Jagongan Budaya di Jombang: Kilas Balik Kejayaan Majapahit hingga Sumbangsih Soekarno untuk Indonesia
Para penutur sejarah silih berganti menapaki babak keemasan Kerajaan Majapahit hingga pengakuan kejayaan Indonesia di bawah Presiden Pertama, Ir. Soekarno.
JOMBANG, SJP – Para pegiat budaya dan sejarah Kabupaten Jombang meletakkan sejumlah gagasan tentang Indonesia dalam sebuah momen bertajuk "Jagongan Budaya". Para penutur sejarah silih berganti menapaki babak keemasan Kerajaan Majapahit hingga pengakuan kejayaan Indonesia di bawah Presiden Pertama, Ir. Soekarno.
Momen "Jagongan Budaya" bertepatan dengan malam bulan purnama pada penanggalan Jawa, Jumat malam (01/4/2026). Bertempat di Sanggar Wayang Topeng Tri Purwo Budoyo, Desa Jatiduwur, Kecamatan Kesamben, acara ini dihadiri pegiat budaya dari Trowulan Mojokerto, Kediri, dan Jombang. Di tempat tersebut, mereka berdoa bersama untuk kebangkitan Nusantara.
Sejumlah narasumber hadir dalam jagongan budaya dan doa bersama tersebut, di antaranya Budayawan Nasrul Ilah (Cak Nas), Pemerhati Sejarah Arif Yulianto (Cak Arif), Pemerhati Sejarah Ari Hakim, Pemerhati Budaya Supriyadi, Praktisi Budaya Isma Hakim, Pembina Situs Persada Soekarno Kediri RM. Kuswartono, serta Tokoh Spiritual Ki Budi Sejati.
Di awal acara, ditampilkan Tari Klono oleh anak-anak Desa Jatiduwur. Kemudian dilanjutkan dengan Tari Klono Wayang Topeng Jatiduwur sebagai simbol refleksi Raja Majapahit Hayam Wuruk yang menari menggunakan topeng berwarna emas.
Acara kemudian berlanjut dengan jagongan budaya yang mengulas masa keemasan Nusantara pada era Majapahit di bawah kepemimpinan Raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada. Dalam kesempatan tersebut juga dibahas sosok Sang Proklamator, Ir. Soekarno atau Bung Karno, yang mampu membawa Indonesia sejajar dengan negara adikuasa seperti Amerika Serikat dan Uni Soviet.
Pengelola Sanggar Wayang Topeng Tri Purwo Budoyo, Isma Hakim, mengatakan bahwa kegiatan ini dilaksanakan berdasarkan diskusi dan perenungan bahwa kebangkitan Nusantara harus dijemput, tidak hanya ditunggu.
"Kami memilih malam puncak Purnama sebagai refleksi Prabu Hayam Wuruk menari topeng berwarna emas. Pada masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada inilah masa keemasan Majapahit terjadi," ujar Isma Hakim dalan pesan diterima, Ahad (3/4/2026).
Isma Hakim berharap, ulasan sejarah Raja Hayam Wuruk dan Bung Karno beserta semangat kedua tokoh tersebut dapat menjadi spirit bagi Indonesia untuk bangkit seperti kondisi Nusantara pada masa keemasannya yang terkenal dengan "Gemah Ripah Loh Jinawi, Toto Tentrem Karto Raharjo".
Sementara itu, Pegiat Sejarah Ari Hakim berharap kegiatan serupa dapat memicu inisiatif yang sama di daerah-daerah lain.
"Untuk bersama-sama berdoa memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar kebangkitan Nusantara benar-benar segera diberikan kepada Indonesia," pungkasnya. (*)
Editor: Danu
What's Your Reaction?

