Pengangguran Naik Jadi 5.024 Orang, Pemkot Batu Gelontorkan Rp1,1 Miliar untuk Cetak SDM Siap Kerja
Kenaikan jumlah pengangguran menjadi alarm bagi Pemkot Batu untuk mulai menggeser pola pelatihan kerja ke arah yang lebih adaptif terhadap kebutuhan industri modern. Dengan anggaran Rp1,1 miliar dan fokus pada keterampilan berbasis pasar, pemerintah berharap pelatihan tidak hanya mencetak pencari kerja baru, tetapi juga melahirkan pelaku usaha mandiri yang mampu membuka peluang ekonomi di tengah ketatnya persaingan kerja lokal
KOTA BATU, SJP - Lonjakan angka pengangguran di Kota Batu mulai mendapat respons serius dari pemerintah daerah. Melalui Dinas Tenaga Kerja Kota Batu, Pemkot Batu menyiapkan anggaran Rp1,1 miliar untuk program pelatihan kerja berbasis kompetensi pada 2026.
Kepala Disnaker Kota Batu MD Forkan mengatakan pada Rabu (13/5/2026), langkah tersebut diambil setelah data Badan Pusat Statistik menunjukkan jumlah penganggur di Kota Batu meningkat dari 4.667 orang pada 2024 menjadi 5.024 orang pada 2025.
"Anggaran yang bersumber dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) itu difokuskan untuk meningkatkan daya saing pencari kerja lokal agar lebih mudah terserap pasar kerja maupun membuka usaha mandiri. Kami ingin pelatihan ini benar-benar relevan dengan kebutuhan industri dan tren usaha saat ini. Fokusnya adalah keterampilan yang langsung bisa digunakan,” ujarnya.
Program pelatihan tersebut menyasar 120 pencari kerja yang dibagi dalam empat kelas utama dengan kuota masing-masing 30 peserta. Empat bidang yang diprioritaskan yakni digital marketing berbasis kecerdasan buatan (AI), pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), commercial make up, serta pelatihan barista.
Pemilihan jenis pelatihan itu disesuaikan dengan perkembangan kebutuhan pasar kerja di wilayah Malang Raya dan Kota Batu yang didominasi sektor jasa, pariwisata, industri kreatif, hingga bisnis kuliner.
Pelatihan digital marketing berbasis AI misalnya, diproyeksikan menjawab kebutuhan promosi usaha digital yang kini berkembang pesat. Sementara pelatihan K3 diarahkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga bersertifikasi di sektor industri dan konstruksi.
Di sisi lain, pelatihan make up dan barista dipandang memiliki peluang usaha mandiri yang cukup besar di tengah pertumbuhan sektor wisata dan menjamurnya kafe di Kota Batu.
"Intinya pemerintah daerah tidak ingin pelatihan hanya bersifat seremonial tanpa dampak nyata terhadap penyerapan tenaga kerja. Karena itu, model pelatihan mulai diarahkan pada kompetensi praktis yang memiliki nilai ekonomi dan peluang kerja lebih konkret dibanding pelatihan konvensional sebelumnya," imbuhnya.
Selain meningkatkan kemampuan teknis peserta, program tersebut juga diharapkan mampu menumbuhkan wirausaha baru di kalangan generasi muda Kota Batu. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

