Kelezatan Garang Asem Tunggorono Jombang, Sajian Berbuka Puasa yang Menggugah Selera
Dalam sehari, pemilik warung bisa menjual 100 - 150 bungkus, dengan harga Rp20.000 per porsi, lengkap dengan nasi. Pelanggannya datang dari berbagai kota, mulai dari Jombang, Nganjuk, Mojokerto, hingga Surabaya.
JOMBANG,SJP - Aroma sedap menyeruak dari dapur warung di Desa Tunggorono, Jombang milik Erly Rachmawati. Uap hangat dari bungkusan daun pisang yang baru saja diangkat dari kukusan menyebarkan wangi khas garang asem, hidangan berkuah asam gurih yang menggoda selera.
Tak pernah terbayangkan oleh Erly bahwa hobi memasaknya akan berubah menjadi usaha yang ramai pembeli. Semua bermula dari sebuah acara arisan di rumahnya. Saat itu, wanita 47 tahun ini menyajikan garang asem buatannya kepada para tamu. Tanpa diduga, hidangan itu begitu disukai hingga banyak yang memesan untuk dibawa pulang. Dari situlah muncul ide untuk membuka warung makan yang kini menjadi tujuan para pencinta kuliner khas Jawa Timur.
“Awalnya tidak sengaja. Saya suguhkan di arisan, ternyata banyak yang suka dan pesan. Dari situ saya mulai berpikir untuk jualan,” ujar Erly, Minggu (2/3/2025).
Garang asem ala Erly punya ciri khas yang membedakannya dari tempat lain. Kuahnya kaya rasa, memadukan asam segar dari tomat dan belimbing wuluh, manis alami dari bumbu rempah, serta gurih dari ayam kampung yang diolah dengan teknik khusus. Ia tetap mempertahankan resep yang diwarisi keluarganya, yang menurutnya sudah pas di lidah banyak orang.
“Garang asem di sini lebih segar, asam, manis, dan gurih. Saya buat sesuai selera keluarga,” katanya.
Tak heran, dalam sehari ia bisa menjual 100 hingga 150 bungkus, dengan harga Rp20.000 per porsi, lengkap dengan nasi. Pelanggannya datang dari berbagai kota, mulai dari Jombang, Nganjuk, Mojokerto, hingga Surabaya.
“Alhamdulillah, banyak yang datang dari luar kota. Mereka suka rasanya,” ungkapnya.
Rahasia di Balik Seporsi Garang Asem
Kunci kelezatan garang asem terletak pada pemilihan bahan dan cara memasaknya. Erly hanya menggunakan ayam kampung yang dimasak setengah matang sebelum dicampur dengan bumbu rempah, lalu dibungkus dalam daun pisang. Setelah itu, ayam dikukus selama 30 menit, sehingga seluruh rasa meresap sempurna.
Saat bungkusan daun pisang dibuka, aroma harum langsung menyeruak. Kuah yang disiramkan di atas ayam menghadirkan perpaduan rasa pedas, segar, dan gurih yang seimbang.
Bagi Roni, salah satu pelanggan dari Kertosono, garang asem ini punya daya tarik tersendiri. “Rasanya benar-benar enak. Pedasnya pas, segarnya dapat, rempahnya terasa, dan daging ayamnya empuk. Porsinya juga pas untuk harga segitu,” ujarnya puas.
Warung sederhana ini kini menjadi tempat singgah bagi banyak orang yang ingin menikmati hidangan berbuka puasa dengan cita rasa khas. Setiap suapan garang asem bukan hanya menawarkan kelezatan, tapi juga membawa kisah perjalanan seorang ibu yang tanpa sengaja menemukan passion-nya di dunia kuliner. (**)
sumber : beritasatu.com
Penulis : Maria Karolina Bupu, peserta magang merdeka Universitas Tribuana Tunggadewi, Malang
Editor: Danu S
What's Your Reaction?

