Pameran Lukisan Obor 6 di Kediri: Meluapkan Ekspresi dan Obat Rindu Seniman Lintas Kota
Sebanyak 56 lukisan karya seniman berbagai daerah di Jawa dipamerkan dalam Obor 6 yang digelar di Kediri pada 9 - 17 Agustus 2025.
KEDIRI, SJP - “Ini Pabrik Gula Mrican.” Dengan mata berbinar-binar, Jefri Irawan tampak bersemangat menjelaskan lukisannya pada pengunjung Pameran OBOR 6 di Teras Kuliner Pesantren, Jumat (15/8/2025) malam.
Telunjuknya mengarah ke lukisan pabrik gula dengan corak warna hitam putih dengan background langit batang tebu pada sisi kiri. Sementara, di sisi kanan digambarkan seorang pria bertopi dan berkaos lusuh yang digambarkan sebagai buruh tebang dengan ukuran dengan latar oranye.
Gambar bangunan dengan background tebu serta tukang tebang itu disambungkan beberapa helai daun tebu. Sebuah makna yang multitafsir. “Ini pemaknaannya tergantung perspektif penontonnya, namun secara garis besar ini merupakan mata rantai kehidupan antara buruh tebang dengan pabrik gula,” kata Jefri yang kediamannya tak jauh dari Pabrik Gula Mrican ini.
‘Pabrik Gula Mrican’ ini merupakan satu dari 56 lukisan yang ditampilkan oleh 28 pelukis dari berbagai wilayah di Jawa dalam ajang Pameran Lukisan Obor 6 di Teras Kuliner Pesantren pada 9 - 17 Agustus 2025.
Berbagai lukisan ditampilkan. Tak dibatasi genre atau alat tertentu. Rentang waktunya kuno kini. Dari lukisan ulama’ Hasyim Asy’ary, pahlawan: salah satunya proklamator Bung Karno, bangunan-bangunan bersejarah, kaligrafi, lukisan kuda, penari bali, pemandangan bahkan bercorak modern seperti anime hingga lukisan robot.
Bukan sekadar pameran, sebagian lukisan dijual jika ada pengunjung yang berminat membeli. Di label lukisan tertentu, tertera harga lukisan. “Pengunjung yang datang masih minim, jadi penjualan lukisan belum banyak. Ini murni ruang berekspresi kami,” ujar Agung Aji Sasongko, seniman asal Kediri yang menjadi inisiator Obor.
Diinisiasi sejak 2013, pameran Obor telah berlangsung enam kali. Dua kali di Kediri Mall, pameran Obor sempat terhenti oleh Covid-19. Setelahnya, pameran digelar di Teras Kuliner Pesantren pada 2024 berlanjut hingga tahun ini. Yang luar biasa, pameran ini digelar secara mandiri. “Teman-teman patungan. Kalau ada sponsor, biasanya produk. Bukan uang,” ujarnya.
Obor yang digelar tiap tahun menjadi momentum dinantikan. Lebih dari sekadar ruang berekspresi, even ini menjadi forum silaturahmi para-seniman. Bertemu sesama profesi menjadi obat kerinduan. Di ruang pamer, apresiasi juga selalu tertuju. Suntikan energi motivasi untuk berkarya lebih baik
Refleksi Kemerdekaan: Pentas Drama dan Sarasehan
Di sela rangkaian Pameran Obor 6, panitia menghelat refleksi: “Mencari Kebenaran Makna Kebenaran” pada Jumat, 15 Agustus 2025. Ada sarasehan, drama, baca puisi.
Mudjiono EMJE, seniman senior yang menjadi pembawa acara mengajak undangan untuk memaknai kemerdekaan dari masing-masing perspektif. Alumni ISBI Bandung ini juga memberikan ruang bagi audiens yang puisi secara spontanitas.
Pada drama ‘Ujung Penantian’ yang dibawakan oleh Teater Veteran Satoe mengisahkan tentang Ratri yang ditinggalkan seorang pria ketika hendak menikah. Ternyata, pria yang ditunggunya seorang pejuang kemerdekaan. “Ini adalah tema yang relevan dengan momentum saat ini, yakni nuansa kemerdekaan,” kata pendiri Teater Veteran Satoe Kediri ini.
Pria yang akrab disapa Nono EMJE ini berharap komunitas seni semakin eksis berkembang untuk menggebyarkan seni budaya pada masyarakat.
Sementara itu, Yuwono, ketua Dewan Kebudayaan Daerah Kota Kediri menyatakan salut atas konsistensi penyelenggaraan Obor yang sudah berlangsung enam kali. Obor memberikan ruang bagi mereka yang ingin berekspresi. “Semangat berkreasi, berekspresi, dan berprestasi diwujudkan dalam pameran bersama,” ujarnya
Menurut pria yang akrab disapa Wahyu Alam ini, Pameran Obor menginspirasi generasi muda. Siswa yang memiliki bakat dapat menggali ide dan mendapatkan suntikan semangat berkarya. “Siswa yang mempunyai potensi jiwa seorang seniman ataupun yang ingin mengungkapkan suatu konsep dapat memanfaatkan ruang-ruang ini, karena itu perlu digalakkan,” ujarnya.
DKD sendiri memiliki program berbagai lomba lukis anak dan remaja, serta berbagai ajang seni budaya tradisional sehingga memicu jiwa berkesenian sejak usia dini.
Ungkapan senada diungkapkan oleh Agung Aji Sasongko. Banyak juga pelukis muda yang terlibat dalam tiap penyelenggaraan Obor. Sehingga, memberikan ruang regenerasi seniman. “Belum tentu juga mesin tua lebih baik. Perlu regenerasi,” ujar Agung setengah berseloroh.
Kendati demikian, Agung juga menekankan perlunya perhatian lebih dari pemerintah. Sehingga, karya seni bisa lebih dihargai oleh masyarakat sehingga menunjang kehidupan seniman. “Misal wali kota hadir kemudian ikut menghargai dan membeli karya kami. Ini menjadi contoh bagi orang lain, entah itu pejabat atau masyarakat. Ini juga menunjang kehidupan seniman,” katanya. (**)
Editor : Danu S
What's Your Reaction?

