BUMDes di Pasuruan Sukses Budidaya Ayam Petelur Beromzet Puluhan Juta

Keberhasilan ini juga didukung oleh manajemen yang profesional. Sebanyak 1.000 ekor ayam petelur dikelola langsung oleh warga desa yang telah mendapatkan pelatihan khusus sebelumnya.

05 Feb 2026 - 09:00
BUMDes di Pasuruan Sukses Budidaya Ayam Petelur Beromzet Puluhan Juta
Salah satu perangkat desa Jatiarjo saat memberikan pakan ayam petelur (Foto: Isbi/SJP)

PASURUAN, SJP — Pemerintah Desa (Pemdes) Jatiarjo, Kecamatan Prigen, menunjukkan keberhasilan dalam memperkuat ketahanan pangan lokal. Melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), desa ini sukses membudidayakan ayam petelur yang kini mampu menghasilkan omzet hingga puluhan juta rupiah setiap bulannya.

Kepala Desa Jatiarjo, Dardiri, mengaku bahwa unit usaha ini merupakan bagian dari program strategis ketahanan pangan desa yang baru berjalan selama enam bulan. 

Meski tergolong baru, sambung dia produktivitas peternakan tersebut telah menunjukkan tren positif.

"Alhamdulillah, program yang berjalan kurang lebih enam bulan ini membuahkan hasil signifikan. Saat ini, produksi harian kami mencapai kisaran 50 kilogram telur per hari," ujar Dardiri saat ditemui di lokasi peternakan, Kamis (5/2/2026).

Kendati produktivitas terus meningkat, Dardiri mengakui bahwa hasil panen saat ini belum mampu memenuhi seluruh permintaan pasar yang tinggi. Oleh karena itu, pihak Pemdes mengambil kebijakan untuk memprioritaskan distribusi bagi warga setempat.

Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Sebagai bagian dari program ketahanan pangan, hasil panen dialokasikan untuk membantu warga kurang mampu serta memenuhi kebutuhan gizi masyarakat dengan harga di bawah rata-rata pasar.

"Kami memasarkan telur ini ke masyarakat dengan harga yang lebih terjangkau dibanding harga pasar. Tujuannya jelas, yakni pemenuhan gizi warga dan pemberdayaan ekonomi kerakyatan," terangnya.

Keberhasilan ini juga didukung oleh manajemen yang profesional. Sebanyak 1.000 ekor ayam petelur dikelola langsung oleh warga desa yang telah mendapatkan pelatihan khusus sebelumnya.

Kualitas telur tetap terjaga berkat standarisasi pakan yang ketat, yakni menggunakan campuran jagung, katul, dan konsentrat. Selain itu, proses budidaya dilakukan secara mandiri mulai dari tahap pembibitan awal. 

"Kami melibatkan tenaga kerja dari masyarakat desa sendiri. Ini adalah upaya konkret untuk menjawab kebutuhan pangan sekaligus mendongkrak perekonomian desa melalui pemberdayaan," pungkas Dardiri. (*) 

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow