Krisis Nilai Tukar Rupiah: Faktor dan Solusi Menurut Dosen ITS

Satrio Aji menyebut langkah pencegahan agar rupiah tidak semakin melemah bisa dilakukan dengan menjaga cadangan devisa milik negara oleh pihak pemerintah, sedangkan masyarakat bisa berperan dengan membeli produk lokal.

13 Jul 2024 - 17:00
Krisis Nilai Tukar Rupiah: Faktor dan Solusi Menurut Dosen ITS
Dosen Departemen Teknik Sistem dan Industri ITS Satrio Samudro Aji Basuki ST MT MBA (Dok. HUMITS/SJP)

Surabaya, SJP - Nilai tukar rupiah terhadap dolar kian melemah, bahkan data terakhir menunjukkan bahwa 1 dolar Amerika Serikat kini mencapai angka lebih dari Rp 16.000 yang membuat masyarakat khawatir akan adanya potensi inflasi.

Sehubungan dengan itu, Dosen Departemen Teknik Sistem dan Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Satrio Samudro Aji Basuki ST MT MBA berikan pandangannya untuk mengatasi permasalahan ini dari sisi ekonomi.

Satrio menjelaskan bahwa pelemahan rupiah disebabkan oleh deretan peristiwa yang dapat dikontrol dan tidak dapat dikontrol, yang mana faktor tersebut datang dari luar atau eksternal.

“Pandemi Covid-19 menjadi salah satu hal yang sulit dikontrol dalam perubahan ekonomi dunia,” ujar Aji, Sabtu (13/7).

Selain itu, tingginya suku bunga The Federal Reserve pasca pandemi juga menyebabkan penurunan jumlah dolar yang beredar, dengan suku bunga yang relatif tinggi maka aset berbasis dolar menjadi lebih menarik bagi investor dengan potensi keuntungan lebih tinggi dan juga aman. 

Sesuai dengan hukum permintaan dan penawaran, Aji menyebut bahwa nilai dollar cenderung menguat dibandingkan mata uang negara lain, termasuk rupiah.

Selain faktor eksternal, ia juga menyampaikan bahwa defisit Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) turut melemahkan posisi rupiah, menandakan kegiatan impor di Indonesia lebih banyak dibandingkan kegiatan ekspor. 

“Dengan kegiatan impor yang lebih besar dan kondisi rupiah yang melemah akan berdampak pada meningkatnya biaya impor,” jelas alumnus program magister National Taiwan University of Science and Technology (NTUST) itu. 

Aji memaparkan, bahwa langkah pencegahan agar rupiah tidak semakin melemah bisa dilakukan dengan menjaga cadangan devisa milik negara oleh pihak pemerintah. 

“Ketika permintaan dolar cenderung tinggi maka cadangan devisa ini bisa digunakan untuk memenuhi permintaan itu,” ucap Aji.

Dosen Laboratorium Perancangan Sistem dan Manajemen Industri ITS itu menerangkan bahwa upaya Bank Indonesia (BI) untuk menstabilkan rupiah dapat dilakukan melalui beberapa kebijakan yang bisa dikombinasikan untuk hasilkan strategi yang optimal dalam mengatasi inflasi. 

Aji juga menyebut bahwa momentum pesta demokrasi yang baru saja usai ini pun menjadi salah satu strategi yang tepat dalam memperbaiki regulasi dan tata kelola uang negara.

Dirinya menyoroti kesuki Presiden RI ke-3 dalam menguatkan rupiah yang menjadi potensi untuk terulang kembali, yang aman reformasi kala itu berhasil meningkatkan kepercayaan mata uang rupiah dalam kurun waktu yang relatif singkat.

Aji berpesan agar masyarakat lebih fokus berinvestasi dalam mata uang lokal untuk mendukung stabilitas rupiah untuk mengurangi permintaan dolar.

Masyarakat bisa berperan untuk mencegah inflasi dengan beralih ke produk-produk lokal guna mengefisiensikan impor sekaligus untuk kembali menguatkan kurs rupiah.(*)

Editor; Tri Sukma

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow