Budaya Kolot dan Senioritas pada Ajang Penerimaan Mahasiswa Baru, Pantaskah Dipertahankan?

Ajang penerimaan mahasiswa baru perlu perubahan dari budaya kolot menjadi aktivitas bermanfaat yang mendidik mahasiswa baru untuk lebih mengenal kampus baru mereka

20 Nov 2023 - 15:55
Budaya Kolot dan Senioritas pada Ajang Penerimaan Mahasiswa Baru, Pantaskah Dipertahankan?
Senioritas dalam penerimaan mahasiswa baru, masih relevankah?

Kota Malang, SJP - Pendidikan, mempertajam atau mempertumpul?
 
Kata-kata dari Heraclitos menjadi pembuka dalam tulisan kali ini. Sebab kata-kata tersebut cocok digunakan sebagai landasan teori dalam menyikapi pemikiran-pemikiran lama terkhususnya tentang pemikiran arogansi yang ingin mempertahankan suatu tradisi lama dalam suatu kegiatan.

Tradisi lama yang dimaksud ialah tentang kebiasaan yang diterapkan di salah satu kegiatan rutin yang diadakan satu kali setahun di setiap universitas, yaitu kegiatan yang dulu disebut ospek, pkkmb, diklat, ordik dan sebutan semacamnya.

Agar lebih jelas, pemikiran lama menyangkut tradisi seperti perpeloncoan, pungutan liar, dan lain sebagainya.

Segala sesuatu tentu harus berubah, terutama pada perubahan sistem yang terjadi di kepanitiaan.

Perubahan seperti apa sih?

Perubahannya seperti tidak ada lagi pungutan liar membeli baju, membeli teka-teki yang ujung-ujungnya hanya untuk keuntungan oknum-oknum tertentu, pengumpulan uang yang tidak transparan dalam artian tidak secara terbuka, mulai dihapuskannya sistem perpeloncoan.

Seperti, berbicara dengan pohon sampai pohon tersebut berbicara, menunduk serendah-rendahnya kepada senior, yang dalam bahasa kasarnya sudah dikencingi dan masih banyak lagi tradisi lama yang belum terungkap hingga sekarang.

Itu masih dalam skala kecil yang diketahui penulis, masih belum dalam skala besar dan lebih mendalam lagi, karena penulis masih mencari bukti-bukti lain yang lebih mendalam dari ilmu (pengalaman) orang-orang yang pernah Ordik/Diklat Unitri

Sebenarnya kenapa tradisi tersebut masih saja langgeng?
 
Apakah hanya karena ingin melatih keberanian, mental dan kekritisan mahasiswa baru? 

Jikalau seperti itu seyogyanya, kan masih banyak hal lain yang bisa dilakukan selain itu, dalam melatih mental, keberanian dan kekritisan mahasiswa baru.

Bukan seperti tindakan yang lalu lalu, yang hanya akan menimbulkan kebencian terhadap senior. 

Ya, bisa dikatakan senioritas yang berlebihan.

Memang kalau kita pandang dari sudut berbeda ada beberapa hal yang terkesan positif di era pendahulu.

Tapi setelah perkembangan zaman dan melejitnya modernisasi, hak asasi manusia adalah poin penting apabila kita timbang baik buruk nya suatu sistem di tradisi lama. 

 
Banyak pelanggaran HAM secara verbal lewat kata-kata yang terjadi pada sistem tradisi lama. Banyak juga yang memperlakukan mahasiswa baru secara semena-mena. Apakah ini yang di katakan mahasiswa sebagai pembawa perubahan?

Kita seharusnya belajar dari universitas lain!! Agar dapat tercipta suatu perubahan yang baik dikampus kita.

Kita ambil contoh di UGM (Universitas Gajah Mada). Sistem yang mereka buat di PPSMB tahun 2016.

Bayangkan saja di hari pertama mereka di suguhi hal-hal yang menyenangkan dari berbagai UKM yang ada atraksi terjun payung.

Lalu disambung hari kedua, mereka di ajak untuk melakukan permainan yang medidik, lalu mengajarkan tentang kebersamaaan, kerja cerdas dan masih banyak hal positif yang membuat mereka tidak bosan.

Di hari ketiga mereka di perkenalkan permainan tradisional yang mengangkat budaya-budaya yang hampir tergantikan dengan perkembangan teknologi yang ada, bahkan di zaman sekarang kita bisa mengunduh permainan di play store dengan mudah.

Di hari keempat mahasiswa baru diajak membuat formasi PPSMB (pelatihan pembelajar sukses mahasiswa baru) sekaligus memperingati hut RI ke 71.

Di hari kelima mereka di ajari softskill dan pengembangan karakter yang berguna untuk masa depan mahasiswa. Dan hari yang terakhir adalah hari yang paling di tunggu-tunggu semua mahasiswa baru membuat human LED dengan 5 formasi yang berbeda -beda dan sangat luar biasa.

Seorang yang dapat membawa kampusnya lebih baik ialah seorang yang memiliki pemikiran yang terbuka terhadap suatu perubahan. Bukan malah mati-matian mempertahankan tradisi lama yang menurut pandangan orang banyak tidak baik.

Tradisi lama yang tidak baik haruslah segera ditinggalkan dan digantikan dengan sistem yang lebih tepat, namun sebaliknya boleh saja dipertahankan, asal tradisi itu baik dan memiliki makna.

Namun kawan-kawan pembaca, apakah kalian merasakan hal yang sama dengan penulis? Yang tidak bisa tinggal diam dengan sesuatu yang seenaknya dilakukan terhadap kalian oleh oknum-oknum panitia diera kalian Diklat/ordik atau sejenisnya.
 
Tentu penulis merasakan betapa kesalnya kalian terhadap kejadian yang terjadi diera kalian Diklat/ordik, sampai-sampai kalian ingin membalasnya saat kalian nanti jadi panitia selanjutnya. Benar bukan?

Nah, hal seperti ini yang seharusnya dihapuskan dari pikiran-pikiraan mahasiwa baru. Semuanya harus dimulai dari perubahan. Jika suatu sistem tidak dirubah maka lingkaran setan seperti kebencian akan terus berlanjut ke generasi-generasi selanjutnya.

Penulis merasakan betul kebencian kalian melalui keluhan-keluhan kalian terhadap pungli, perpeloncoan, kekerasan dan tindakan semena-mena.
Maka penulis mencoba untuk mewakili perasaan kalian yang belum menyuarakannya melalui sebuah tulisan ini.

Semoga melalui tulisan ini para oknum-oknum pelaku kekerasan, perpeloncoan, pungli dan lain sebagainya dapat terbuka pemikirannya dan dihapus sistem lama.

Menanggapi kejadian tentang itu penulis tentunya merasakan kegeraman yang amat sangat, setelah mendengar dan berdiskusi langsung dengan para korban Diklat jurusan,

Seperti kata seorang pemuda revolusioner dari kuba yang mengatakan bahwa jika anda geram dengan suatu ketidakadilan maka anda adalah kawan saya, ya begitulah perasaan yang dirasakan.

Demikian tulisan ini diterbitkan, untuk mewakili perasaan kalian yang sudah meluap-luap.

Kesadaraan merupakan sesuatu yang penting. Orang yang tidak cepat sadar dan tidak menerima sesuatu hal yang mutlak tentang perubahan suatu sistem pantas di bilang sang pemikir yang arogan.

Perlu di catat akibat tradisi lama yang di terapkan sampai menelan korban jiwa, seperti yang dikutip dari salah satu media online, pada kegiatan ospek mahasiswa baru institut teknologi nasional (ITN) tahun 2013 lalu di malang menelan korban jiwa yang bernama Fikri Dolasmantya Surya.

Maka dari itu aturan-aturan baru mulai bermunculan di negara kita. Salah satunya kegiatan pkkmb sesuai dengan keputusan direktur jendral pembelajaran dan kemahasiswaan nomor 116/B1/SK/2016 sebagai dalil kegiatan PKKMB yang mengharuskan keterlibatan para dosen dan mahasiswa, tenaga pendidikan, serta dengan disesuaikan kebutuhan dan kondisi perguruan tinggi.

Jadi sudah jelas dong, keterlibatan para ASN itu sudah biasa, asalkan tetap berada dijalan yang benar, tidak jadi masalah.

Akan tetapi konyolnya ialah orang yang mempermasalahkan bahwa kegiatan tersebut harus murni mahasiswa dan tidak mau dipimpin oleh ASN, sungguh pragmatis pandangan orang yang seperti itu.

Sudah ada aturan yang jelas demi mengantisipasi agar tidak terulang kembali hal-hal yang mengerikan bahkan sampai merengut korban jiwa.

Itu merupakan pemikiran arogan yang hanya menginginkan bahwa tradisinyalah yang paling baik diterapkan saat ini.

Sudah jelas zaman sudah berubah tentu sistem pula mau tidak mau harus berubah.

Untuk orang yang tidak mau menerima perubahan maka penulis mengutip kata-kata dari Joseph Addisson bahwa “Orang yang sudah amat aman di lingkungannya, biasanya memusuhi perubah".

Penulis: Yuki Setiawan Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Tribhuwanatunggadewi

Disclaimer : Segala isi di rubrik OPINI, baik berupa teks, foto, maupun gambar merupakan pendapat pribadi penulis dan segala konsekuensi bukan menjadi tanggung jawab redaksi.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow