Korban Keracunan MBG di Boyolangu Bertambah, Dinkes Tulungagung Siagakan Faskes Sekitar

Berdasarkan data sementara sampai dengan Senin sore, terdapat 61 siswa yang dilaporkan sakit, dengan empat di antaranya menjalani perawatan intensif di RSUD Campurdarat.

13 Oct 2025 - 18:17
Korban Keracunan MBG di Boyolangu Bertambah, Dinkes Tulungagung Siagakan Faskes Sekitar
Sejumlah siswa yang diduga mengalami keracunan MBG dirawat di ruang pertemuan Puskesmas Boyolangu yang difungsikan sebagai ruang perawatan darurat. (Beny/SJP)

TULUNGAGUNG, SJP - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMP Negeri 1 Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, Senin (13/10/2025), diwarnai insiden dugaan keracunan massal.

Sejumlah siswa mengeluh sakit perut dan pusing setelah menyantap menu yang dibagikan pada pagi hari. Hingga siang, puluhan siswa mendapat perawatan medis, sebagian bahkan harus dirujuk ke rumah sakit.

Menurut Danang Wahyudi, Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana dan Prasarana sekaligus guru PJOK SMPN 1 Boyolangu, makanan program MBG tiba di sekolah sekitar pukul 07.00, kemudian pembagian makanan kepada siswa dilakukan sekitar pukul 07.30 WIB.

"Mulai ada siswa yang menunjukkan gejala keracunan sekira pukul 09.00 tadi ada yang melapor itu perutnya sakit, terus agak pusing gitu, merasa pusing-pusing," ujar Danang.

Melihat kondisi siswanya yang mengkhawatirkan, pihak sekolah segera mengevakuasi siswa ke Puskesmas Boyolangu dengan bantuan tenaga medis yang saat itu sedang berada di sekolah untuk kegiatan skrining kesehatan.

"Jadi langsung dipanggilkan ambulans, terus itu tadi penanganannya langsung dibawa ke Puskesmas," imbuh Danang.

Danang menjelaskan, program MBG di SMPN 1 Boyolangu sudah berjalan sejak akhir Mei 2025. Namun, menu yang dibagikan hari ini berasal dari penyedia baru, yaitu SPPG Desa Tanggung, menggantikan penyedia sebelumnya dari SPPG di Desa Pojok. Ia menyebutkan, ada perbedaan pada kemasan dan aroma makanan dari penyedia baru tersebut. 

"Makanannya tadi baunya menyengat," jelasnya.

Danang menambahkan, dari total 1.118 siswa penerima MBG, lebih dari 50 orang sempat dibawa ke Puskesmas dan empat siswa dirujuk ke RSUD Campurdarat untuk penanganan lebih lanjut.

Sementara itu, Kasatgas Percepatan MBG Kabupaten Tulungagung, Johanes Bagus Kuncoro, menyebutkan pihaknya saat ini fokus pada penanganan siswa yang mengalami gejala keracunan.

Berdasarkan data sementara, terdapat 61 siswa yang dilaporkan sakit, dengan empat di antaranya menjalani perawatan intensif di RSUD Campurdarat.

"Kita mitigasi dulu ya, artinya yang sakit sakit ini kita rawat dulu, ada yang di Puskesmas dan ada yang di rumah sakit. Ini yang sakit kita selamatkan dulu," ujar Bagus.

Terkait evaluasi terhadap penyedia makanan, Bagus menyatakan hal itu masih akan dikaji bersama pihak terkait, mengingat program MBG berada di bawah binaan Badan Gizi Nasional (BGN).

"Sementara kita belum ke arah sana. Karena kita lihat kewenangannya kan ini ada di BGN. Saya sebagai Satgas membantu supaya program (MBG) ini dapat berjalan lancar. Nah, ini ada seperti ini ya kita lihat dulu dimana nanti kesalahannya," jelas Bagus.

Dari sisi kesehatan, Plt Kepala Dinas Kesehatan Tulungagung, Anna Sapti Saripah, mengonfirmasi bahwa kondisi para siswa yang mengalami gejala keracunan yang dirawat di Puskesmas Boyolangu, berangsur membaik. Bahkan pada Senin sore beberapa anak yang gejala sakitnya ringan sudah diperbolehkan pulang.

"Ini sudah mulai membaik cuman kan harus dievaluasi walaupun anaknya sudah bisa jalan-jalan, kita kan nggak bisa memulangkan, harus kita pantau dulu," ujar Anna.

Meski begitu, seluruh kamar perawatan yang tersedia di Puskesmas Boyolangu tidak mencukupi untuk merawat puluhan siswa korban keracunan ini. Sebagian anak dirawat di ruang pertemuan Puskesmas yang dijadikan ruang perawatan darurat, untuk memudahkan pemantauan.

Dinkes Tulungagung juga menyiagakan sejumlah fasilitas kesehatan di sekitar lokasi, termasuk Puskesmas Boyolangu, Bangunjaya, Beji, dan Kauman, serta dua rumah sakit rujukan yakni RSUD dr. Iskak dan RSUD dr. Karnaeni Campurdarat, untuk mengantisipasi kemungkinan tambahan pasien.

"Nanti kan kelihatan kalau memang dalam pantauan kami sudah tidak ada pertambahan pasien kita ya sudah. Kita siaga sampai paling tidak 24 jam setelah kejadian," terang Anna.

Insiden ini kini dalam penanganan intensif lintas instansi. Pemerintah daerah bersama tim kesehatan tengah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penyedia makanan serta uji laboratorium terhadap sampel makanan untuk memastikan penyebab pasti dugaan keracunan. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow