Dua Bersaudara di Nganjuk Bertahan Hidup dari Rongsokan, Tinggal di Hunian Tak Layak

Dua bersaudara harus berjuang menyambung hidup dengan mengandalkan sisa-sisa barang rongsokan dari tumpukan sampah demi sesuap nasi.

25 Apr 2026 - 19:52
Dua Bersaudara di Nganjuk Bertahan Hidup dari Rongsokan, Tinggal di Hunian Tak Layak
Dua bersaudara, Sarno (tengah) dan Supardi (kaos biru) warga Dusun Pengkol Lingkungan Waeujayeng (foto:kuswanto/SJP)

NGANJUK, SJP – Di tengah geliat aktivitas warga Dusun Pengkol, Kelurahan Warujayeng, Kecamatan Tanjunganom, tersimpan kisah pilu yang luput dari perhatian. Dua bersaudara, Sarno dan Supardi, harus berjuang keras menyambung hidup dengan mengais barang rongsokan dari tumpukan sampah demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Tanpa kehadiran orang tua maupun keluarga dekat, keduanya bertahan dalam keterbatasan yang serba sulit. Mereka tinggal di sebuah hunian sederhana yang jauh dari kata layak, dengan kondisi bangunan yang rapuh dan fasilitas yang sangat minim.

Kondisi semakin memprihatinkan karena Supardi, sang adik, mengalami keterbatasan fisik. Meski demikian, ia tetap memaksakan diri bekerja setiap hari. Untuk keluar masuk rumah, ia harus melewati jalan sempit yang hanya cukup dilalui sepeda dan membentang puluhan meter dari akses utama.

Dalam keseharian, Sarno dan Supardi menggantungkan hidup sebagai pencari rongsokan. Penghasilan yang diperoleh tidak menentu, bahkan kerap hanya cukup untuk sekadar mengganjal perut. Kebutuhan lain seperti kesehatan dan perbaikan tempat tinggal belum tersentuh.

“Kami hanya ingin bertahan hidup. Selama masih ada yang bisa dikumpulkan dan dijual, kami jalani,” ujar Sarno dengan nada lirih, menyiratkan harapan sederhana akan kehidupan yang lebih baik.

Untuk memasak, keduanya masih menggunakan tungku tradisional berbahan kayu bakar. Asap kerap memenuhi ruangan sempit tempat tinggal mereka. Sementara itu, fasilitas mandi dan sanitasi hanya berupa sekat sederhana dengan kondisi yang memprihatinkan.

Kisah mereka pun mengetuk kepedulian seorang tokoh sosial, Abah Ridwan atau yang akrab disapa Mbah Gondrong. Ia turun langsung ke lokasi untuk melihat kondisi nyata yang dihadapi Sarno dan Supardi.

Kunjungan tersebut bukan sekadar silaturahmi, melainkan upaya melakukan penilaian langsung terhadap kebutuhan mendesak yang harus segera ditangani. Dalam kesempatan itu, Abah Ridwan tampak berinteraksi hangat dengan keduanya, menghadirkan secercah harapan di tengah keterbatasan.

“Saya datang untuk memastikan kondisi riil di lapangan. Kita bisa melihat sendiri bagaimana keterbatasan fasilitas dasar yang mereka alami,” ujarnya, Sabtu (25/4/2026).

Menanggapi kondisi tersebut, Lurah Warujayeng, Okky Rio, menyatakan pihaknya akan segera melakukan verifikasi data terkait status bantuan sosial bagi kedua warga tersebut.

Ia menjelaskan, pihak kelurahan perlu berkoordinasi dengan bagian Pemberdayaan Masyarakat dan operator sistem untuk memastikan apakah Sarno dan Supardi sudah terdaftar sebagai penerima bantuan, termasuk Program Keluarga Harapan (PKH).

“Saya belum bisa memastikan karena harus cek data di sistem SIKS-NG. Nanti akan kami koordinasikan dengan bagian terkait,” ujarnya saat dihubungi.

Okky menambahkan, pengecekan data secara rinci akan dilakukan pada hari kerja berikutnya. Jika keduanya belum terdaftar sebagai penerima bantuan, pihak kelurahan akan segera mengupayakan pengusulan agar bisa mendapatkan bantuan sosial yang layak.

“Terima kasih atas informasinya. Kalau memang belum menerima bantuan, akan kami tindak lanjuti,” pungkasnya.

Kisah Sarno dan Supardi menjadi pengingat bahwa di balik hiruk-pikuk kehidupan, masih ada warga yang berjuang dalam keterbatasan dan membutuhkan uluran tangan dari berbagai pihak. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow