Bulan Bung Karno: Kisah Kerabat Sang Proklamator yang Mengabdi dalam Ruang Kelas di Surabaya

Tak semua kisah Bung Karno ditulis dalam buku sejarah atau dikenang lewat monumen. Beberapa justru hidup dalam keluarga yang menjalani hidupnya dengan tenang, sederhana, dan penuh pengabdian di Kota Pahlawan.

29 Jun 2025 - 10:31
Bulan Bung Karno: Kisah Kerabat Sang Proklamator yang Mengabdi dalam Ruang Kelas di Surabaya
I Putu Mahendra Dharmawan Putra bersama sang nenek, Made Darwati saat ditemui di kediamannya (Ryan/SJP)

SURABAYA, SJP - Setiap kali bulan Juni datang, ingatan bangsa Indonesia kembali mengarah pada sosok yang begitu lekat dengan sejarah kemerdekaan, yakni Ir. Soekarno, proklamator sekaligus Presiden pertama Republik Indonesia. Bukan tanpa alasan Juni disebut sebagai Bulan Bung Karno, di bulan inilah berbagai peristiwa penting dalam hidup sang proklamator terjadi.

Mulai dari tanggal 1 Juni, saat Bung Karno pertama kali memperkenalkan Pancasila sebagai dasar negara dalam sidang BPUPKI. Lalu 6 Juni, hari kelahirannya di Surabaya pada tahun 1901. dan 21 Juni, hari ketika Bung Karno menghembuskan napas terakhirnya di Jakarta tahun 1970, menutup perjalanan panjang salah satu tokoh terpenting bangsa Indonesia.

Di tengah peringatan itu, muncul kisah yang tak banyak diketahui orang, yakni jejak kerabat Bung Karno di tanah kelahirannya, Kota Surabaya. Salah satu keturunan dari garis keluarga ibunda Bung Karno ternyata pernah mengabdi di Kota Pahlawan, bukan dalam ranah politik atau militer, melainkan di dunia pendidikan.

Kisah itu datang dari penuturan I Putu Mahendra Dharmawan Putra, seorang pendidik seni rupa sekaligus seniman asal Surabaya, dan dia adalah cucu dari keponakan Bung Karno. 

"Kalau dari garis keluarga, saya adalah piut (canggah) dari kakak ibunya Bung Karno," ungkap Mahendra saat ditemui di rumahnya, Minggu (29/6/2025).

Keturunan Baleagung Singaraja di Surabaya

Kisah itu bermula dari keluarga Nyoman Rai, ibu Bung Karno, yang berasal dari Baleagung, Singaraja, Bali. Nyoman Rai memiliki kakak bernama Made Pasek. 

Dari garis Made Pasek, lahirlah Ni Ketut Geria yang menikah dengan Nyoman Oka. Salah satu anak mereka, I Wayan Siwetyana Wisada, kelak menjadi keponakan Bung Karno dan menetap di Surabaya.

"Jalur keluarga ini memang tidak terlalu dikenal publik, tapi dalam keluarga kami, silsilah ini sangat dijaga dan diwariskan," kata Putu.

Siwetyana kemudian menikah dengan Made Darwati (juga dikenal dengan nama Emi Van Vrida) dan dikaruniai delapan anak. Salah satunya adalah Gede Nyoman Arya Sarwa Darmana, ayah dari I Putu Mahendra.

Memilih Menjadi Guru

Kakek dari Putu, I Wayan Siwetyana Wisada, bukan orang sembarangan. Ia lulusan Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Singaraja yang merupakan pendidikan elit pada masanya. Setelah lulus, Wayan bahkan pernah bekerja di Kantor Negara di Jakarta bersama Bung Karno.

Namun karier itu tidak ia lanjutkan lama. Bukan karena tak mampu, tetapi karena ada perasaan yang membuat dirinya tidak nyaman bekerja di Kantor Negara, yakni rasa seakan memanfaatkan nama besar keluarga.

Istri Wayan Wisada, Made Darwati yang kini berusia 89 tahun saat ditemui bercerita "Beliau merasa tidak enak hati, takut dikira numpang nama. Apalagi saat itu sebagian besar rekan kerjanya adalah lulusan sarjana, sementara beliau lulusan HIS," tutur Made Darwati menjelaskan karir suaminya yang telah meninggal tahun 1975 silam.

Setelah memilih keluar dari Jakarta, ia melanjutkan hidupnya sebagai guru. Dari Yogyakarta, ia akhirnya menetap di Surabaya dan mengajar di SD Pasar Turi, SD Kapasan, hingga menjadi kepala sekolah di SD Baratajaya (yang dulu bernama SD Karya Darma).

Istri Wayan Wisada, Made Darwati sempat bertemu Bung Karno dalam sebuah pertemuan keluarga besar Baleagung Singaraja tahun 1958. Acara makan bersama itu digelar di kantor Gubernur A.A Bagus Sutedja di Bali dan dihadiri oleh Bung Karno serta Ibu Hartini.

"Yang datang dari pihak keluarga kami waktu itu adalah Nenek saya Made Darwati, dan juga Mertuanya (Buyut saya) Nyoman Oka. Mereka datang sebagai perwakilan keluarga besar," ujar Putu.

Mewarisi Nilai, Bukan Popularitas

Kini, Putu mewarisi semangat pengabdian itu lewat jalur yang sedikit berbeda. Ia tidak mengabdikan diri dalam dunia pendidikan formal, melainkan dalam pendidikan seni, membimbing anak-anak belajar melukis dan menggambar melalui Lotus Art Courses (LAC).

"Kalau kakek saya guru sekolah dasar, saya sekarang guru gambar. Tapi semangatnya sama mendidik anak-anak, membentuk karakter, dan tetap membumi," tuturnya.

Kisah ini mungkin tak sebesar narasi revolusi atau pidato bersejarah Bung Karno. Namun ia memberi perspektif baru bahwa jiwa pengabdian dalam keluarga Bung Karno juga hidup dalam bentuk-bentuk yang lebih membumi, yakni melalui mengajar, membimbing, dan membangun masa depan lewat pendidikan.

Tak semua warisan Bung Karno ditulis dalam buku sejarah atau dikenang lewat monumen. Beberapa justru hidup dalam keluarga yang menjalani hidupnya dengan tenang, sederhana, dan penuh pengabdian.

Di bulan Juni ini, saat kita mengenang kembali Bung Karno dari berbagai sisi, kisah kerabat dari Bung Karno ini menjadi pengingat bahwa semangat kepemimpinan dan kerakyatan tak harus lantang. Ia bisa lahir dari ruang kelas kecil, dari meja gambar anak-anak, dari pilihan untuk tetap rendah hati di tengah garis sejarah yang agung. (***)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow