Sewana Yatra 2026 di Candi Tegowangi, Bukti Nyata Pluralisme di Kediri

KEDIRI, SJP–Bupati Kediri, Hanindhito Himawan Pramana, hadir secara langsung menyaksikan pagelaran Sastra Saraswati Sewana Yatra 2026 yang berlangsung di pelataran Candi Tegowangi, Kabupaten Kediri, Rabu (15/7/2026) malam.

Kegiatan ini merupakan sebuah perjalanan budaya dan spiritual yang menghubungkan lima titik suci di Pulau Jawa sebagai wujud pertemuan kebudayaan (pasabhan) antara Jawa dan Bali. Candi Tegowangi menjadi titik singgah ketiga setelah sebelumnya rangkaian acara serupa digelar di Banyuwangi dan Batu, Malang.

Pemerintah Kabupaten Kediri berkolaborasi dengan Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) memberikan dukungan penuh atas terselenggaranya acara ini. 

Menurut Bupati yang karib disapa Mas Dhito tersebut, kegiatan ini memiliki nilai spiritual yang tinggi bagi umat Hindu sekaligus menjadi sarana mempererat persaudaraan.

"Tentunya ini bagian dari menjaga toleransi antar umat beragama," ujar Mas Dhito.

Pagelaran ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana edukasi nilai-nilai leluhur. Dua pertunjukan seni utama yang ditampilkan adalah: Topeng Sakral Sri Aji Dalem Jawi, sebuah pementasan yang mengingatkan kembali visi besar para leluhur dalam membangun persatuan nusantara dan Wayang Wong Tantri Nandaka Harana, pertunjukan yang menyampaikan pesan moral mengenai kebijaksanaan, kepemimpinan, keberanian, dan kemenangan dharma (kebenaran) atas adharma (ketidakbenaran).

Bagi Mas Dhito, pertunjukan ini membuktikan bahwa keberagaman adalah kekayaan yang nyata di wilayahnya. Kehadiran berbagai lapisan masyarakat untuk menyaksikan seni budaya menunjukkan kuatnya nilai pluralisme di Kediri.

"Pada malam hari ini, pluralisme itu hadir betul di Kabupaten Kediri ini," tegas Mas Dhito.

Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud, Anak Agung Gde Ngurah Ari Dwipayana, menyampaikan apresiasi mendalam kepada Bupati Kediri yang telah memfasilitasi terselenggaranya acara ini. Ia menekankan bahwa Candi Tegowangi memiliki kedudukan yang sangat istimewa dalam sejarah peradaban.

"Titik ini bukan hanya menjadi tempat yang biasa, tetapi adalah titik spiritual peradaban yang sangat penting," ujar Ari.

Ari juga mengungkapkan fakta menarik terkait sejarah candi tersebut. Candi Tegowangi menyimpan ajaran moral warisan leluhur yang tergambar dalam relief Kidung Sudamala. Menariknya, kisah Sudamala yang saat ini populer dan sering dipentaskan di Bali ternyata memiliki akar sejarah yang kuat dari candi ini.

"Cerita Sudamala ternyata bersumber dari apa yang tergambar di candi ini," pungkasnya. (***) 

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow