Rupiah Tembus Rp 17.800, Menkeu Purbaya Kelakar Ikut Stres
Nilai tukar rupiah ambles hingga tembus Rp 17.800 per dolar AS akibat ketegangan geopolitik di Iran. Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa buka suara.
JAKARTA, SJP— Gelombang ketegangan baru di Timur Tengah langsung menghantam pasar keuangan domestik. Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dilaporkan jatuh dalam hingga menembus level psikologis baru, yakni Rp 17.800 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg di pasar spot exchange, mata uang Garuda dibuka merosot 37,50 poin (0,21%) ke level Rp 17.833 per dolar AS. Tren negatif ini melanjutkan pelemahan dari hari sebelumnya yang sempat ditutup di posisi Rp 17.796.
Merespons guncangan ini, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa angkat bicara dengan nada berseloroh yang tak biasa usai melaksanakan salat Iduladha di masjid Kantor Pusat Ditjen Pajak, Jakarta Selatan.“Ya, saya stres,” kelakar Purbaya kepada awak media sambil tersenyum.
Mengapa Rupiah Ambles Padahal Ekonomi RI Bagus?
Pelemahan tajam rupiah kali ini terbilang anomali. Menkeu Purbaya menjelaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia saat ini sebenarnya berada dalam kondisi yang sangat sehat.
“Kan ekonominya bagus, ini terjadi ketika fundamentalnya bagus. Sebetulnya tidak masuk akal, biasanya melemah kalau ada gangguan di fundamental ekonomi,” ujar Purbaya.
Faktanya, pelemahan ini murni dipicu oleh sentimen geopolitik global. Pasar keuangan dunia bergejolak hebat setelah serangan militer AS ke Iran kembali membuka risiko konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Jalur pelayaran krusial dunia, Selat Hormuz, kembali terancam lumpuh.
Akibatnya, investor global berbondong-bondong menyelamatkan aset mereka ke mata uang *safe haven* seperti dolar AS. Tekanan ini tidak hanya memukul rupiah, tetapi juga membuat yen Jepang berfluktuasi kritis mendekati level intervensi (160 per dolar AS) dan melemahnya mata uang euro.
Gubernur Bank Sentral Jepang, Kazuo Ueda, bahkan memperingatkan bahwa guncangan harga minyak dunia akibat perang ini berpotensi terjadi dalam jangka panjang.
Meski mengaku "stres", Purbaya memastikan masyarakat dan pelaku usaha tidak perlu panik. Ia menegaskan bahwa skenario pelemahan rupiah hingga level ini sudah masuk dalam simulasi risiko pemerintah saat menyusun APBN 2026.
Meskipun tekanan terhadap mata uang Garuda kian nyata, Purbaya memastikan bahwa pemerintah sama sekali tidak perlu melakukan perombakan atau menghitung ulang postur APBN 2026.
Hal ini dikarenakan pemerintah telah mengantisipasi volatilitas tersebut dengan memasukkan simulasi pelemahan rupiah ke dalam kalkulasi risiko fiskal, termasuk skenario ekstrem jika harga minyak mentah dunia melonjak hingga mencapai angka 100 dolar AS per barel.
Ketahanan fiskal ini juga tecermin dari kondisi pasar obligasi pemerintah yang dinilai masih sangat stabil dan terkendali, sebuah indikator krusial untuk mempertahankan kepercayaan investor domestik maupun internasional terhadap surat utang negara.
Lebih lanjut, Purbaya mengeklaim bahwa sinyal positif sudah mulai terlihat dengan kembalinya aliran modal asing yang masuk ke pasar obligasi Indonesia.
"Kita sudah mulai melihat aliran masuk modal asing ke pasar obligasi kita. Dan ke depan akan ada tindakan pemerintah lagi yang membantu nilai tukar rupiah dengan lebih signifikan," jelasnya.
Atas dasar kalkulasi matang tersebut, Purbaya meminta seluruh lapisan masyarakat untuk tidak merespons dinamika ini dengan kepanikan dan mengimbau agar semua pihak tetap menghadapi situasi ini dengan kepala dingin. "Ya, tenang-tenang," pungkas Purbaya menutup keterangannya. (**)
Sumber: beritasatu.com
Editor: Danu
What's Your Reaction?

