Cerita-Cerita Perempuan Pengemudi Ojek Online di Tulungagung yang Bertahan di Tengah Keterbatasan
Bagi mereka, jalanan bukan hanya tempat mencari nafkah, tetapi juga ruang di mana ia menguji ketahanan diri. Ia menghadapi kemacetan, kelelahan, hingga rasa khawatir yang datang tanpa jeda.
TULUNGAGUNG, SJP - Di sudut jalan Tulungagung yang ramai, di antara deru kendaraan dan panas yang tak bersahabat, Triyulianti menggenggam setang motornya lebih erat. Helm menutupi wajahnya, tetapi tidak dengan beban yang ia bawa setiap hari. Ia adalah ibu dari empat anak. Anak bungsunya masih berusia tiga bulan.
“Setiap hari saya harus meninggalkan anak saya yang masih kecil,” ujarnya.
Bagi Triyulianti, bekerja sebagai pengemudi ojek online bukan sekadar pilihan, melainkan jalan yang tersisa. Penghasilan suami yang tak menentu membuatnya harus turun ke jalan, menukar waktu bersama anak dengan harapan dapur tetap mengepul.
Air matanya kerap jatuh diam-diam, terutama saat mengingat momen-momen yang terlewat, senyum pertama, tangisan, atau sekadar memeluk anaknya lebih lama.
Namun, ia terus berjalan.
Kisah serupa juga dijalani Novi, seorang pengemudi taksi yang setiap hari menyusuri jalanan kota sejak subuh hingga larut malam. Ia bekerja sendirian untuk membesarkan anak semata wayangnya.
“Apa pun akan saya lakukan untuk anak saya,” katanya.
Bagi Novi, jalanan bukan hanya tempat mencari nafkah, tetapi juga ruang di mana ia menguji ketahanan diri. Ia menghadapi kemacetan, kelelahan, hingga rasa khawatir yang datang tanpa jeda. Tetapi di balik semua itu, ada satu hal yang membuatnya bertahan, masa depan anaknya.
Triyulianti dan Novi hanyalah dua dari sekian banyak perempuan yang memanggul beban ganda. Mereka menjadi ibu sekaligus tulang punggung keluarga. Dalam banyak kasus, mereka tidak hanya menafkahi anak, tetapi juga membantu orang tua dan saudara. Mereka bekerja bukan semata untuk bertahan hidup, tetapi untuk menjaga harapan tetap ada.
Di tengah perjuangan yang kerap sunyi itu, sebagian perempuan mulai menemukan jalan lain, bukan jalan yang mudah, tetapi setidaknya memberi ruang untuk bernapas.
Salah satunya melalui program pemberdayaan yang dijalankan oleh PT Permodalan Nasional Madani (PNM). Lembaga ini berfokus pada pembiayaan dan pendampingan bagi pelaku usaha ultra mikro, khususnya perempuan prasejahtera.
Melalui program Mekaar (Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera), perempuan-perempuan seperti Triyulianti dan Novi tidak hanya memperoleh akses permodalan, tetapi juga pendampingan rutin. Setiap minggu, mereka berkumpul dalam kelompok kecil di lingkungan tempat tinggalnya.
Kelompok ini bukan sekadar formalitas. Di sana, mereka saling berbagi cerita, kesulitan, dan strategi bertahan. Ketika satu orang mengalami kendala, yang lain ikut membantu. Sebuah sistem yang dikenal sebagai tanggung renteng, di mana solidaritas menjadi fondasi.
Pendampingan juga mencakup pelatihan sederhana, mengatur keuangan, mengelola usaha kecil, hingga membangun kepercayaan diri. Hal-hal yang bagi sebagian orang tampak sepele, tetapi bagi mereka menjadi bekal penting untuk melangkah.
Direktur Utama PNM, Arief Mulyadi, menyebut bahwa mandat lembaganya adalah menghadirkan dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat prasejahtera.
“Selama 26 tahun PNM diberikan mandat oleh negara untuk menciptakan dampak sosial dan ekonomi kepada masyarakat Indonesia,” ujarnya dalam keterangan, Kamis (26/3/2026).
Sementara itu, EVP Pengembangan & Jasa Manajemen PNM, Razaq Manan Ahmad, menekankan pentingnya peran perempuan dalam pembangunan.
“Perempuan merupakan motor penggerak utama dalam menciptakan kemajuan ekonomi dan sosial,” katanya.
Hingga awal 2026, program ini telah menjangkau jutaan perempuan di berbagai pelosok Indonesia. Namun, angka-angka itu hanya sebagian kecil dari cerita yang sebenarnya.
Di balik statistik, ada wajah-wajah seperti Triyulianti dan Novi, perempuan yang setiap hari bernegosiasi dengan keterbatasan, tetapi tetap memilih untuk bertahan.
Mereka mungkin tidak selalu terlihat dan tidak selalu terdengar. Namun, dari tangan-tangan merekalah, kehidupan terus berjalan. Harapan, sekecil apa pun, tetap dijaga agar tidak padam. (*)
Editor: Danu
What's Your Reaction?

