Jasa Servis Spion di Pasar Tunggorono Jombang Bertahan di Tengah Gempuran Suku Cadang Baru

Cukup dengan mengganti komponen kaca yang rusak, pelanggan bisa mendapatkan spion yang kembali layak pakai dalam hitungan menit.

22 Mar 2026 - 22:00
Jasa Servis Spion di Pasar Tunggorono Jombang Bertahan di Tengah Gempuran Suku Cadang Baru
Darsono (65), tukang servis kaca spion di Pasar Loak Tunggorono, Kecamatan Jombang. (Ist/SJP)

JOMBANG, SJP – Di tengah menjamurnya bengkel variasi yang mengutamakan penggantian suku cadang baru, sebuah lapak sederhana di Pasar Tunggorono, Jombang, tetap menjadi rujukan utama bagi pemilik kendaraan yang mengalami kerusakan kaca spion. 

Darsono (65), pemilik lapak tersebut, telah menekuni profesi unik ini sejak 1994, atau selama 32 tahun.

Keahliannya terletak pada kemampuan memperbaiki spion pecah atau patah tanpa harus mengganti seluruh unit. 

Cukup dengan mengganti komponen kaca yang rusak, pelanggan bisa mendapatkan spion yang kembali layak pakai dalam hitungan menit.

“Rata-rata yang datang spionnya pecah. Di sini lebih hemat karena cukup ganti kacanya saja,” ujar Darsono saat ditemui wartawan, Ahad (22/3/2026).

Keahlian tersebut diperoleh Darsono dari seorang rekan yang mengajarkannya teknik servis kaca spion hingga pemasangan kaca mobil. 

Bermodalkan peralatan sederhana seperti pemotong kaca dan tang, serta ketersediaan stok kaca cembung maupun datar untuk motor dan mobil, Darsono mampu melayani berbagai jenis kendaraan.

Tarif servis yang ditawarkan cukup bervariasi. Untuk sepeda motor, biaya berkisar antara Rp20.000 hingga Rp50.000. Sementara itu, untuk mobil, truk, atau bus, tarifnya dapat mencapai lebih dari Rp100.000 per unit kaca spion.

Meski memiliki keahlian langka, hingga kini belum ada anak maupun kerabatnya yang meneruskan usaha tersebut. 

Darsono menyatakan terbuka bagi siapa pun yang ingin belajar. 

“Saya berharap selalu diberi kesehatan agar bisa membantu pengendara yang kesulitan mencari spion pengganti dengan harga terjangkau,” ucapnya.

Setiap hari, rata-rata empat hingga tujuh pelanggan datang untuk membeli kaca atau memperbaiki spion. 

Meski omzetnya menurun akibat pergeseran pola belanja masyarakat ke platform online, penghasilannya dinilai masih mencukupi kebutuhan keluarga. 

Sang istri pun turut membantu perekonomian dengan membuka warung makan dan kopi di dekat rumah.

Untuk menjangkau pelanggan yang tidak dapat berkunjung ke pasar, Darsono menyediakan layanan panggilan ke rumah-rumah. 

Selama Ramadan, ia beroperasi mulai pukul 07.00 hingga waktu ashar. Pada momentum Lebaran, ia hanya libur dua hari dan kembali bekerja pada hari ketiga.

Setelah puluhan tahun bertahan, Darsono berharap Pasar Tunggorono mendapat perhatian lebih dari pemerintah daerah. Ia menginginkan perekonomian di pasar yang dikenal sebagai sentra barang bekas (loak) ini kembali bergeliat.

“Harapannya pemerintah daerah bisa membantu pedagang kecil yang masih bertahan di Pasar Tunggorono,” pungkasnya. (*)

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow