Kondisi Destinasi Wisata Roro Kuning Nganjuk Memprihatinkan
Destinasi yang dulunya menjadi primadona wisatawan ini dilaporkan mengalami penurunan drastis dan sepi pengunjung selama hampir dua tahun terakhir.
NGANJUK, SJP – Di tengah gegap gempita dan suka cita masyarakat memperingati momen bersejarah Hari Boyong Nganjuk, sebuah potret memprihatinkan justru datang dari salah satu destinasi wisata andalan daerah, yakni Wisata Air Terjun Roro Kuning.
Destinasi yang dulunya menjadi primadona wisatawan ini dilaporkan mengalami penurunan drastis dan sepi pengunjung selama hampir dua tahun terakhir.
Kondisi ini diperparah dengan rusaknya berbagai fasilitas penunjang utama di area wisata. Salah satu yang paling disoroti dan dikeluhkan oleh para pelancong yang datang bertepatan dengan momentum Hari Boyong ini adalah rusaknya fasilitas Mandi, Cuci, Kakus (MCK) atau toilet umum.
Berdasarkan investigasi di lapangan, kondisi toilet umum di kawasan wisata Roro Kuning tampak sangat tidak terawat dan terbengkalai. Atap bangunan yang terbuat dari genteng terlihat rapuh, sebagian runtuh, dan kayunya mulai melapuk dimakan usia. Dinding bangunan yang bercat biru pudar dipenuhi noda kelembapan dan lumut di bagian dasarnya, serta dikelilingi oleh semak belukar yang mulai meninggi.
Ironisnya, sebuah papan pengumuman berwarna kuning terang dengan tulisan merah mencolok "MOHON MAAF TOILET RUSAK" terpasang di dinding pembatas, dipertegas dengan palang bambu seadanya yang dipasang menyilang sebagai tanda bahwa fasilitas sanitasi tersebut sama sekali tidak dapat digunakan oleh pengunjung.
Di sebelah bangunan utama, tampak pula struktur tambahan berdinding seng yang sudah berkarat dan kusam, menambah kesan kumuh di area yang seharusnya menjadi fasilitas publik yang bersih.
Beberapa pengunjung yang ditemui di lokasi dalam rangka liburan menyayangkan kondisi tersebut. Mereka mengeluhkan sulitnya mendapatkan akses sanitasi yang layak, padahal keberadaan MCK yang bersih merupakan kebutuhan mendasar bagi kenyamanan wisatawan, terutama bagi mereka yang membawa keluarga dan anak-anak.
"Sangat disayangkan, momentum hari jadi dan Boyong Nganjuk ini harus dicoreng dengan fasilitas wisata yang terbengkalai seperti ini. Roro Kuning ini punya nama besar, kalau toiletnya saja rusak parah dan dipagari bambu begini, pengunjung pasti kapok untuk datang lagi," ujar salah satu pengunjung asal Kertosono saat di lokasi. Sabtu (6/6/2026)
Keluhan tidak hanya datang dari para pelancong, melainkan juga dari para pelaku usaha mikro di dalam kawasan wisata.
Salah seorang penjaga warung di area Roro Kuning, Mbah Saril mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai carut-marutnya pengelolaan destinasi ini.
Menurutnya, kondisi fasilitas yang rusak dan penurunan jumlah pengunjung ini bukan terjadi secara tiba-tiba, melainkan akibat dari tata kelola yang memang sengaja dibiarkan mangkrak tanpa ada tindakan nyata dari pihak berwenang.
"Kondisi seperti ini sudah berlangsung lama, hampir dua tahun sepi. Masalahnya memang pada tata kelola yang seperti dibiarkan begitu saja, mangkrak tanpa ada perbaikan atau tindak lanjut dari pihak pengelola atau dinas terkait. Kami yang berjualan di sini sangat terdampak karena tidak ada daya tarik lagi bagi pengunjung," ungkap Mbah Sarip dengan nada kecewa.
Dampak dari pembiaran ini ternyata jauh lebih fatal dari sekadar penurunan jumlah kunjungan harian. Mbah Sarip bersama istrinya membeberkan bahwa rusaknya fasilitas MCK telah menghancurkan segmen pasar terbesar mereka, yakni kegiatan outbound dan kemah para pelajar sekolah.
Menurutnya, Roro Kuning dulunya merupakan lokasi favorit bagi sekolah-sekolah untuk mengadakan acara luar ruangan. Namun, buruknya fasilitas sanitasi membuat pihak sekolah dan wali murid melayangkan keluhan keras, hingga akhirnya kapok untuk kembali.
"Dulu di sini ramai sekali acara outbound anak-anak sekolah. Tapi begitu mereka tahu kondisi MCK-nya rusak parah dan terbengkalai seperti ini, semuanya langsung mengeluh. Sekarang, bisa dibilang sudah tidak ada minat lagi dari pihak sekolah untuk menggelar acara di sini. Tempat ini benar-benar kehilangan daya tarik," keluhnya saat ditemui Suarajatimpost di tempat usahanya.
Momentum Hari Boyong Nganjuk ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang seremonial, melainkan menjadi momentum tamparan keras bagi Pemerintah Kabupaten Nganjuk dan Dinas Pariwisata terkait.
Revitalisasi total dan pembenahan manajemen pengelolaan mutlak harus segera dilakukan jika tidak ingin salah satu aset sejarah dan alam terbaik Nganjuk ini mati total dan terlupakan. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

