Minyakita Sulit Ditemui di Toko, Harga Minyak Goreng Kemasan Mulai Naik
Ketersediaan minyak goreng bersubsidi di sejumlah toko Kota Blitar masih terbatas dan bahkan sulit ditemui. Kondisi ini sudah terjadi sejak Ramadan hingga saat ini.
KOTA BLITAR, SJP - Ketersediaan minyak goreng bersubsidi merek Minyakita di sejumlah toko Kota Blitar masih terbatas.
Sejak Ramadan hingga kini, beberapa pedagang mengaku belum kembali menerima pasokan, sehingga produk tersebut sulit ditemukan di etalase toko.
Pemilik toko kebutuhan pokok di wilayah Kepanjenkidul bernama Budi Setyawan mengatakan sudah cukup lama tidak mendapatkan kiriman Minyakita dari distributor. Padahal, biasanya pasokan datang secara rutin.
"Sejak puasa sampai sekarang belum ada kiriman lagi. Biasanya dua minggu sekali bisa dapat sekitar 250 karton, tapi sekarang benar-benar kosong,” ujarnya, Rabu (22/4/2026).
Ia mengaku, ketiadaan Minyakita membuatnya harus mengandalkan penjualan minyak goreng kemasan non subsidi untuk memenuhi kebutuhan pembeli.
Menurut Budi, dalam beberapa pekan terakhir harga minyak goreng kemasan juga mengalami kenaikan sekitar 5 persen. Jika sebelumnya per karton sekitar Rp240.000 , sekarang sudah Rp250.000 . Dia memprediksi dikarenakan biaya kemasan juga ikut naik.
"Kalau pembeli pasti tetap cari minyak, jadi kami sediakan yang kemasan. Tapi ya harganya memang lebih mahal dibanding Minyakita," katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Blitar, Parminto, menyampaikan bahwa stok Minyakita sebenarnya masih tersedia di pasar tradisional. Pasokan tersebut baru didistribusikan dari Bulog kepada para pedagang.
"Di pasar tradisional masih ada. Kemarin baru ada distribusi, masing-masing pedagang mendapat sekitar lima karton," ucapnya.
Ia menambahkan, kenaikan harga juga terjadi pada minyak goreng kemasan ukuran dua liter. Dari sebelumnya sekitar Rp40.000, kini naik menjadi Rp44.500 hingga Rp45.000.
Di sisi lain, harga minyak goreng curah justru cenderung stabil, bahkan sedikit menurun di kisaran Rp21.000 ribu per liter di tingkat pedagang pasar. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

