Musim Hujan Tekan Mobilitas, BPS Catat Aktivitas Transportasi Jatim Melambat pada November 2025

Memasuki musim hujan dan aktifnya La Niña, aktivitas transportasi Jawa Timur melambat pada November 2025, dengan penurunan penumpang dan logistik di hampir seluruh moda.

18 Jan 2026 - 22:29
Musim Hujan Tekan Mobilitas, BPS  Catat Aktivitas Transportasi Jatim Melambat pada November 2025
Kereta Api Indonesia (KAI) sebagai salah satu penggerak aktivitas transportasi di Jawa Timur (foto: beritasatu.com)

SURABAYA, SJP - Aktivitas transportasi di Jawa Timur mengalami perlambatan pada November 2025. Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat penurunan pergerakan penumpang dan barang di hampir seluruh moda transportasi, seiring masuknya awal musim penghujan yang rawan bencana serta mulai aktifnya fenomena La Niña di sebagian besar wilayah Indonesia.

Dalam Berita Resmi Statistik (BRS), BPS menyebut November menjadi periode transisi penting ketika intensitas hujan meningkat, memengaruhi mobilitas masyarakat dan kelancaran distribusi logistik. Kondisi cuaca yang kurang bersahabat itu turut berkontribusi terhadap melemahnya aktivitas transportasi udara, laut, dan kereta api di Jawa Timur.

Kepala BPS Jawa Timur, Zulkipli, menjelaskan bahwa penurunan mobilitas tersebut tercermin jelas pada sektor penerbangan. Jumlah penumpang domestik yang datang melalui seluruh bandara di Jawa Timur pada November 2025 tercatat sebanyak 472,35 ribu orang, turun 8,62 persen dibandingkan Oktober 2025.

"Jumlah penumpang yang berangkat dari bandara di Jawa Timur juga mengalami penurunan sebesar 7,79 persen, dari 530.061 orang pada Oktober menjadi 488.756 orang pada November," ujar Zulkipli saat dikonfirmasi pada Minggu (18/1/2026).

Bandara Internasional Juanda masih menjadi pintu utama pergerakan udara di Jawa Timur. Pada November 2025, bandara ini menguasai 94,91 persen total kedatangan penumpang domestik dan 94,90 persen total keberangkatan penumpang domestik. Meski demikian, secara bulanan, pergerakan penumpang di Juanda terkoreksi cukup dalam.

Secara tahunan, kinerja Bandara Juanda sebenarnya masih menunjukkan tren positif. Kedatangan penumpang tumbuh 2,85 persen dan keberangkatan meningkat 16,28 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. 

Namun, tekanan cuaca dan normalisasi mobilitas membuat pergerakan penumpang secara month-to-month turun masing-masing 8,70 persen untuk kedatangan dan 7,96 persen untuk keberangkatan.

Dari sisi logistik udara, aktivitas bongkar barang penerbangan domestik juga ikut melambat. Pada periode Oktober hingga November 2025, volume bongkar barang turun 1,47 persen, dari 1.359.120 kilogram menjadi 1.339.123 kilogram. Secara tahunan, penurunan tercatat sebesar 0,22 persen, dengan kontraksi terdalam terjadi di Bandara Abdurahman Saleh.

"Penurunan terbesar dialami Bandara Abdurahman Saleh, yakni mencapai 19,24 persen," kata Zulkipli.

Tekanan juga terjadi pada muat barang ekspor internasional melalui Bandara Juanda. Volume ekspor udara tercatat turun 11,40 persen, dari 897.456 kilogram menjadi 795.105 kilogram. Penurunan ini sejalan dengan berkurangnya frekuensi penerbangan ekspor internasional selama November 2025.

Perlambatan aktivitas transportasi tidak hanya terjadi di udara, tetapi juga merambah sektor pelayaran. Jumlah kapal singgah pelayaran domestik pada November 2025 turun 4,95 persen secara bulanan dan melemah 1,03 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. 

Pelabuhan Tanjung Perak tetap menjadi tulang punggung logistik maritim Jawa Timur, meski mencatat penurunan tipis jumlah unit kapal.

Untuk pelayaran penumpang domestik, kedatangan penumpang pada Oktober hingga November 2025 turun cukup tajam sebesar 22,99 persen, dari 93.614 orang menjadi 72.089 orang. 

Namun secara tahunan, angka tersebut justru meningkat 22,14 persen, dengan Pelabuhan Tanjung Perak mendominasi lebih dari separuh kedatangan penumpang domestik di Jawa Timur.

Sementara itu, pelayaran penumpang internasional yang seluruhnya dilayani melalui Pelabuhan Tanjung Perak menunjukkan tren berbeda. Pada November 2025, kedatangan penumpang internasional melonjak signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Di sektor perkeretaapian, jumlah penumpang kereta api di Jawa Timur pada periode Oktober–November 2025 tercatat sebanyak 2.202.700 orang, turun 3,61 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan terjadi baik pada layanan kelas lokal maupun kelas utama, dengan kelas lokal mencatat kontraksi paling besar.

"Kelas lokal tetap mendominasi kontribusi penumpang kereta api di Jawa Timur dengan porsi 60,2 persen dari total penumpang," ujar Zulkipli.

Secara keseluruhan, BPS menilai penurunan aktivitas transportasi pada November 2025 tidak lepas dari faktor musiman, termasuk meningkatnya curah hujan dan risiko bencana hidrometeorologi akibat aktifnya La Niña. (*)

Editor: Danu 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow