Potensi Ekonomi Jawa Timur: Dari Industri Pengolahan hingga Peran Bank Daerah

Kontribusi PDRB Jatim terhadap PDB nasional ini berpotensi untuk terus meningkat, mengingat ruang pertumbuhan ekonomi di Jatim masih sangat luas.

13 Mar 2025 - 22:09
Potensi Ekonomi Jawa Timur: Dari Industri Pengolahan hingga Peran Bank Daerah
Sunarsip Chieft Economist, The Indonesia Economic Intelligence. (Foto: humas bankjatim/SJP)

SURABAYA, SJP - Provinsi Jawa Timur (Jatim) memiliki pengaruh besar terhadap perekonomian nasional. Hal ini terlihat dari kontribusi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jatim yang mencapai 14,82 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, menjadikannya sebagai kontribusi terbesar kedua setelah DKI Jakarta.

Kontribusi PDRB Jatim terhadap PDB nasional ini berpotensi terus meningkat, mengingat ruang pertumbuhan ekonomi di Jatim masih sangat luas.

Mengapa demikian? Pertama, industrialisasi di Jatim terus berkembang. Hal ini terlihat dari kontribusi sektor industri pengolahan yang semakin signifikan.

Saat ini, kontribusi sektor industri pengolahan terhadap PDRB Jatim mencapai hampir 31 persen atau meningkat hampir 2 persen dibandingkan 15 tahun lalu.

Di sisi lain, Jatim memiliki kapasitas kewilayahan dan didukung oleh sumber daya alam (SDA) serta sumber daya manusia (SDM) yang cukup. Hal itu memberi peluang besar bagi industrialisasi untuk terus berkembang. Salah satunya melalui hilirisasi SDA berbasis pertanian, kelautan, dan mineral.

Kedua, karakteristik industrialisasi di Jatim relatif berbeda dibandingkan dengan daerah lain yang lebih dahulu memulai industrialisasi. Seperti Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.

Industrialisasi di Jakarta, misalnya, telah memasuki periode 'sunset' karena kontribusi sektor industri pengolahan terhadap PDRB Jakarta sudah jauh berkurang.

Sementara itu, gejala de-industrialisasi secara nasional dalam 20 tahun terakhir lebih banyak terjadi di Jawa Barat dan Banten. Sebagai daerah yang menjadi pelopor industrialisasi Indonesia, banyak industri yang berkembang di sana bergantung pada substitusi impor dan memiliki ketergantungan tinggi pada impor bahan baku.

Pada awal pengembangannya, industri ini banyak mendapatkan fasilitas dan insentif dari pemerintah. Namun, setelah fasilitas dan insentif tersebut dicabut pada awal 2000-an, ditambah dengan pelemahan nilai tukar rupiah, daya tahan industri tersebut mulai menurun. Akhirnya menyebabkan banyak pabrik tutup di Indonesia.

Berbeda dengan itu, struktur industri di Jatim lebih didominasi oleh sektor manufaktur yang menghasilkan produk konsumer (barang konsumsi). Seperti makanan dan minuman yang mengandalkan bahan baku lokal. Baik dari Jatim maupun dari daerah lainnya.

Industri lainnya, seperti pengolahan kayu, bahan galian, logam dasar, serta industri kimia dan farmasi, turut menyumbang peran besar.

Dengan karakteristik tersebut, manufaktur di Jatim memiliki daya tahan yang relatif lebih kuat terhadap gejolak eksternal. Sebagian besar produk manufaktur Jatim juga diekspor ke pasar Asia yang menguatkan kinerja sektor manufaktur di Jatim dan memperkokoh perannya dalam PDRB.

Meskipun kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB Jatim mengalami penurunan, sektor ini tetap memiliki peran vital sebagai penyedia kebutuhan pangan dan bahan baku bagi sektor industri pengolahan. Baik di Jatim maupun secara nasional. Pada 2024, kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB Jatim tercatat sebesar 10,66 persen.

Jatim merupakan salah satu lumbung pangan terbesar di Indonesia. Baik untuk produk pertanian pangan, perikanan, maupun peternakan. Selain untuk memenuhi kebutuhan pangan domestik, hasil pertanian Jatim juga diekspor ke daerah lain. Seperti DKI Jakarta dan luar Jawa.

Selain sektor industri pengolahan dan pertanian, sektor perdagangan juga menjadi penopang penting bagi perekonomian Jatim. Pada tahun 2024, kontribusi sektor perdagangan terhadap PDRB Jatim tercatat sebesar 18,81 persen.

Tingginya kontribusi sektor perdagangan ini sebagian besar disebabkan oleh potensi bisnis yang besar. Baik untuk perdagangan domestik, maupun ekspor yang didorong oleh soliditas sektor industri pengolahan dan pertanian.

Seiring dengan kinerja yang solid dari ketiga sektor utama tersebut, permintaan terhadap sektor konstruksi di Jatim juga meningkat. 

Sebab, sektor konstruksi diperlukan untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur konektivitas, pertanian, perumahan, kawasan industri dan perdagangan, serta pariwisata. 

Karena itu, tidak mengherankan jika kontribusi sektor konstruksi terhadap PDRB Jatim tetap terjaga pada level yang relatif tinggi, sekitar 9 persen pada 2024.

Peran Bank Daerah 

Seperti yang telah disebutkan, Provinsi Jatim memiliki potensi besar untuk berkembang dengan kontribusi sektor industri pengolahan yang semakin besar. Potensi ini didukung oleh berbagai keunggulan yang dimiliki oleh Jatim.

