Dukung Ekonomi Sirkular, UWKS Sulap Maggot Jadi Pelet Bergizi di Kampoeng Oase Songo

Maggot bukan sekadar pengurai sampah. Di tangan tim UWKS, larva mungil ini disulap jadi pelet bergizi, membuka peluang ekonomi sirkular bagi Kampoeng Oase Songo Surabaya.

06 Sep 2025 - 21:16
Dukung Ekonomi Sirkular, UWKS Sulap Maggot Jadi Pelet Bergizi di Kampoeng Oase Songo
Proses pengolahan maggot dan cangkang telur menjadi pelet bergizi di Kampoeng Oase Songo (Ryan/SJP)

SURABAYA, SJP - Kecil kecil cabe rawit, mungkin adalah ungkapan yang cocok untuk menggambarkan makhluk ini. Maggot, larva dari lalat tentara hitam (Black Soldier Fly) tidak hanya ampuh untuk mengurai sampah organik, tetapi juga punya potensi menggerakkan ekonomi sirkular di tingkat komunitas. 

Makhluk itulah yang kini disorot oleh tim dari Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) untuk dikembangkan menjadi pelet pakan ternak yang bergizi dan memiliki nilai jual yang tinggi.

Salah satu komunitas lingkungan berbasis masyarakat yang sudah menerapkan budidaya maggot adalah Kampoeng Oase Songo.

Tidak hanya membantu menekan volume sampah organik masyarakat, namun mereka juga mampu menjual produk seperti maggot fresh dan maggot kering sebagai sumber pendapatan lokal.

Ketua Tim PKM UKWS, Dr. Rondius Solfaine menjelaskan bahwa meski praktik itu sudah berjalan, namun menurut pihaknya, produk yang sudah ada masih belum mencapai nilai yang maksimal.

"Maksudnya apa, ya jadi produk yang sudah mereka jual masih bisa dikembangkan baik dari sisi formulasi nutrisi, stabilitas produk, maupun potensi komersialisasi yang lebih luas," jelas Dosen dari Prodi Kedokteran Hewan UWKS itu, Sabtu (6/9/2025).

Dari situlah ide PKM UKWS itu muncul, dengan tajuk 'Formulasi Pelet Ikan Maggot Berbasis Urban Farming Untuk Ketahanan Pangan dan Ekonomi Sirkular di Kampoeng Oase Songo Surabaya' PKM UKWS ingin mengembangkan produk yang sudah ada menjadi lebih bernilai, guna membantu UMKM lokal.

Riset dalam pengembangan formulasi pelet itu melibatkan lintas fakultas UKWS, meliputi Prodi Kedokteran Hewan, Fakultas Kedokteran, Prodi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan; dan Prodi Teknologi Industri Pertanian, FakultasTeknik.

Selain Rondius, dalam riset tersebut ia juga ditemani oleh dua dosen lain, yakni Dr. Dwi Haryanta dari Prodi Pendidikan Biologi dan Marina Revitriani dari Teknologi Industri Pangan, juga dua empat mahasiswa lintas prodi, meliputi Wakiatul Awliya, Raeva Sinatrya Henlifaristik, Annisa Nurul Aini.

Tujuan utama tim PKM menurut Dr. Rondius ialah merumuskan pelet berbasis maggot yang memiliki nilai nutrisi tinggi, tahan simpan, dan layak produksi UMKM. Selain maggot, tim juga akan memanfaatkan sampah cangkang telur yang juga banyak ditemukan di Kampoeng Oase Songo.

"Jadi bagan utamanya adalah maggot dan cangkang telur yang dicampur dengan formulasi yang kita kembangkan, agar bisa jadi produk yang terstandardisasi hingga mendapatkan paten untuk kemudian dikomersilkan," terangnya.

Saat ini pengembangan pelet tersebut sudah masuk tahap prototipe dan akan diuji lebih lenjut perihal ketahanan dalam kemasan, sebelum pelabelan dilakukan. Terkait komersialisasi, Dr. Rondius juga menghadirkan bimbingan teknis (bimtek) agar masyarakat bisa melakukan pemasaran di marketplace digital.

"Kita juga beri pembekalan terkait marketing, agar produk tidak berhenti pada tahap prototipe, melainkan mencapai konsumen melalui kanal penjualan modern," sambungnya.

Menanggapi pengembangan budidaya mereka, Yaning Mustikaningrum selaku Ketua Kampoeng Oase Songo menerima dengan baik inisiatif dari UWKS. Dirinya mengungkapkan bahwa sebelumnya, produk maggot segar atau kering yang pihaknya jual sudah berpotensi, namun terkendala bagian ketahanan dan manfaat.

"Jadi sebelumnya itu tidak bisa disimpan terlalu lama, tapi dikasih ke ayam atau lele gitu sudah bagus hasilnya. Jadi kami berharap saat sudah jadi pelet bisa tersimpan lama dan memiliki gizi yang lebih baik," ucap Yaning.

Saat ini, Kampoeng Oase Songo sudah bisa memproduksi setidaknya lima kilogram maggot setiap minggu. Karenanya, target utama dari Yaning ialang menjadi pemasok pakan di pasar ikan Gunung Sari.

Di sisi lain, sebagai Pembina Kampoeng Oase Songo, Adi Candra yang biasa dipanggil Cak Adi menyampaikan apresiasinya kepada pihak UWKS karena telah bersedia mengembangkan budidaya di komunitasnya.

"Tentu sangat bersyukur dengan adanya inisiatif ini, karena kita tahu maggot selain sebagai biokonversi pengelolaan sampah organik, tetapi juga bisa menjadi produk turunan berupa pelet magot yang sangat bermanfaat bagi hewan ternak," ujar Cak Adi.

Cak Adi berharap upaya dari UWKS bisa dilakukan dengan cakupan lebih luas, agar kebermanfaatannya dalam mendorong sirkuler ekonomi yang berkelanjutan tidak hanya dirasakan oleh Kampoeng Oase Songo, melainkan juga Surabaya maupun nasional.

Sebagai informasi tambahan, program dari UWKS itu didanai oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) melalui Kantor Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) wilayah 7 Jawa Timur dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UWKS melalui Hibah PKM dengan kontrak Nomor: 200/PM/LPPM/UWKS/V/2025, 28 Mei 2025.

Selain itu, kegiatan PKM di Kampoeng Oase Songo juga didukung penuh Kampoeng Oase Suroboyo Group, Indonesian Fighter Tourism Association (DPP IFTA) JELAJAH INDONESIA, Perkumpulan Pengelola Sampah dan Bank Sampah Nusantara (PERBANUSA) DPD I Jawa Timur, Himpunan Penggiat Adiwiyata Indonesia (HPAI) DPW Kota Surabaya, Yayasan Lestari Bumi Abadi (YLBA) Kota Surabaya, dan Forum Gerakan Sedekah Sampah Indonesia (GRADASI) Jawa Timur. (*)

Editor: Rizqi Ardian 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow