Produk SIKAP Mulai Dilirik, Khofifah Tekankan Pentingnya Kualitas dan Jejaring Pasar
Khofifah juga mengajak seluruh sekolah pelaksana Program SIKAP untuk terus berinovasi dan mengikuti perkembangan teknologi pertanian, peternakan, maupun perikanan.
TULUNGAGUNG, SJP - Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus memperkuat pendidikan berbasis keterampilan melalui Program SIKAP (Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan). Program yang telah diterapkan di ratusan sekolah ini tidak hanya berfokus pada sektor pertanian sekolah, tetapi juga menjadi sarana membangun karakter produktif, mandiri, dan berjiwa wirausaha bagi para pelajar.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Aries Agung Paewai, saat mendampingi Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, berkunjung ke SMKN 1 Tulungagung, Kamis (14/5/2026) mengatakan, Program SIKAP kini telah berjalan di berbagai daerah, termasuk Tulungagung, Trenggalek, dan Pacitan. Menurutnya, sekolah didorong untuk memanfaatkan lahan kosong yang dimiliki sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan sekaligus pendidikan karakter siswa.
“Program SIKAP ini sudah membumi di Jawa Timur. Kita memanfaatkan lahan kosong untuk digunakan sebagai penguatan ketahanan pangan. Di Tulungagung, Trenggalek, dan Pacitan sudah banyak sekolah yang mengikuti Program SIKAP,” ujar Aries.
Aries menjelaskan, program tersebut dirancang agar siswa tidak hanya memperoleh pendidikan akademik, tetapi juga keterampilan hidup atau life skills. Para siswa dilibatkan langsung dalam kegiatan bercocok tanam, budidaya ikan, peternakan, hingga pengolahan hasil pertanian.
“Kita ingin sekolah-sekolah mengefektifkan lahan yang mereka punya untuk Program SIKAP. Pendidikan tidak hanya menghasilkan ijazah, tetapi juga keterampilan hidup. Anak-anak belajar menanam, memelihara ikan, beternak, sampai mengolah hasil tani,” katanya.
Ia menambahkan, Program SIKAP juga menjadi upaya menumbuhkan kembali kecintaan generasi muda terhadap sektor pertanian dan agribisnis yang selama ini menjadi kekuatan Indonesia.
“Kita membangun karakter anak-anak bahwa Indonesia punya agrobisnis dan pertanian yang luar biasa. Kita tumbuhkan lagi semangat mereka menjadi petani dan berkebun. Hasilnya nanti bisa mereka nikmati bersama sekaligus menjadi peluang berwirausaha,” jelasnya.
Berdasarkan data Dinas Pendidikan Jawa Timur, saat ini terdapat 97 sekolah pelaksana SIKAP di wilayah Tulungagung, Trenggalek, dan Pacitan. Rinciannya, 27 sekolah di Tulungagung, 24 sekolah di Trenggalek, dan 46 sekolah di Pacitan.
Sementara secara keseluruhan di Jawa Timur, Program SIKAP telah diterapkan di sekitar 176 sekolah negeri dan swasta dari total 493 sekolah yang ada.
“Tidak semua sekolah bisa menerapkan karena ada sekolah yang lahannya terbatas. Tapi yang punya potensi lahan kita dorong untuk memanfaatkannya, dan sebagian sekolah juga sudah mulai melakukan penjajakan,” ungkap Aries.
Untuk jenis tanaman yang dibudidayakan, sekolah-sekolah menanam berbagai komoditas seperti sayur-mayur, buah-buahan, hingga kacang-kacangan yang dinilai mudah dibudidayakan dan cepat dipanen.
“Yang ditanam macam-macam, ada sayur, buah, kacang-kacangan dan lainnya. Karena itu lebih mudah dan tidak terlalu lama untuk dipanen oleh siswa,” tambahnya.
Sementara itu, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa mengapresiasi pelaksanaan Program SIKAP yang dinilai telah menunjukkan perkembangan signifikan, khususnya di SMKN 1 Tulungagung.
Khofifah menilai program tersebut bukan sekadar kegiatan pertanian sekolah, melainkan proses pembelajaran nyata bagi siswa dalam mengenal sektor ketahanan pangan dan dunia usaha sejak dini.
“Kita memberikan ruang kepada anak didik untuk mulai mengenali, belajar, dan menyiapkan masa depan melalui berbagai ikhtiar yang akan menguatkan ketahanan pangan nasional,” ujarnya.
Menurut Khofifah, produk-produk hasil Program SIKAP kini mulai menunjukkan kualitas yang mampu bersaing di level lebih tinggi. Bahkan beberapa produk sudah ditampilkan dalam forum strategis, termasuk kegiatan Bank Indonesia.
“Saya melihat produk-produk SIKAP ini sudah mulai naik kelas. Kemarin dipamerkan di Hotel Westin dalam pertemuan Bank Indonesia se-Jawa dan produknya langsung diborong. Ini luar biasa,” katanya.
Khofifah juga mendorong sekolah untuk mulai memperkuat hilirisasi produk agar memiliki nilai tambah ekonomi lebih tinggi. Salah satunya melalui pengolahan kulit ikan patin menjadi produk makanan siap jual dengan standar produksi yang baik.
“Kita harus mulai memikirkan hilirisasi produk. Kalau kualitasnya dijaga, higienitasnya baik, dan produksinya standar, bukan tidak mungkin produk siswa SMK bisa masuk pasar nasional bahkan internasional,” tuturnya.
Ia menekankan pentingnya jejaring, kolaborasi, dan pendampingan industri agar produk-produk sekolah memiliki kualitas, kuantitas, dan keberlanjutan produksi yang mampu memenuhi permintaan pasar.
“Kalau ada buyer, tantangannya bukan hanya kualitas, tapi continuity dan quantity. Karena itu sekolah harus membangun sinergi dan kolaborasi seluas-luasnya,” tegas Khofifah.
Dalam kesempatan itu, Khofifah juga mengajak seluruh sekolah pelaksana Program SIKAP untuk terus berinovasi dan mengikuti perkembangan teknologi pertanian, peternakan, maupun perikanan.
“Kita harus terus improve. Ilmu berkembang sangat dinamis. Semua sekolah yang menerapkan SIKAP harus terus belajar dan mencari inovasi terbaru agar sektor hortikultura, peternakan, dan perikanan di sekolah bisa semakin maksimal,” pungkasnya. (*)
Editor: Syaiful Aries
What's Your Reaction?

