Produksi Gula PG Modjopanggoong Capai 14.824 Ton, Sistem Penjualan Diserahkan ke Petani

Pabrik Gula (PG) Modjopanggoong, Tulungagung, mencatat produksi 14.824 ton gula. Pabrik ini menerapkan sistem baru dengan menyerahkan gula langsung kepada petani.

16 Aug 2025 - 23:10
Produksi Gula PG Modjopanggoong Capai 14.824 Ton, Sistem Penjualan Diserahkan ke Petani
Pekerja mengeluarkan gula dari dalam gudang PG Modjopanggoong untuk diserahkan ke petani mitra. (Foto: Beny/SJP)

TULUNGAGUNG, SJP — Pabrik Gula (PG) Modjopanggoong, Tulungagung, mencatatkan produksi sebesar 14.824 ton gula. Angka ini diperoleh dari hasil penggilingan tebu yang sudah berlangsung sejak 21 Mei 2025.

General Manager PG Modjopanggoong, Sugiyanto, menjelaskan bahwa hingga 85 hari masa giling, pihaknya telah memproses sekitar 231 ribu ton tebu. Dari jumlah itu, dihasilkan total gula mencapai 148.240 kuintal atau setara 14.824 ton.

"Produksi harian rata-rata sekitar 2.000 kuintal gula, dengan bahan baku tebu mencapai 31 ribu kuintal per hari,” ujar Sugiyanto, Sabtu (16/8/2025).

Dia mengakui bahwa kualitas rendemen tahun ini menurun dibandingkan tahun lalu. Rendemen yang ideal adalah angka 8, namun kali ini hanya mencapai 6,5.

“Awal giling di pertengahan Mei rendemen masih di angka 6 koma kecil, Agustus naik ke angka 7 koma, sehingga rata-rata hanya 6,5. Tahun lalu bisa mencapai 8. Turunnya rendemen dipengaruhi faktor cuaca, karena tahun ini termasuk kemarau basah," jelasnya.

Terkait penyerapan gula, PG Modjopanggoong memiliki mekanisme berbeda. Jika sebagian besar pabrik gula melakukan lelang, pihaknya justru menyerahkan langsung kepada petani.

"Mungkin kalau dari penyerapan gula itu, PG Modjopanggoong kan tidak melaksanakan lelang, tidak seperti PG-PG lain di luar PTPN X. Kami sesuai permintaan petani, jadi gulanya langsung kami sampaikan kepada mereka,” ungkap Sugiyanto.

Setelah petani menerima delivery order (DO), mereka bebas menentukan langkah selanjutnya. Apakah mau disimpan, dijual langsung, atau menunggu dua minggu kemudian.

"Apakah mau disimpan, dijual langsung, atau menunggu dua minggu kemudian, itu hak mereka. Jadi kami serahkan sepenuhnya kepada petani,” imbuh dia.

Menurut Sugiyanto, kebijakan ini cukup efektif. Sebab, pasar gula di Tulungagung relatif besar.

"UMKM di Tulungagung cukup berjalan, sehingga permintaan gula lokal juga tinggi. Tapi sistem ini jangan digeneralisasi, karena tiap PG punya kondisi lokal yang berbeda. Kalau diterapkan di PG lain belum tentu bisa berjalan," jelasnya.

Sugiyanto juga menyebut, harga gula dari pabrik saat ini berkisar Rp14.500 per kilogram. Karena sebagian besar sudah berada di tangan petani, proses jual-beli berlangsung di tingkat masyarakat.

"Rata-rata petani menjual sendiri gulanya. Itu lebih fleksibel, sekaligus menjadi jalan agar mereka bisa segera memenuhi kebutuhan, termasuk membayar biaya panen dan tenaga kerja,” pungkasnya. (*)

Editor: Ali Wafa

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow