Perbedaan Perayaan Jumat Agung dalam Tradisi Katolik dan Protestan

Perbedaan perayaan Jumat Agung dalam tradisi Katolik dan Protestan meliputi ritual ibadah, penghormatan salib, gaya ibadah, serta praktik puasa, namun tetap memiliki makna yang sama.

03 Apr 2026 - 12:43
Perbedaan Perayaan Jumat Agung dalam Tradisi Katolik dan Protestan
Ilustrasi penyaliban Yesus Kristus sebagai simbol utama peringatan Jumat Agung dalam tradisi Kristen. (tiktok/ @emiii).

SUARAJATIMPOST.COM– Jumat Agung merupakan salah satu hari paling penting dalam kalender liturgi umat Kristen. Hari ini diperingati untuk mengenang wafatnya Yesus Kristus di kayu salib sebagai bentuk pengorbanan demi keselamatan umat manusia. Meskipun dirayakan oleh berbagai denominasi Kristen, terdapat beberapa perbedaan dalam cara memperingatinya, khususnya antara tradisi Katolik dan Protestan.

Dalam Gereja Katolik, Jumat Agung dirayakan dengan tata ibadah yang sangat terstruktur dan sarat makna simbolis. Ibadah ini biasanya terdiri dari tiga bagian utama, yaitu liturgi sabda (pembacaan Kitab Suci), penghormatan terhadap salib, dan ritus komuni. Suasana ibadah berlangsung hening dan khidmat, tanpa perayaan Ekaristi seperti pada hari-hari biasa. Selain itu, lonceng gereja tidak dibunyikan sebagai tanda duka.

Salah satu ciri khas perayaan Jumat Agung dalam tradisi Katolik adalah ritual penghormatan salib. Dalam prosesi ini, umat secara bergantian maju untuk mencium atau menyentuh salib sebagai bentuk penghormatan atas pengorbanan Yesus Kristus. Simbol-simbol liturgis seperti warna merah, lilin, dan altar yang sederhana juga memperkuat suasana reflektif dan penuh penghayatan.

Sementara itu, dalam tradisi Protestan, perayaan Jumat Agung cenderung lebih sederhana dan fleksibel. Tidak ada tata liturgi yang seragam di semua gereja Protestan, karena setiap denominasi memiliki kebiasaan masing-masing. Namun, secara umum, ibadah difokuskan pada pembacaan Alkitab, pujian, doa, dan khotbah yang menekankan makna penyaliban Yesus Kristus.

Berbeda dengan Katolik, sebagian besar gereja Protestan tidak memiliki ritual khusus penghormatan salib. Penekanan ibadah lebih diarahkan pada pemahaman firman Tuhan dan refleksi pribadi atas makna pengorbanan Kristus. Suasana ibadah tetap khidmat, namun biasanya tidak terlalu banyak menggunakan simbol-simbol liturgis.

Dari segi praktik puasa, Gereja Katolik memiliki aturan yang lebih jelas, yaitu umat dianjurkan untuk berpuasa dan berpantang, seperti tidak mengonsumsi daging pada hari Jumat Agung. Praktik ini dimaksudkan sebagai bentuk pengendalian diri dan refleksi spiritual. Di sisi lain, dalam tradisi Protestan, puasa tidak diwajibkan, melainkan bersifat anjuran dan dilakukan secara sukarela oleh masing-masing individu.

Selain itu, dalam tradisi Katolik, Jumat Agung merupakan bagian dari rangkaian Pekan Suci yang dimulai dari Minggu Palma hingga Paskah. Setiap hari dalam Pekan Suci memiliki makna dan tata ibadah yang khusus. Sementara dalam tradisi Protestan, penekanan lebih diberikan pada ibadah Minggu Paskah sebagai perayaan kebangkitan Yesus, meskipun Jumat Agung tetap diperingati sebagai hari refleksi.

Meskipun terdapat berbagai perbedaan dalam tata cara perayaan, baik Katolik maupun Protestan memiliki kesamaan mendasar dalam memaknai Jumat Agung. Keduanya meyakini bahwa kematian Yesus Kristus di kayu salib merupakan bentuk kasih terbesar Tuhan kepada manusia.

Nilai-nilai utama yang ditekankan dalam peringatan ini meliputi kasih, pengorbanan, pengampunan, serta harapan akan keselamatan. Jumat Agung juga menjadi momen bagi umat untuk merenungkan kehidupan, memperbaiki diri, dan memperdalam iman.

Dengan demikian, meskipun terdapat perbedaan dalam praktik ibadah dan penggunaan simbol, esensi dari Jumat Agung tetap sama bagi seluruh umat Kristen, yaitu mengenang pengorbanan Yesus Kristus dan menghayati makna kasih yang tulus bagi sesama.

Sumber: Beritasatu.com

Penulis: Febiana Dendo Ngara, Mahasiswa Magang Unitri

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow