Parenting SMAN 9 Surabaya, Celah Komunikasi Keluarga Dinilai Jadi Pemicu Pelajar Ikut Aksi Anarkis
SMAN 9 Surabaya gelar parenting “Mendampingi Generasi Emas Tanpa Cemas”, tekankan sinergi sekolah dan orangtua membangun kedekatan, komunikasi, dan pengasuhan bijak di era digital.
SURABAYA, SJP - Maraknya kasus yang melibatkan pelajar belakangan ini, khususnya kericuhan dan tindak anarkisme di Surabaya pada akhir Agustus 2025 lalu menjadi perhatian banyak pihak.
Salah satu faktor yang kerap disebut adalah renggangnya komunikasi dan kurangnya kedekatan antara orang tua dengan anak.
Hal itu dibuktikan dari ketidaktahuan orang tua tentang anaknya yang mengikuti aksi demo, hingga akhirnya dipanggil pihak kepolisian untuk menjemput anak mereka yang sudah diamankan.
Parenting Untuk Generasi Emas
Menjawab tantangan tersebut, Komite SMAN 9 Surabaya menggelar kegiatan parenting bertajuk “Mendampingi Generasi Emas Tanpa Cemas” pada Jumat, (19/9/2025).
Acara tersebut menghadirkan narasumber Syaiful Bachri, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Surabaya, serta Asteria, psikolog anak dari Puspaga Surabaya.
Mewakili Pelaksana Harian (Plh.) Kepala Sekolah, Wakil Kepala (Waka) Kesiswaan, Sutartik, menjelaskan bahwa kegiatan parenting sudah lama diprogramkan. Tujuannya adalah mempererat hubungan antara sekolah, orang tua, dan masyarakat.
"Kami intinya meminta dukungan dari masyarakat tentang apapun, baik mulai dana, pergaulan anak di luar, maupun hubungan anak-anak dengan bapak ibu guru," ujar Sutartik, Jumat (19/9/2025).
Rangkaian acara dimulai dengan sambutan PLH Kepala Sekolah, Sukirin Wikanto yang juga merupakan Kepala SMAN 5 Surabaya. Dirinya memberikan motivasi dan gambaran umum tentang SMA Kompleks yang terletak di jantung Kota Surabaya.
Adapun Ketua Komite SMAN 9 Surabaya yang menjelaskan pentingnya partisipasi masyarakat dalam pendidikan, termasuk menjelaskan perbedaan antara iuran, pungutan, dan sumbangan, yang mana kerap menjadi polemik.
Bagian berikutnya diisi paparan tim kurikulum mengenai lima kriteria kenaikan kelas, serta presentasi koordinator kokurikuler yang menjelaskan program pembelajaran di luar akademik. Para orang tua juga diajak berdiskusi tentang voting kegiatan luar kota, dengan opsi Surabaya, Malang, dan Yogyakarta.
Sesi puncak parenting untuk kelas X menghadirkan narasumber dari Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Surabaya yakni Syaiful Bachri, sementara sesi kelas XI diisi oleh psikolog anak, Asteria.
Siswa SMAN 9 Surabaya Tidak Terlibat Kericuhan
Berkenaan dengan kericuhan di Surabaya pada akhir Agustus lalu, pihak sekolah juga memastikan bahwa tidak ada satupun siswa SMAN 9 yang terlibat dalam kericuhan yang mengakibatkan Gedung Negara Grahadi itu terbakar.
Bendahara BOS SMAN 9 Surabaya, Koekoeh Soebagijo menjelaskan bahwa pihak sekolah bahkan memperketat sistem pengawasan siswa, termasuk absensi berbasis share location (shareloc) melalui WhatsApp agar memastikan bahwa para siswa tidak berada di zona merah kericuhan.
"Anak-anak wajib shareloc ke wali kelas sampai jam delapan malam. Setelah itu tanggung jawab kami kembalikan ke orang tua," tandas Koekoeh.
Peran Orangtua Sangat Penting
Syaiful menilai pola pengasuhan yang kurang tepat, terutama minimnya komunikasi, menjadi pemicu anak mencari pelarian di luar rumah. Hal itu membuat mereka rentan terlibat dalam kasus-kasus sosial, termasuk kericuhan yang sempat terjadi di Surabaya.
"Ketidakadanya komunikasi yang baik antara orang tua dengan anak membuat anak mencari pola di luar. Itu yang memicu keterlibatan mereka dalam demo akhir Agustus," tegas Syaiful.
Ia juga mengingatkan agar orangtua tidak gagap teknologi, karena dunia anak saat ini sangat dipengaruhi perkembangan digital. Orangtua perlu menjadi sahabat bagi anak, sekaligus menanamkan benteng utama berupa akhlak, tanggung jawab, dan disiplin.
"Didiklah anak sesuai zamannya. Kalau akhlaknya kuat, meski banyak ajakan negatif, mereka tidak akan mudah terbawa," tambahnya.
Dalam materinya, Syaiful Bachri menyoroti lemahnya komunikasi antara orang tua dan anak sebagai salah satu penyebab keterlibatan pelajar dalam aksi kericuhan.
"Ketidakadanya komunikasi yang baik antara orang tua dengan anak mengakibatkan anak mencari polanya di luar," tegas Syaiful.
Ia mengungkapkan, berdasarkan catatan Komnas Anak bersama Polda Jatim, kericuhan itu melibatkan pelajar dari 44 SMA/SMK, 13–15 SMP, bahkan dua sekolah dasar.
Syaiful juga menekankan pentingnya orang tua melek teknologi agar tidak tertinggal dari anak-anak mereka yang tumbuh di era digital. Bahkan dirinya mengutip kalimat dari Kekhalifahan Rasyidin, Ali bin Abi Thalib.
"Didiklah anak sesuai jamannya. Karena mereka akan hidup di zaman yang berbeda dengan kita," tukasnya.
Dengan kegiatan parenting sebagai edukasi bagi orangtua, maka diharapkan para wali murid sadar bahwa penguatan akhlak, disiplin, dan tanggung jawab tetap menjadi benteng utama bagi anak-anak agar siap menyongsong generasi emas Indonesia 2045. (*)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

