Saat Laut Tak Lagi Ramah: Koperasi Nelayan Gresik Jadi Penyelamat Penghidupan

Laut yang kian terhimpit oleh pengembangan lahan industri tak lagi menyisakan cukup ikan bagi para nelayan di Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Ketika jala tak lagi sanggup menopang dapur rumah tangga, Koperasi Nelayan hadir membuka kemudi baru: mengubah setir perahu menjadi kemudi shuttle wisata religi Sunan Gresik. Sebuah transformasi ekonomi tempat koperasi hadir sebagai penyelamat penghidupan pesisir.

24 Jul 2026 - 15:50
Saat Laut Tak Lagi Ramah: Koperasi Nelayan Gresik Jadi Penyelamat Penghidupan
Suasana terminal jasa shuttle antar-jemput peziarah yang koperasi Nelayan Al-Farizi, Kabupaten Gresik. (Foto: Anis/SJP)
Saat Laut Tak Lagi Ramah: Koperasi Nelayan Gresik Jadi Penyelamat Penghidupan

GRESIK, SJP — Berdaya di darat saat laut tak lagi ramah. Begitulah potret anggota Koperasi Nelayan Al-Farizi yang berada di kawasan pesisir Kabupaten Gresik, Jawa Timur, yang kini memutar arah penghidupannya dari melaut menjadi penyedia jasa transportasi peziarah wisata religi makam Syeh Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik.

Langkah inovatif koperasi ini tak hanya menyelamatkan ekonomi keluarga nelayan dari dampak penyusutan lahan tangkap akibat ekspansi industri, tetapi juga menjadi bukti nyata bagaimana koperasi membawa Indonesia berjaya dari akar rumput.

Situasi pelik itu salah satunya dirasakan oleh Muhammad Syaiful Ulum (51), warga Kelurahan Lumpur, Kecamatan Gresik. Sebagai tulang punggung keluarga, kini ia menggantungkan napas ekonominya pada Koperasi Nelayan Al-Farizi—koperasi yang menyediakan jasa shuttle antar-jemput peziarah dari terminal menuju kawasan wisata religi Makam Sunan Gresik.

Ia tercatat sebagai anggota Koperasi Nelayan Al-Farizi sudah berjalan sembilan tahun. Setiap hari, Syaiful mengantarkan para peziarah yang hendak menuju Makam Sunan Gresik menggunakan suttle sejauh tiga kilometer. "Keuntungan ikut Koperasi Nelayan Al-Farizi ini kebetulan menyediakan lahan kerja, terutama saat ini yang kami ikuti di bidang transportasi," kata Syaiful, Jumat (24/7/2026).

Syaiful mengatakan, anggota Koperasi Nelayan Al-Farizi banyak diisi dari para nelayan aktif, pekerja, dan mantan nelayan yang bekerja di jasa shuttle antar-jemput peziarah yang bermarkas di wilayah Desa Lumpur, Kecamatan Gresik. Ia bersyukur dengan keberadaan Koperasi Nelayan Al-Farizi bisa membuka peluang kerja masyarakat sekitar. 

Ditengah perkembangan industri Gresik yang kian berkembang, Syaiful menyebut tidak banyak peluang pekerjaan di semasa usianya sekarang. Profesi nelayan yang kian terhimpit ruang industri dan minim hasil tangkapan ikan membuat warga beralih mencari pekerjaan lain. "Bersyukur dengan Koperasi Nelayan Al-Farizi ini masih bisa mendapat penghasilan," jelasnya. 

Menjadi anggota koperasi, Syaiful diwajibkan membayar iuran untuk mengisi uang kas koperasi. Di mana, saat Rapat Anggota Tahunan (RAT) iuran yang sudah terkumpul akan dikembalikan ke masing-masing anggota sesuai dengan pendapatan operasional Koperasi. "Iuran per bulan Rp20 ribu per anggota. Kalau pendapatan Koperasi bagus, Sisa Hasil Usaha (SHU) yang kita terima saat RAT juga bagus," jelasnya. 

Tahun sebelumnya, ia dan para anggota lainnya menerima keuntungan lebih dari hasil iuran selama satu tahun. Dari iuran Rp20 ribu anggota per tahun terkumpul Rp240 ribu. Anggota merasakan untuk mendapat SHU dua kali lipat total iuran mencapai Rp400 ribu.

Jasa Transportasi Suttle Jadi Penopang Usaha Koperasi 

Keberadaan wisata religi makam Sunan Gresik yang berada di tengah kota Gresik, membuka peluang kerja bagi jasa shuttle antar-jemput peziarah dari terminal menuju kawasan wisata religi Makam Sunan Gresik, yang berjarak sekitar tiga kilometer. Dengan kondisi jalan kota yang menyempit, peziarah makam Sunan Gresik yang berangkat menggunakan transportasi bus besar tidak mungkin bisa parkir di area tersebut.

"Kondisi itu yang kita lirik sebagai peluang usaha koperasi sekaligus membuka pekerjaan bagi anggota. Koperasi bekerjasama dengan Damri menangani masalah jasa shuttle antar-jemput dari terminal ke makam Sunan Gresik," ungkap Ketua Koperasi Nelayan Al-Farizi, Jajuk.

Jajuk mengungkap, anggota Koperasi Nelayan Al-Farizi sekarang mencapai 125 orang terdiri dari pegawai operasional jasa shuttle dan warga yang mayoritas bekerja menjadi nelayan. Ia mengakui, dampak perubahan kondisi laut mengakibatkan para nelayan sekitar beralih profesi ke bidang lainnya. 

Beberapa diantaranya sekarang nelayan menjadi ojek antar-jemput bagi penumpang kapal besar yang sedang bersandar hingga menjadi sopir jasa shuttle. "Kita bersyukur jika Koperasi ini bisa membantu membuka peluang kerja bagi masyarakat sekitar," terangnya. 

Terkait pertumbuhan aset dan perputaran ekonomi, Koperasi Nelayan Al-Farizi sangat mengandalkan kedatangan para peziarah yang memakai jasa shuttle. "Jika saat ramai seperti liburan sekolah dan bulan muharram, bisa 100 bus per bulan dengan jasa antar-jemput Rp15 ribu per penumpang. Kalau sepi ya sebaliknya tidak ada penumpang," paparnya.

Pihaknya juga rutin menggelar RAT selama satu tahun sekali yang menjadi simbol bahwa keberadaan Koperasi Nelayan Al-Farizi sangat aktif. "Jika iuran Rp20 ribu anggota per tahun terkumpul Rp240 ribu. Tahun kemarin anggota merasakan untuk mendapat sekitar Rp400 ribu Pembagian Sisa Hasil Usaha atau SHU," paparnya. 

RAT menjadi salah satu indikator kesehatan koperasi 

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Gresik, Darmawan, menegaskan pertumbuhan koperasi akan selalu diiringi pelaksanaan Rapat Anggota Tahunan (RAT) yang menyatakan bahwa koperasi itu sehat. "Salah satu indikator koperasi sehat, pasti mengadakan RAT. Karena itu sebagai bentuk pertanggungjawaban dari pengurus terhadap anggota," ungkap dia. 

Darmawan menjelaskan, koperasi memang diciptakan agar bermanfaat bagi anggotanya sesuai slogan Koperasi dari, oleh, dan untuk anggota. Pelaksanaan teknis seperti iuran anggota, dilanjutkan bermacam kegiatan usaha mulai simpan pinjam, toko, jasa atau sebagainya yang kembali bermanfaat untuk anggota. 

Pelaksanaan RAT menjadi momentum yang paling ditunggu-tunggu para anggota koperasi. "Kalau semua bergerak dipastikan koperasibitu sehat," paparnya. 

Diskoperindag Kabupaten Gresik menegaskan akan selalu memberikan dukungan seperti pembinaan bagi seluruh koperasi yang ada di Gresik. Setidaknya tercatat aktif lebih dari 1.000 koperasi yang berada di Kabupaten Gresik. "Soal pembinaan, kita di dukung tata kelola koperasi terhadap pengurus dan pengawas bekerjasama dengan Dekopinda (Dewan Koperasi Indonesia Daerah)," terangnya.

KDKMP: Koperasi Berdaya, Indonesia Berjaya 

Dengan bertambahnya Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih / KDKMP), Diskoperindag Kabupaten Gresik optimis akan mewujudkan koperasi berdaya, Indonesia Berjaya. Penambahan KDKMP sebanyak 336 unit yang tersebar di Kelurahan/Desa se-Kabupaten Gresik bisa membantu kemandirian masyarakat.

"Akan luar biasa perekonomian di masyarakat, dengan berdirinya KDKMP. Perekonomian akan lebih bergerak dan terciptanya masyarakat yang lebih sejahtera karena segala kebutuhan tercukupi dengan harga bersaing lebih murah," kata Darmawan. 

Lanjut Darmawan, sepanjang prinsip koperasi itu dipahami oleh semua komponen mulai anggota, pengurus, sampai pengawas, maka dipastikan masyarakat akan berjaya. Koperasi berangkat dari gotong royong, saling menolong, di mana pendanaan berasal dari iuran anggotanya. 

"Hasilnya tidak kemana-mana, kembali ke anggotanya. Dari, oleh, dan untuk anggota, pasti masyarakat berjaya," pungkasnya. (*) 

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow