Mengenal Lontong Cap Go Meh, Hidangan Khas Penutup Perayaan Imlek di Indonesia

Lontong Cap Go Meh merupakan hidangan khas Indonesia yang menjadi simbol akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa. Sajian ini selalu hadir sebagai penutup perayaan Cap Go Meh dengan makna kebersamaan, kemakmuran, dan harapan baik.

17 Feb 2026 - 19:04
Mengenal Lontong Cap Go Meh, Hidangan Khas Penutup Perayaan Imlek di Indonesia
Hidangan Lontong Cap Go Meh khas Indonesia yang disajikan saat perayaan Cap Go Meh ( siska uli) .

JAKARTA, SJP – Perayaan Cap Go Meh yang jatuh pada hari ke-15 setelah Tahun Baru Imlek menjadi momen penutup rangkaian perayaan masyarakat Tionghoa. Di Indonesia, perayaan ini identik dengan sajian istimewa bernama Lontong Cap Go Meh, sebuah hidangan yang lahir dari perpaduan budaya Tionghoa dan Jawa.

Cap Go Meh sendiri berasal dari dialek Hokkien yang berarti “malam kelima belas”.

Di Tiongkok, perayaan ini biasanya dirayakan dengan menyantap yuanxiao atau tangyuan, yakni bola-bola ketan yang melambangkan kebersamaan dan keutuhan keluarga.

Namun, ketika tradisi tersebut berkembang di Nusantara, khususnya di Pulau Jawa, terjadi penyesuaian budaya yang melahirkan menu khas yang berbeda.

Jejak Sejarah dan Akulturasi Budaya

Kehadiran Lontong Cap Go Meh tak lepas dari sejarah kedatangan masyarakat Tionghoa ke Indonesia sejak berabad-abad lalu. Banyak perantau Tionghoa yang menetap dan berbaur dengan masyarakat lokal, terutama di Jawa.

Dari proses interaksi inilah lahir komunitas Peranakan yang menggabungkan unsur budaya Tionghoa dan tradisi setempat, termasuk dalam urusan kuliner.

Alih-alih menyajikan tangyuan seperti di negeri asal, masyarakat Peranakan menggantinya dengan lontong, makanan berbahan dasar beras yang dibungkus daun pisang dan dikukus.

Perubahan ini mencerminkan adaptasi terhadap bahan pangan lokal tanpa meninggalkan makna perayaan Cap Go Meh sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur.

Ada pula kisah yang berkembang di masyarakat tentang tokoh pelaut legendaris Tiongkok, yaitu Cheng Ho. Konon, saat singgah di Semarang, rombongannya mengadakan lomba memasak hidangan untuk perayaan Cap Go Meh.

Dari keterbatasan bahan yang tersedia, terciptalah sajian berkuah dengan lontong dan aneka pelengkap. Seiring waktu, nama hidangan tersebut diyakini mengalami penyesuaian bunyi hingga dikenal sebagai Lontong Cap Go Meh.

Simbol dan Makna di Balik Sajian

Lontong Cap Go Meh bukan sekadar menu perayaan, tetapi juga sarat filosofi. Bentuk lontong yang memanjang dipercaya melambangkan doa untuk umur panjang.

Kuah santan berwarna kuning keemasan identik dengan kemakmuran dan harapan akan rezeki yang berlimpah. Telur yang menjadi pelengkap menggambarkan keberuntungan serta awal kehidupan yang baru.

Pelengkap lain seperti sayur lodeh rebung melambangkan keteguhan dan daya lentur, terinspirasi dari karakter bambu yang kuat namun fleksibel. Sementara opor ayam, sambal goreng hati, abon, acar, hingga kerupuk memperkaya rasa sekaligus mencerminkan keberagaman budaya yang menyatu dalam satu hidangan.

Identitas Kuliner Khas Indonesia

Di berbagai daerah seperti Semarang, Surabaya, hingga Jakarta, Lontong Cap Go Meh telah menjadi tradisi turun-temurun setiap Cap Go Meh. Menu ini bukan hanya dinikmati oleh masyarakat Tionghoa, tetapi juga oleh berbagai kalangan, menunjukkan bahwa akulturasi budaya dapat melahirkan warisan kuliner yang diterima luas.

Keberadaan Lontong Cap Go Meh menjadi bukti bahwa perbedaan budaya bukanlah penghalang, melainkan ruang untuk saling melengkapi. Dari sepiring lontong dengan kuah santan dan aneka lauk, tersimpan kisah panjang tentang sejarah, adaptasi, serta harmoni yang terus hidup dalam perayaan Imlek di Indonesia. (**)

Sumber: beritasatu.com

Penulis: Febiana Dendo Ngara, mahasiswa magang Unitri Malang

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow