Eksis sejak 1982, Telur Ikan Sindujoyo Gresik Kini Laris Manis lewat Live Streaming
Telur Ikan Sindujoyo Gresik tetap eksis sejak 1982. Lewat strategi live streaming, penjualan meningkat pesat hingga nasional, dengan omzet harian melonjak dari Rp7 juta menjadi Rp12 juta.
GRESIK, SJP — Di tengah lorong sempit Pasar Gresik, aroma gurih khas kuliner tradisional tercium menggoda. Di sanalah Telur Ikan Sindujoyo masih bertahan sejak 1982, menyajikan rasa khas yang terus diburu pencinta kuliner, baik dari dalam kota maupun luar daerah.
Menariknya, eksistensi kuliner satu ini tak hanya mengandalkan pelanggan pasar tradisional. Sang penerus usaha, Mohammad Muis Ali Mudin, anak dari Bu Imah—pendiri Telur Ikan Sindujoyo—mengadopsi strategi modern lewat platform live streaming untuk meningkatkan penjualan.
“Jadi, kami baru memulai menggunakan platform live streaming ini sejak sebelum puasa kemarin. Hasilnya terbukti, penjualan semakin meningkat,” ujar Muis saat ditemui, Sabtu (26/7/2025).
Live streaming yang dia jalankan bisa menarik lebih dari 200 penonton. Selain itu, Muis memanfaatkan WhatsApp Business untuk menyebarkan katalog produk ke pelanggan. Pelanggan pun tak perlu jauh-jauh datang ke Gresik, karena pengiriman dilakukan ke seluruh penjuru Indonesia.
“Pengiriman terjauh hingga sampai ke Makassar, Kalimantan, dan Sumatera. Mungkin kesulitannya ketika pengiriman ke kota pelanggan yang tidak terdapat jasa ekspedisi online tersebut,” jelasnya.
Ayah Muis, Muridan, yang masih setia berjualan langsung di pasar, mengakui adanya peningkatan signifikan setelah memanfaatkan live streaming. Omzet melonjak drastis dari sebelumnya.
“Sebelum menggunakan live streaming, omzet hanya Rp7 juta per hari. Namun, setelah menggunakan live streaming, omzetnya bisa mencapai Rp12 juta per hari,” ungkapnya.
Telur Ikan Sindujoyo kini hadir di sejumlah titik penjualan di Kabupaten Gresik. Harganya cukup terjangkau, hanya Rp15.000 per ons. Buka setiap hari pukul 11.00 hingga 17.00 WIB. Untuk menjaga pasokan, bahan baku telur ikan mentah rutin didatangkan dari Surabaya, sekitar 12–14 kilogram sekali jalan. (*)
Editor: Ali Wafa
What's Your Reaction?

