BNPB: 1.211 KK Terisolir Akibat Banjir Lahar Dingin Semeru, Warga Diimbau Tetap Waspada
Hujan berintensitas tinggi memicu banjir lahar hujan atau lahar dingin dari Gunung Semeru menyebabkan dua desa di Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, terendam material vulkanik.
LUMAJANG, SJP - Banjir lahar dingin di Lumajang yang dipicu tingginya curah hujan di kawasan puncak Gunung Semeru akhirnya surut. Dampak banjir lahar dingin ini, warga terisolasi dan merendam lahan pertanian. Mengingat curah hujan diprediksi masih tinggi, warga yang bermukim di jalur lahar diminta untuk meningkatkan kewaspadaannya, meski banjir mulai surut.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan bahwa pihaknya terus memantau perkembangan situasi bersama BPBD Kabupaten Lumajang dan Pusdalops BNPB.
“Kondisi banjir memang sudah berangsur surut, namun kami mengingatkan masyarakat agar tetap waspada. Potensi lahar dingin masih bisa terjadi jika hujan deras turun di hulu sungai yang berhulu di Semeru,” ujar Abdul Muhari dalam siaran pers yang diterima Suara Jatim Post, Kamis (6/11/2025) malam.
Hujan berintensitas tinggi memicu banjir lahar hujan atau lahar dingin dari Gunung Semeru pada Rabu (5/11) sekitar pukul 14.00 WIB. Aliran lahar mengarah ke kawasan Gunung Sawur, perbukitan di kaki Semeru, dan menyebabkan dua desa di Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, terendam material vulkanik.
Dua desa yang terdampak yakni Desa Gondoruso dan Desa Bades. Akibat kejadian ini, 1.211 kepala keluarga (KK) sempat terisolir karena akses jalan utama tertutup material banjir. Selain itu, dua unit dump truk terjebak, dan sekitar 30 hektare lahan pertanian warga ikut terdampak.
Ia menegaskan bahwa pergerakan material vulkanik dari Gunung Semeru masih cukup tinggi, terutama di kawasan lereng dan sepanjang aliran sungai. Karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak beraktivitas di sekitar bantaran sungai saat hujan deras.
“BNPB mengimbau warga selalu memperbarui informasi resmi dari BPBD setempat dan PVMBG. Jangan menyeberang atau berada di dekat aliran sungai saat cuaca ekstrem,” tegasnya.
Sementara itu, BPBD Kabupaten Lumajang telah berkoordinasi dengan PUSDA Jawa Timur UPT Lumajang, Forkopimca Pasirian, dan perangkat desa untuk mempercepat asesmen dan penanganan di lokasi terdampak. Tim Reaksi Cepat (TRC) juga diterjunkan untuk membantu warga menyeberang dan memastikan jalur logistik tetap terbuka.
Pemerintah Kabupaten Lumajang telah menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Alam Banjir dan Tanah Longsor melalui Surat Keputusan Bupati Lumajang Nomor 100.3.3.2/550/KEP/427.12/2025, yang berlaku selama tujuh hari sejak 5 hingga 11 November 2025.
Laporan terakhir menyebutkan, kondisi banjir mulai surut dan sebagian besar warga yang sebelumnya terisolir kini dapat dijangkau melalui jalur darurat. Namun tim gabungan masih bersiaga untuk mengantisipasi hujan susulan di kawasan hulu Semeru.
What's Your Reaction?

