Perajin Batik di Blitar Ramaikan Ramadan dengan Sarung Aneka Motif
Permintaan sarung batik saat Ramadan cenderung meningkat. Tidak hanya dari lokal Blitar, permintaan datang dari berbagai daerah
BLITAR, SJP - Ramadan merupakan bulan penuh sukacita bagi umat muslim di seluruh dunia. Ramadan dipercayai sebagai bulan penuh berkah. Setiap orang akan memperbanyak ibadah dan berbuat kebajikan di bulan ini.
Tak hanya itu, bulan Ramadan juga menjadi momentum yang tepat untuk menghasilkan karya inovatif dan kreatif. Salah satu contohnya, di Blitar ada seorang pembatik yang berkreasi dengan membuat sarung bermotif batik.
Biasanya motif sarung yang dijual di pasaran yaitu motif floral, geometris, abstrak, songket, tenun dan lain sebagainya.
Binti Cholifah, pemilik Batik Selo Putri asal Desa Tumpang, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar mengatakan, sarung batik yang dia produksi memiliki nilai filosofis dan corak yang khas.
Motif sarung batik yang dia produksi juga menarik dan berdasarkan pada kearifan lokal yang ada di daerah setempat.
"Biasanya, kami memproduksi batik tulis, batik cap, suvenir, blangkon dan lainnya. Khusus di bulan Ramadan ini, kami memproduksi sarung batik," ucapnya, Ahad (2/3/2025).
Pada momentum Ramadan perajin Batik Selo Putri mendapatkan banyak permintaan sarung motif batik. Umumnya pesanan datang dari lokal Blitar. Termasuk dari instansi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar.
Namun, banyak pula pesanan dari luar Blitar. seperti dari Malang, Tulungagung dan sekitarnya.
Sarung batik yang diproduksi Binti Cholifah ini biasanya dipesan untuk keperluan ibadah Ramadan hingga lebaran. Harganya berkisar Rp200.000.
"Kalau Ramadan seperti saat ini pesanan meningkat sekitar 10 sampai 20 persen dibandingkan dengan hari-hari biasa. Termasuk, produk kami terbaru sarung bermotif batik," ujarnya.
Perempuan yang akrab disapa Binti ini menjelaskan, ada beberapa tahapan dalam pembuatan batik. Mulai dari merancang pola, menggambar motif, mewarnai, menghilangkan lilin, hingga mengeringkan kain.
Seiring berkembangnya waktu, batik tidak hanya digunakan sebagai pakaian saja, tetapi juga digunakan menjadi bahan kerajinan. Seperti tas, suvenir, sarung dan sebagainya.
Dia menyebut, ada dua jenis batik yang dia produksi. Pertama, pembuatan batik dengan canting, disebut dengan batik tulis. Kedua, batik yang dibuat menggunakan alat cap disebut batik cap.
"Biasanya, batik itu hanya dipakai untuk pakaian saja. Tapi sekarang sudah berkembang. Misal dibuat untuk sarung, blangkon dan suvenir lainnya," terang dia.
Binti mulai menggeluti usaha ini sejak tahun 2019 lalu. Dia mengawalnya dengan mengikuti pelatihan kewirausahaan di tahun 2020. Dia mencoba membuka usaha sendiri dibantu oleh suaminya.
Dia bekerja keras dengan disiplin yang tinggi. Dia menerapkan ilmu yang dipelajari. Binti bersama sang suami berupaya mengembangkan potensi yang ada. Hingga akhirnya seni batik yang dia produksi dikenal masyarakat luas. (*)
Editor: Ali Wafa
What's Your Reaction?

