Kematian Prajurit TNI AL Asal Bangkalan Disorot, Keluarga Desak Penyelidikan Tuntas

Kematian prajurit TNI AL asal Bangkalan berinisial GK (22) menuai sorotan. Keluarga menemukan kejanggalan dan mendesak penyelidikan transparan serta autopsi ulang.

04 May 2026 - 09:57
Kematian Prajurit TNI AL Asal Bangkalan Disorot, Keluarga Desak Penyelidikan Tuntas
Ayah korban, Mahbub Madani memberikan keterangan pascapemakaman, Senin 4 Mei 2026. (Foto: Beritasatu.com)

BANGKALAN, SJP – Kematian prajurit TNI AL asal Bangkalan, Jawa Timur, berinisial GK (22), menjadi sorotan publik. Pihak keluarga meminta agar penyebab kematian diusut secara tuntas karena menemukan sejumlah kejanggalan, termasuk dugaan adanya luka akibat kekerasan.

GK yang merupakan prajurit Tamtama berpangkat Kelasi Dua diketahui meninggal dunia saat bertugas di KRI dr Radjiman Wedyodiningrat di Jakarta. Ia baru mulai berdinas pada Februari 2026.

Jenazah korban telah dimakamkan di kampung halamannya di Kelurahan Kemayoran, Bangkalan, melalui upacara militer yang berlangsung khidmat. Namun, keluarga masih menyimpan tanda tanya terkait penyebab kematian tersebut.

Berdasarkan informasi awal, korban disebut meninggal dunia akibat bunuh diri di dalam kamar. Akan tetapi, ayah korban, Mahbub Madani, meragukan penjelasan tersebut.

"Kabar kepergian anak saya sangat janggal. Karena sebelumnya dikabarkan melarikan diri, malah keesokan harinya dikabarkan sudah meninggal dunia," ujar Mahbub, Senin (4/5/2026).

Ia menjelaskan, sehari sebelum kabar duka, dua orang yang mengaku sebagai komandan sempat datang ke rumah dan menyampaikan bahwa GK melarikan diri dari kapal. Namun, keesokan harinya, keluarga justru menerima informasi bahwa korban telah meninggal dunia.

Kecurigaan keluarga semakin kuat setelah melihat kondisi jenazah. Mahbub mengaku menemukan luka lebam serta ceceran darah di area selangkangan korban.

"Saya ayahnya, saya tahu anak saya sejak bayi. Tidak ada tanda lahir seperti itu," tegasnya.

Ia juga membantah penjelasan yang menyebut luka tersebut sebagai tanda lahir. Selain itu, keluarga mengungkap bahwa beberapa pekan sebelum meninggal, korban sempat mengeluhkan perlakuan keras dari seniornya melalui komunikasi telepon. Korban bahkan mengaku mengalami kekerasan bersama puluhan orang di atas kapal.

Atas dasar itu, keluarga berencana mengajukan keberatan resmi kepada TNI AL serta meminta dilakukan autopsi ulang secara menyeluruh dan transparan.

"Kami tidak terima anak saya disebut bunuh diri jika kenyataannya dianiaya," tegas Mahbub.

Keluarga menyatakan akan menerima hasil penyelidikan apabila terbukti tidak ada unsur kekerasan. Namun, jika ditemukan indikasi tindak pidana, mereka meminta proses hukum dilakukan secara terbuka dan adil.

Kasus ini pun menjadi perhatian publik dan menambah sorotan terhadap pentingnya transparansi dalam penanganan kematian prajurit saat menjalankan tugas negara.

Sumber: Beritasatu.com

Penulis: Rainila Otek, Mahasiswa Magang Unitri Malang 

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow