Pentirtaan Jolotundo Diruwat, Lestarikan Budaya dan Aktualisasi Menjaga Alam di Mojokerto

Warga mempersembahkan sesajen kepada leluhur yang ada di Jolotundo disusul prosesi pelepasan burung dan penanaman pohon, sebagai bentuk aktualisasi menjaga dan melestarikan alam.

28 Jun 2025 - 17:22
Pentirtaan Jolotundo Diruwat, Lestarikan Budaya dan Aktualisasi Menjaga Alam di Mojokerto
Prosesi Ruwat Agung Pentirtaan Jolotundo yang dilakukan di lereng Gunung Penanggungan. (Foto: Syaiful/SJP)

MOJOKERTO, SJPSuasana sejuk di lereng Gunung Penanggungan ditambah asap dupa dan aroma khasnya menambah nuansa sakral penuh kedamaian pada kegiatan Ruwat Agung Pentirtaan Jolotundo, pada Sabtu (28/6/2025). 

Tampak ratusan warga Dusun Biting, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, dengan khidmat mengikuti ruwat agung yang digelar secara rutin setiap tahun itu. 

Ruwatan itu diawali dengan kirab agung budaya Nusantara dari Lapangan Sri Rahayu, Desa Seloliman, menuju kawasan Petirtaan Candi Jolotundo yang berlokasi di lereng Gunung Penanggungan. 

Dalam kirab itu, warga mempersembahkan sesajen kepada leluhur yang ada di Jolotundo, disusul prosesi pelepasan burung dan penanaman pohon sebagai bentuk aktualisasi menjaga dan melestarikan alam.

Bukan hanya menjaga pentirtaan dan tanaman, masyarakat juga melestarikan hewan yang ada di Jolotundo. 

"Ruat Agung Pantirtan Jolotundo adalah tradisi turun temurun dari nenek moyang warga Dusun Biting, Desa Seloliman, yang diselenggarakan tiap tahun tepatnya di bulan Suro, pasarannya Legi, harinya apa saja yang penting pasarannya Legi," kata Pemangku Adat Jolotundo, Romo Mukade, saat diwawancarai, Sabtu (28/6/2025). 

Kegiatan penuh sakralitas yang rutin dilaksanakan sebelum tanggal 10 Suro itu disebutnya bulan hanya dihadiri oleh warga setempat saja. Sebab, ruwatan Pentirtaan Jolotundo ini disebutnya juga melibatkan berbagai daerah di sekitar Gunung Penanggungan. 

"Ruat Agung ini dilaksanakan oleh warga Dusun Biting dan dihadiri Forkopimda, tokoh penggiat pelestari adat dan budaya di wilayah Mojokerto, Pasuruan, Malang, Jombang, Gersik, Surabaya dan banyak lagi," terang penggiat budaya yang akrab disapa Polo Jolotundo itu. 

Tujuannya, adalah sebagai refleksi rasa syukur kepada Tuhan, atas limpahan rezeki yang telah diberikan berupa air atau tirto yang memiliki berbagai kemanfaatan untuk masyarakat. 

"Kita selalu nyuwun limpahan yang selama ini sudah melimpah, Tuhan memberikan limpahan berupa air ya, dari Tirto Jolotundo ini, ini dibuat kebutuhan di rumah tangga warga dan untuk irigasi pertanian, tirto merupakan lambang kemakmuran," ungkapnya. 

Menurutnya, rangkaian acara ruwatan ini sudah dilaksanakan sejak sepekan lalu. Yakni kegiatan dengan istilah ngunduh tirto, yang berlokasi di lereng Gunung Penanggungan atau titik akhir Pentirtaan Jolotundo 

"Kita ambil di lereng Penanggungan di sisi timur yang dari wilayah Pasuruan, sisi selatan, barat dari Mojokerto," ungkapnya. 

Romo Mukade menjelaskan, dari berbagai penjuru sumber airnya diambil dan disatukan atau diruwat di Jolotundo. Ada 33 sumber yang diambil dari lereng Gunung Penanggungan. 

Menurut dia, setelah ruwatan harus dijaga. Sebab, banyak pengunjung yang berebut untuk mendapatkan air yang sudah diruwat. 

"Dari wilayah timur ada sumber tetek dan lainnya, disatukan diruat di Jolotundo, setelah diruat harus bisa kita menjaga, karena pengunjung berebut ingin mendapatkan tirto yang sudah diruat disatukan dari 33 sumber lereng Penanggungan," bebernya. 

Dia menandaskan, setelah ruwatan selesai, biasanya dilanjutkan dengan kegiatan pagelaran kesenian budaya daerah sebagai penutup. 

"Biasanya kita setelah ruwat itu, untuk kesenangan atau kebanggaan itu ada kesenian tradisional, ada ujung, bantengan, wayang kulit semalam suntup, biasanya gitu," tandasnya. (*) 

Editor: Ali Wafa

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow