Peran Forum Anak di Bondowoso Diproyeksikan Mampu Putus Rantai Bullying di Sekolah
Dinsos P3AKB Bondowoso menegaskan peran Forum Anak sebagai pelopor dan pelapor pencegahan bullying di sekolah. Sebanyak 37 pengurus dan 7 fasilitator disiapkan sebagai agen perubahan.
BONDOWOSO, SJP – Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (Disnsos P3AKB) Kabupaten Bondowoso menegaskan pentingnya peran Forum Anak Bondowoso (FAB) sebagai garda terdepan dalam upaya pencegahan dan pemutusan rantai bullying di lingkungan pendidikan.
Penegasan tersebut disampaikan Kepala Dinsos P3AKB Bondowoso, Mohammad Imron, dalam kegiatan Pra Pengukuhan Forum Anak Bondowoso VIII masa bakti 2026–2027, yang digelar di Graha NU, pada Kamis (18/12/2025).
Mohammad Imron menekankan, lembaga pendidikan seharusnya menjadi ruang aman bagi anak untuk belajar dan berkembang, bukan justru menjadi tempat yang menimbulkan rasa takut akibat praktik perundungan.
Menurutnya, bullying bukan sekadar candaan remaja, melainkan bentuk kekerasan yang dapat berdampak serius pada kesehatan mental, prestasi belajar, hingga keselamatan anak.
“Pengurus Forum Anak bukan sekadar simbol atau pencari sertifikat. Kalian adalah mitra pemerintah dan penyambung lidah anak-anak Bondowoso yang mungkin tidak berani bersuara,” tegasnya di hadapan calon pengurus FAB VIII.
Ia mendorong Forum Anak untuk menjalankan peran 2P, yakni Pelopor dan Pelapor. Sebagai pelopor, anggota Forum Anak diminta menjadi teladan dalam membangun budaya saling menghargai di sekolah. Sementara sebagai pelapor, mereka diharapkan berani melaporkan praktik kekerasan atau perundungan yang terjadi, termasuk yang kerap ditutupi.
Mantan Kepala Dinas Kesehatan ini juga mengingatkan pentingnya pemahaman terhadap empat bentuk bullying, yakni fisik, verbal, sosial, dan perundungan siber (cyber bullying). Seluruh bentuk tersebut dinilai sebagai pelanggaran terhadap hak anak yang tidak boleh ditoleransi.
“Kita harus membangun budaya zero tolerance terhadap kekerasan di sekolah. Diamnya saksi justru menjadi bahan bakar bagi pelaku untuk terus merundung,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Dinsos P3AKB Bondowoso, Hafidhatullaily, melaporkan, proses Open Recruitment Forum Anak Bondowoso VIII berlangsung selama kurang lebih satu bulan dan telah mencapai tahap pra pengukuhan.
Menurutnya, seleksi dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari seleksi administrasi, pembuatan konten individu, hingga wawancara mendalam yang melibatkan tim independen dan alumni Forum Anak.
“Antusiasme anak-anak Bondowoso sangat tinggi. Tercatat ada 53 pendaftar dari berbagai jenjang pendidikan, bahkan satu peserta masih duduk di bangku SD. Ini menunjukkan meningkatnya kesadaran anak terhadap hak partisipasi,” jelasnya.
Dari jumlah tersebut, terpilih 37 anak sebagai calon pengurus dan 7 anak sebagai calon fasilitator Forum Anak Bondowoso VIII. Mereka dinilai memiliki kepemimpinan serta kepedulian sosial untuk menjadi agen perubahan di lingkungannya.
Selain penguatan administrasi menjelang pengukuhan, kegiatan pra pengukuhan juga diisi dengan pembekalan materi pencegahan bullying, agar pengurus Forum Anak tidak hanya tercatat dalam SK, tetapi benar-benar berperan aktif sebagai pelopor dan pelapor kekerasan terhadap anak.
"Pemerintah Kabupaten Bondowoso berharap, melalui peran Forum Anak periode 2026–2027, angka kekerasan terhadap anak dapat ditekan secara signifikan dan tercipta lingkungan sekolah yang ramah anak, aman, serta bebas dari perundungan," harapnya. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

