Robot Anjing Karya ITS Siap Gantikan Manusia di Area Berbahaya, Mampu Dikendalikan dari Ribuan Kilometer
RoboDog ITS dilengkapi kamera dan sensor LiDAR yang memungkinkan robot memetakan lingkungan, mendeteksi objek, serta mengidentifikasi potensi bahaya secara langsung.
SURABAYA, SJP — Tidak semua pekerjaan aman dilakukan manusia. Inspeksi kilang minyak, pemantauan area bencana, hingga pemeriksaan lokasi dengan potensi bahaya tinggi kerap mempertaruhkan keselamatan dan tidak jarang memakan korban jiwa.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) memperkenalkan RoboDog, robot anjing otonom berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dapat dikendalikan dari jarak ribuan kilometer dan dirancang untuk menjalankan tugas di lingkungan berisiko tinggi.
Inovasi itu pertama kali diperkenalkan di AI-RAN Research Center, Surabaya, Sabtu (28/2/2026), melalui kolaborasi ITS bersama Indosat Ooredoo Hutchison (IOH), Nokia, dan NVIDIA.
Sinergi tersebut menggabungkan kekuatan robotika, jaringan 5G, dan komputasi AI mutakhir untuk menghadirkan robot otonom yang mampu memahami perintah manusia dan merespons kondisi lingkungan secara real time.
Perwakilan pengembang RoboDog ITS, Yuke Brilliant Hestiavin, menjelaskan bahwa robot ini dirancang tidak sekadar bergerak berdasarkan perintah manual, tetapi mampu memahami instruksi berbasis suara manusia dan membaca situasi di sekitarnya melalui sensor canggih.
“Kemampuan ini dapat dikendalikan dalam jarak ribuan kilometer,” ungkap Yuke saat dikonfirmasi pada Selasa (3/3/2026).
Ia menjelaskan, RoboDog dilengkapi kamera dan sensor LiDAR yang memungkinkan robot memetakan lingkungan, mendeteksi objek, serta mengidentifikasi potensi bahaya secara langsung. Dengan kemampuan tersebut, robot dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan industri, terutama pada sektor yang memiliki risiko tinggi terhadap keselamatan manusia.
Dalam demonstrasi yang dilakukan, RoboDog yang berada di Surabaya berhasil menerima perintah suara dari pengguna di Barcelona, Spanyol. Robot kemudian menjalankan instruksi untuk memeriksa kondisi suatu lokasi, memastikan keamanan area, serta mendeteksi kemungkinan aktivitas mencurigakan.
Kemampuan tersebut menunjukkan bahwa robot dapat dioperasikan secara global tanpa operator harus berada di lokasi berbahaya. Mahasiswa Departemen Teknik Komputer ITS tersebut menilai, kemampuan robot memahami konteks dan situasi menjadi keunggulan utama dalam implementasi di dunia industri modern.
“Robot ini aplikatif untuk industri yang berisiko tinggi bagi manusia,” ujarnya.
Di balik kemampuan kendali jarak jauh tersebut, teknologi Artificial Intelligence Radio Access Network (AI-RAN) yang dikembangkan IOH menjadi fondasi utama sistem. Teknologi itu memungkinkan perintah yang dikirim dari lokasi jauh dapat diproses dan diterjemahkan menjadi aksi robot secara cepat melalui jaringan 5G.
VP Head of Technology Strategy & Partnership Management IOH, Irwan Radius, menjelaskan bahwa integrasi AI dengan jaringan telekomunikasi menjadi terobosan penting dalam pengembangan robotika otonom.
“Teknologi ini memungkinkan sinkronisasi antara pusat pemantauan di Spanyol dan robot di Surabaya dengan jeda sangat rendah,” jelas Irwan.
Ia menambahkan, pendekatan AI-RAN mengubah fungsi jaringan telekomunikasi dari sekadar jalur transmisi data menjadi pusat pemrosesan kecerdasan buatan. Dengan demikian, robot dapat merespons perintah dengan latensi sangat rendah, yang menjadi syarat utama bagi pengoperasian robot dan drone otonom secara aman dan efektif.
“Arsitektur ini memungkinkan latensi ultra-rendah yang dibutuhkan untuk pengembangan AI berbentuk fisik seperti robotika dan drone otonom,” paparnya.
Teknologi tersebut juga didukung infrastruktur jaringan 5G dari Nokia yang memastikan konektivitas stabil dan cepat, serta komputasi GPU dari NVIDIA yang memungkinkan pemrosesan AI dalam skala kompleks dan real time. ITS kemudian mengintegrasikan seluruh teknologi tersebut ke dalam sistem robotika yang siap dioperasikan di lapangan.
Ke depan, inovasi RoboDog tidak hanya menjadi bukti kemampuan teknologi nasional, tetapi juga akan diperkenalkan di panggung global melalui ajang Mobile World Congress 2026 yang digelar di Barcelona, Spanyol, pada Maret 2026 ini.
Partisipasi tersebut menjadi momentum penting untuk menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kapasitas dalam menciptakan teknologi robotika dan AI yang kompetitif di tingkat internasional.
Irwan berharap, kehadiran RoboDog dapat membuka peluang kolaborasi global sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai inovator teknologi.
“Semoga melalui forum internasional ini, inovasi anak bangsa semakin mendapat ruang dan peluang kolaborasi di kancah global,” tutupnya. (*)
Editor: Syaiful Aries
What's Your Reaction?

