Aksi Hari AIDS Sedunia di Tulungagung , Soroti Lonjakan Kasus hingga 4.350 Orang

Dari 4.350 Orang dengan HIV-AIDS (ODHA) yang tercatat sejak 2006, sekitar 1.000 orang telah meninggal dunia, sementara 1.300 orang masih aktif menjalani terapi antiretroviral (ARV).

01 Dec 2025 - 15:30
Aksi Hari AIDS Sedunia di Tulungagung , Soroti Lonjakan Kasus hingga 4.350 Orang
Aktivis HIV-AIDS Tulungagung lakukan sosialisasi di jalan dalam rangka memperingati Hari Aids Sedunia di Tulungagung. (Beny/SJP)

TULUNGAGUNG, SJP — Ratusan pegiat HIV (Human Immunodeficiency Virus) - AIDS (Acquired Immuno-Deficiency Syndrome) di Tulungagung menggelar aksi simpatik di Bundaran Tugu Reog Kendang, Senin (1/12/2025) pagi, dalam rangka memperingati Hari AIDS Sedunia. 

Aksi ini menyoroti situasi epidemi HIV-AIDS di Tulungagung yang memprihatinkan, dengan total kasus kumulatif yang telah mencapai 4.350 kasus sejak 2006.

Aksi yang diinisiasi oleh Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) dan Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat ini diawali dengan berjalan kaki menuju Alun-Alun, membawa spanduk bertema nasional, "Bersama Hadapi Perubahan: Jaga Berkelanjutan Layanan HIV." Para peserta membagikan mawar merah dan brosur edukasi kepada pengguna jalan sebagai simbol ajakan peduli terhadap deteksi dini dan pencegahan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Tulungagung, Desi Lusiana Wardani, mengungkapkan data akumulatif yang mengejutkan. 

Dari 4.350 Orang dengan HIV-AIDS (ODHA) yang tercatat sejak 2006, sekitar 1.000 orang telah meninggal dunia, sementara 1.300 orang masih aktif menjalani terapi antiretroviral (ARV).

Desi mengakui bahwa temuan kasus baru setiap tahunnya masih stagnan di kisaran 350 hingga 400 kasus.

"Angka ini stabil karena kita masih dalam proses mencairkan gunung es, yaitu menemukan kasus sebanyak mungkin agar segera diobati," jelas Desi. 

Ia menegaskan upaya penemuan kasus secara masif diperlukan untuk memutus rantai penularan sedini mungkin.

Desi juga menyoroti adanya pergeseran signifikan dalam pola penyebaran virus. Jika pada masa lalu kasus banyak terdeteksi pada populasi kunci seperti pekerja seks atau pengguna narkoba suntik, kini penularan telah bergeser ke kelompok usia remaja dan, yang paling memprihatinkan, ibu rumah tangga. 

"Pergeseran ini memprihatinkan. Ibu rumah tangga kini menjadi kelompok kedua terbanyak karena tertular dari pasangan. Ini juga meningkatkan risiko penularan ke anak karena mayoritas berada di usia produktif," imbuh Desi.

Dinkes menilai pendidikan kesehatan seksual sejak usia remaja merupakan langkah krusial untuk mencegah lonjakan kasus di masa depan, seiring dengan upaya menjaga konsistensi layanan dan terapi ARV bagi para ODHA.

Sekretaris KPA Tulungagung, Ifada Nur Rohmaniah, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan bagian dari upaya berkelanjutan untuk membangun kesadaran dan menghapus stigma.

"Ini aksi yang kita lakukan setiap tahun. Bukan seremonial, tapi pengingat agar masyarakat yang berisiko segera tes HIV," ujar Ifada. 

Ia menekankan pentingnya edukasi bagi ODHA agar terus menjalani terapi ARV dan mendorong afirmasi positif menuju "Tulungagung tanpa stigma."

Aksi Hari AIDS Sedunia ini menjadi momentum penting bagi Tulungagung untuk memperkuat kolaborasi multisektor demi meningkatkan deteksi dini, memastikan pengobatan yang berkelanjutan, dan mengakhiri stigma yang masih menyelimuti ODHA. (*) 

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow