Budaya Anyam di Wajak Malang Digali Kembali, Legislatif Tekankan Inovasi dan Hilirisasi

Budaya anyam baik dengan bahan dasar bambu atau mendong di Wajak digali kembali. Tantri Baroroh dan Paguyuban Amartya Bhumi dorong inovasi, hilirisasi, serta nilai ekonomi.

23 Sep 2025 - 22:20
Budaya Anyam di Wajak Malang Digali Kembali, Legislatif Tekankan Inovasi dan Hilirisasi
Anggota DPRD Kabupaten Malang, Dr. Tantri Baroroh, bersama Paguyuban Amartya Bhumi Kepanjen meninjau kerajinan mendong di Desa Patani, Kecamatan Wajak. Kabupaten Malang (Foto : Hafid/SJP)

MALANG, SJP — Budaya mendong yang sejak lama melekat dalam kehidupan masyarakat Kabupaten Malang kembali digelorakan melalui kegiatan bersama warga dan pemerintah desa di Kecamatan Wajak. 

Paguyuban Amartya Bhumi Kepanjian merespon positif dan terus mendorong untuk terus menggali potensi budaya sekaligus mamajukan kreativitas masyarakat.

Anggota DPRD Kabupaten Malang dari fraksi PDIP, Tantri Baroroh, kala menghadiri agenda paguyuban tersebut menilai bahwa pelestarian budaya harus berjalan seiring dengan perubahan zaman. 

Menurutnya, mendong yang dahulu akrab dalam kehidupan masyarakat desa kini mulai jarang ditemui karena perkembangan era modern.

“Sejak kecil, di daerah perbatasan selalu ditanami mendong. Namun, semakin ke sini mendong makin jarang ditemui karena perubahan zaman,” ujar Tantri Baroroh, Selasa (23/9/2025).

Ia menegaskan, agar budaya anyaman baik dari bahan dasar bambu dan mendong tetap relevan, perlu ada sentuhan baru yang menyesuaikan dengan kebutuhan masa kini. 

Inovasi dan modifikasi dianggap penting untuk menjaga keberlanjutan budaya sekaligus memberi nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.

“Karena itu, mari kita gali kembali budaya anyaman mendong ini dengan sentuhan modifikasi sesuai era sekarang. Yang abadi itu adalah perubahan, dan kita harus mengikutinya dengan norma yang tepat,” tambahnya.

Kegiatan yang dipusatkan di Desa Patani Mendong, lokasi pengrajin bambu dan mendong, juga menekankan pentingnya inovasi pemasaran.

Sementara Ketua Paguyuban Amartya Bhumi Kepanjian, Gunawan, menyebutkan bahwa pengembangan produk kreatif harus disertai hilirisasi agar berdampak pada perekonomian lokal.

“Anyaman mendong ini bukan hanya sekadar budaya, tetapi punya nilai manfaat. Untuk itu perlu terus inovasi, terutama dalam pemasaran, supaya pergerakan ekonomi masyarakat juga berjalan,” terang Gunawan.

Menurutnya, keunikan mendong dan anyaman bambu di Wajak bisa menjadi identitas daerah yang berbeda sekaligus mendorong kemandirian ekonomi berbasis budaya. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow