Di Balik "Si Efi", Pasar Pakis Malang Terus Menjaga Denyut Ekonomi Kerakyatan
Di tengah efisiensi anggaran dan pesatnya modernisasi, Pasar Pakis Malang tetap menjadi denyut ekonomi rakyat. Sekitar 500 pedagang bertahan dengan semangat gotong royong.
MALANG, SJP – Di saat pusat-pusat perbelanjaan modern terus bermunculan dan transaksi digital semakin mengubah pola belanja masyarakat, Pasar Tradisional Pakis di Kabupaten Malang tetap berdiri sebagai representasi ekonomi kerakyatan.
Bukan sebab bangunannya, melainkan semangat ratusan pedagang yang memulai perniagaan sejak dini hari, yang konsiten menjaga denyut perputaran ekonomi tetap hidup.
Jarum jam bahkan belum menunjukkan pukul 02.00 WIB ketika satu per satu kendaraan pengangkut hasil bumi mulai memasuki kawasan pasar.
Sayuran segar, buah-buahan, hasil laut atau perikanan, bumbu dapur hingga kebutuhan pokok lainnya berpindah tangan sebelum matahari terbit. Riuh tawar-menawar menjadi penanda bahwa pasar tradisional masih memiliki ruang di tengah derasnya arus modernisasi.
Di balik geliat tersebut, Pasar Pakis Malang masih menyimpan pekerjaan rumah yang belum terselesaikan. Infrastruktur pasar menjadi persoalan yang terus berulang. Usulan perbaikan disebut hampir setiap tahun diajukan, tetapi hingga kini belum juga mendapat sentuhan pembangunan.
Kepala Pasar Pakis, Kayumi, bahkan memiliki istilah tersendiri untuk menggambarkan dampak kebijakan efisiensi anggaran. Dengan nada berseloroh, ia menyebutnya sebagai "Si Efi".
"Dengan adanya si 'Efi', alias efisiensi, membawa dampak terhadap penanganan infrastruktur pasar. Hampir setiap tahun kami mengajukan perbaikan, tetapi sampai sekarang belum tersentuh. Kalau ada yang rusak, ya para pedagang lakukan secara swadaya atau tambal sulam agar aktivitas pedagang tetap berjalan," kelakar Kayumi.
Menurutnya, keterbatasan anggaran membuat pengelola pasar bersama para pedagang harus saling bergotong royong menjaga fasilitas yang ada. Perbaikan seadanya menjadi solusi sementara agar roda perdagangan tidak berhenti.
Saat ini, sekitar 500 pedagang aktif masih menggantungkan mata pencaharian di pasar tradisional Pakis. Mereka menjadi bagian penting dalam rantai distribusi kebutuhan pokok bagi masyarakat Pakis dan sekitarnya.
Pasar Pakis juga memiliki tradisi yang masih bertahan hingga kini. Setiap malam Jumat hingga Jumat siang, suasana pasar cenderung lebih lengang.
Bukan karena minimnya pembeli, melainkan adanya kepercayaan yang masih dipegang sebagian pedagang sehingga mereka memilih mengurangi aktivitas berdagang pada waktu tersebut.
"Kalau malam Jumat sampai Jumat siang memang lebih sepi. Itu sudah menjadi kebiasaan sebagian pedagang sejak dulu. Setelah itu aktivitas kembali ramai seperti biasa," ujar Kayumi.
Di tengah perubahan zaman, Pasar Pakis memang kerap dipandang berada dalam kondisi "urip-uripan" (hidup segan, mati pun tak mau). Namun setiap pukul 02.00 WIB, anggapan itu seolah dipatahkan.
Lampu-lampu kios kembali menyala, para pedagang membuka lapak, para pembeli berdatangan, dan denyut ekonomi rakyat kembali berputar.
Mungkin bangunannya belum sepenuhnya representatif, dan usulan pembangunan masih menunggu realisasi. Namun selama masih ada semangat gotong royong, tangan-tangan yang membuka lapak sejak dini hari, serta ratusan pedagang yang memilih bertahan, Pasar Pakis akan tetap menjadi representasi ketahanan ekonomi kerakyatan di Kabupaten Malang. Di tengah kehadiran "Si Efi", pasar ini membuktikan bahwa harapan tidak pernah benar-benar mati. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