Pertama, Jatim memiliki banyak lokasi strategis yang dapat dikembangkan menjadi kawasan industri terintegrasi (integrated industrial park), baik untuk mengolah SDA dari Jatim maupun luar Jatim.

Kedua, infrastruktur yang mendukung. Seperti jalan tol Trans-Jawa, infrastruktur energi dan air yang memadai, transportasi darat seperti kereta api, fasilitas pergudangan, pelabuhan, dan bandara, turut memberikan keuntungan bagi perkembangan industri di Jatim.

Ketiga, akses terhadap pendanaan yang besar. Seluruh lembaga keuangan besar beroperasi di Jatim, di samping lembaga keuangan milik pemerintah daerah seperti Bank Jatim Tbk yang turut mendukung pembiayaan industrialisasi dan transaksi ekspor-impor.

Keempat, Jatim memiliki tenaga kerja andal yang memadai. Kelima, Jatim juga memiliki pusat riset dan inovasi yang kuat dengan banyak perguruan tinggi yang diakui secara internasional di bidang riset dan inovasi. 

Selain itu, Jatim juga memiliki beberapa industri dan BUMN strategis yang dapat menjadi mitra dalam pengembangan inovasi dan produk manufaktur.

Keenam, selain potensi ekspor produk manufaktur, Jatim memiliki pasar domestik yang besar dengan jumlah penduduk terbesar kedua di Indonesia. Produk manufaktur Jatim juga dapat dipasarkan ke daerah lain.

Ketujuh, Jatim memiliki dukungan input (bahan baku) yang besar. Terutama dari sektor pertanian yang menjadi bahan baku bagi berbagai produk agroindustri.

Dengan infrastruktur dan jalur transportasi yang lengkap, Jatim juga dapat mengakses bahan baku dari luar daerah yang turut memberikan dampak positif bagi wilayah-wilayah tersebut.

Mengingat besarnya potensi pengembangan ekonomi di Jatim, keterlibatan lembaga keuangan, khususnya perbankan, sangat vital untuk mendukung kemajuan ekonomi daerah ini.

Sejauh ini, pembiayaan usaha di Jatim tidak hanya dipenuhi oleh bank-bank yang berlokasi di Jatim, tetapi juga oleh bank-bank dari luar Jatim. Berdasarkan data Bank Indonesia, total pembiayaan di Jatim pada Desember 2024 mencapai Rp 732,5 triliun.

Dari jumlah tersebut, sekitar 83,9 persen, yaitu Rp 614,7 triliun, dipenuhi oleh perbankan yang berlokasi di Jatim. Sedangkan sisanya, Rp 117,8 triliun (sekitar 16,1 persen), dipenuhi oleh bank-bank dari luar Jatim. Hal ini menunjukkan bahwa Jatim memiliki potensi besar bagi pengembangan ekonomi di mata perbankan nasional.

Bank Jatim juga menunjukkan peran yang semakin besar dalam pembiayaan usaha di Jatim. Pada November 2024, kontribusi kredit Bank Jatim mencapai 8,9 persen dari total kredit yang disalurkan oleh perbankan di Jatim, sebuah angka yang terus meningkat dari 6,0 persen pada 2018. (lihat gambar).

Kenaikan kontribusi kredit Bank Jatim ini didorong oleh pertumbuhan kredit yang relatif tinggi. Pada Desember 2024, kredit di Jatim tercatat tumbuh 5,45 persen (yoy). Sedangkan pada Januari 2025, kredit Bank Jatim Tbk tumbuh sebesar 18,06 persen, jauh di atas rata-rata pertumbuhan kredit industri di Jatim. Hal ini juga didukung oleh komposisi pendanaan yang sehat.

Bank Jatim menguasai 11,30 persen dari dana pihak ketiga (DPK) di perbankan Jatim pada November 2024, meningkat dari 9,0 persen pada 2018. Mayoritas DPK yang diperoleh Bank Jatim adalah dana berbiaya murah yang mencakup giro dan tabungan, yang mencapai 54,6 persen.

Dari sini terlihat adanya hubungan yang kuat antara perkembangan ekonomi di Jatim dan kinerja Bank Jatim. Fokus bisnis Bank Jatim pada sektor ritel, mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sejalan dengan komitmen pemda di Jatim untuk mendukung sektor-sektor tersebut. 

Kendati demikian, Jatim juga memiliki potensi besar untuk berkembang di sektor usaha besar. Baik di sektor manufaktur, maupun sektor penunjang lainnya.

Oleh karena itu, Bank Jatim perlu memperkuat peranannya dalam industri perbankan di Jatim, sekaligus memanfaatkan peluang bisnis baru yang muncul. Penguatan kapasitas dalam pendanaan dan pembiayaan juga perlu dipersiapkan dengan baik. 

Untuk itu, Jatim memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Terutama di sektor manufaktur. Selain sebagai pusat manufaktur berbasis pertanian (agroindustri), Jatim juga memiliki potensi sebagai pusat manufaktur berbasis SDA lainnya yang menjadi keunggulan daerah lain.

Dengan memanfaatkan potensi tersebut, Jatim berpotensi memperoleh nilai tambah yang signifikan. Seperti peningkatan PDRB, lapangan kerja, pendapatan daerah, dan berkembangnya UMKM. Jika potensi ini dioptimalkan, Jatim dapat menjadi pusat industri terbesar di Indonesia, menggeser wilayah barat yang kini terdampak oleh deindustrialisasi. (***)

Editor: Ali Wafa

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow